Senin, 13 Juli 2020

Menjalani Toxic Relationship


Perkenalan saya dengannya terjadi sekitar tahun 2008. Setelah mendengar pendapat orang, berpindah-pindah sekaligus mencoba untuk mencari yang tepat, mungkin di saat itulah akhirnya saya merasakan apa itu jatuh cinta. Umur 8 tahun bukanlah umur yang matang untuk merasakan hal itu. Melihat dia untuk pertama kalinya terus terang memang membuat saya terkesima. Namun tidak seperti "jatuh cinta" orang kebanyakan, apa yang saya rasa justru tak bertahan lama, hingga akhirnya hubungan saya dengannya berlalu begitu saja.

Empat tahun berpisah, entah bagaimana alam semesta bekerja, kami dipertemukan kembali. Empat tahun bukan waktu yang cepat, pun bukan waktu yang lama. Namun saya rasa empat tahun adalah waktu yang cukup untuk masing-masing kami tumbuh. Saya masih ingat bagaimana malam itu dia benar-benar berhasil membuat saya cengar-cengir tak karuan, hingga menjelang tidur pun, saya bertekad untuk terus bersamanya dan terus menjaganya apapun yang terjadi.

Hari demi hari kami lewati, akhir pekan menjadi waktu yang sangat saya nanti. Walau terkadang, pertemuan dengannya tak berujung menyenangkan. Tak jarang sehabis bertemu dengannya mood saya turun drastis, apa yang dia lakukan tidak seperti yang saya bayangkan saat dalam perjalanan untuk menyambutnya. Satu hal yang saya pelajari bahwa benar, akhirnya yang membunuh kita adalah ekspektasi kita sendiri. Satu tahun bersamanya benar-benar berjalan bak rollercoaster, terlalu banyak cobaan ditahun pertama kami bersama. Merayakan apa yang dikatakan banyak orang sebagai "Anniversary" rasanya hampa, biasa-biasa saja. Selang setahun kemudian barulah semua berubah menjadi lebih baik. Kami perlahan bisa mengerti satu sama lain, mulai menurunkan ego masing-masing, hingga akhirnya di malam itu, malam yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sabtu, 17 Mei 2014. Dia benar-benar membuktikan siapa dia sebenarnya, apa yang dia lakukan tak hanya membuat saya haru namun juga berhasil membuat banyak orang diam dan mulai mengakui keberadannya kembali. Malam itu saya rasa, saya adalah orang yang paling bahagia.

Setahun kemudian, sejak kejadian di malam itu, dia kembali melakukan hal yang sama. Merayakan hubungan kami yang ketiga dengan penuh gelak tawa dan canda. Tidak seperti tahun lalu yang benar-benar di titik tertinggi sebuah perayaan, tahun ini saya namakan menjadi tahun "seattle" dimana kebahagiaan adalah hal yang sudah sering kami dapatkan dan sudah seharusnya seperti itu.

Memasuki tahun keempat, hubungan kami seperti laut yang sedang surut, banyak hampanya. Memang, sesekali ada momen yang membuat hubungan ini terasa membaik namun hal itu tak berlangsung lama. Waktu terus berjalan hingga kami berhasil membawa hubungan sampai usia kelima. Kami merayakan malam itu dengan makan malam sederhana sambil bercerita tentang 5 tahun perjalanan kami bersama. Terima kasih dan maaf menjadi kata yang sangat sering keluar dari mulut kami. Setelah itu kami mencoba lebih baik lagi dan mempertahankan hubungan ini sekuat diri.

Menginjak tahun keenam semua berubah drastis, terjun bebas! Bahkan kami sudah jarang berkomunikasi, hanya saja sesekali mencari tahu apakah baik-baik saja atau sedang ada masalah. Cukup, hanya sebatas itu. Hingga memasuki tahun ketujuh hubungan tak kunjung membaik, sesekali berjumpa namun yang didapat justru kekecewaan. Hubungan ini seperti jalan ditempat. Bahkan, yang saya rasakan justru banyak dukanya ketimbang bahagianya.

Tibalah saya sekarang menginjak usia 8 tahun, menjalani hubungan yang sudah cukup lama atau bahkan kadaluarsa (?), saya mulai menyadari bahwa hubungan ini sudah mulai tidak sehat. Terlalu banyak kesakitan yang saya rasa, dan itu benar-benar menganggu saya. Mencoba intens dengan bertemu tiap malam minggu namun yang didapat justru kekecewaan. Mencoba baik padanya, yang dia tampilkan justru sikap yang seringkali membuat saya geram, mencoba tidak peduli, namun saya tetap ingin tahu bagaimana hari-harinya. Bahkan dipuncak amarah dan kecewa saya, saya tak tau harus berbuat apa. Tiap kali saya ingin lepas darinya rasanya sulit sekali. Dan ya, saya rasa saya sudah terjebak dalam toxic relationship.

Entah bagaimana ini berakhir saya pun tidak tahu. Semoga saya bisa menemukan dia kembali, dia yang saya kenal saat pertama kali menampilkan senyum anggunnya. Toh; "Bila kita menghitung untung-rugi, cinta dan dukungan kita tak kan lagi murni", bukan?

You can change your wife. You can change your politics. You can change your religion. But never, never can change your favorite football team” -Eric Cantona.

Karena cinta memang kadang tak bisa diterima akal sehat, bahkan seringkali mengalahkan logika. Selamat malam Arsenal! Mari, kita lihat seberapa lama kita bisa bertahan.

1 komentar: