Minggu, 11 Juli 2021

Ada Yang Mau Pulang

Sejauh apapun seorang tualang melakukan petualangan pada akhirnya rumah adalah tempat dimana ia akan pulang. Begitu juga dengan sepakbola. Yap, bisa dibilang 4 tahun kebelakang kepercayaan diri fans The Three Lions memang sedang tinggi-tingginya. 2 tahun lalu, tepatnya di Russia, anak asuh Gareth Southgate ini tampil hingga babak semifinal di ajang pesta 4 tahunan sepakbola terbesar di dunia kala itu. Dan kini, di ajang Euro 2020 yang dimainkan di tahun 2021 karena adanya pandemi yang tak kunjung henti, untuk pertama kalinya mereka tiba di babak final setelah penalti Harry Kane di babak extra-time memastikan bahwa pesta kali ini mungkin memang milik “Sang Nenek Moyang” sepakbola.

Sempat diragukan di fase grup karena main yang tidak jelas, (termasuk saya sebagai fans), Inggris mampu menepis semua keraguan itu dengan menghajar Jerman 2-0 tanpa balas di babak 16 besar. Kemenangan yang amat berarti untuk Inggris. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama sepanjang sejarah melawan musuh bebuyutannya di Major Tournament. “Ah! Sepertinya ini memang tahunnya”, ujar saya dalam hati saat perjalanan menuju kamar seusai nobar dengan kawan-kawan di kantor. Selang beberapa hari, Inggris bertemu Ukraina di babak 8 besar, hasilnya? Bukan suatu masalah berarti. Ukraina dllibas 4 gol tanpa balas. Terus terang saya pun sudah memprediksinya bahwa ini bukanlah ganjalan yang besar, Inggris akan melaju mulus ke babak semifinal.

Dalam hidup, kita semua memang selalu suka dengan fairytale, dengan underdog yang secara mengejutkan membunuh raksasa. Contohnya? Ya coba lihat saja berapa banyak orang yang mendukung Dewa Kipas saat pertarungannya melawan GM Irene yang disiarkan langsung oleh Bapak Deddy Cahyadi di kanal youtube-nya. Padahal kalau dipikir lagi, ya, orang waras mana sih yang ngebela bapak-bapak out of nowhere ketika ditantang orang yang mungkin kalau sedang tidurpun mimpinya main catur. Begitu pula dengan babak semifinal saat Inggris harus berhadapan dengan Denmark. Di ajang Euro kali ini, tepatnya di matchday pertama, insiden mengerikan menimpa Timnas Denmark. Salah satu punggawa andalannya, Christian Eriksen mengalami collapse dan menjadi sorotan seluruh pecinta sepak bola dunia. Sontak semua orang sudah beranggapan kalau Denmark tidak akan melaju jauh setelah pemain kuncinya tersebut terpaksa meninggalkan tim lebih cepat. Ditambah pada laga itu dan laga selanjutnya meraih hasil minor yang menambah anggapan itu semakin kuat. Namun, ya, begitulah sepakbola menjawabnya. Siapa sangka rupanya Denmark berhasil melaju sampai babak semifinal dan menantang Inggris di kandangnya, Wembley Stadium.

Di semifinal sudah sangat jelas bahwa semua orang di belahan bumi mendukung Denmark dimana hal tersebut membuat para fans Inggris layaknya seorang public enemy. Semua berharap bahwa mereka dapat melaju ke partai puncak dan menjadikan hal tersebut kado indah untuk Eriksen. Memasuki menit ke-30, Damsgaard, pemain yang menggantikan pos yang ditinggalkan Eriksen merubah skor dengan mencetak gol cantik melalui tendangan bebas di hadapan 60 ribu pendukung Inggris yang memadati Wembley malam itu. Gol yang menyudahi keperawanan gawang Inggris selama 5 laga. Gol tersebut benar-benar membuat kami, para fans Inggris, mulai khawatir. Akankah seperti di Piala Dunia lalu? Dimana memang semifinal masih merupakan tempat terbaik bagi kami? Namun pemikiran itu terjawab tak berselang lama. Menerima umpan manis dari Harry Kane, Saka berniat untuk memberikan assist kepada Raheem Sterling. Siapa sangka, Kjaer, sang kapten kesebelasan Denmark, yang berniat menghentikan laju bola yang menuju ke arah gawangnya justru malah menceploskannya. Wembley bergemuruh. Papan skor berubah, kini kedudukan sama kuat.

Tibalah peluit panjang 90 menit dibunyikan. Skor tidak berubah dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan 2 x 15 menit. Di sinilah semua headline berita pagi muncul. Mencoba melakukan akselerasi di kotak penalti Denmark, Raheem Sterling mendapatkan sentuhan minim dari pemain belakang Denmark. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Pemain Denmark protes. Melihat hal itu, akhirnya wasit memutuskan untuk berdiskusi dengan wasit lainnya yang berada di balik kendali Video Assistant Referee (VAR). Tak berselang lama, akhirnya diputuskan juga. Yap, Inggris mendapatkan penalti. Harry Kane, sang algojo kala itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Walau sempat ditepis oleh Kasper Schmeichel, kiper dari Denmark, bola muntahan langsung disambar lagi olehnya. Skor berubah 2-1 untuk Inggris, lagu “It’s Coming Home” terdengar jelas dari arah tribun yang dinyanyikan oleh puluhan ribu supporter yang memadati Wembley malam itu. Skor bertahan hingga usai. Inggris memastikan langkahnya di babak final.

Kemenangan Inggris memang diwarnai dengan kontroversi. Penalti yang didapat dinilai terjadi akibat ulah Sterling yang melakukan diving (pura-pura jatuh). Hal itu menjadi buah bibir hampir oleh semua orang. Oke, saya akan berbicara secara objektif. Saya akui memang itu merupakan penalti hadiah. Sterling memang tidak dijatuhkan secara keras melainkan pura-pura jatuh. Tapi coba bayangkan, di sepak bola se-modern ini, dibantu oleh tayangan ulang video yang dapat dilihat oleh wasit dalam menentukan keputusan, Sterling tetap dianggap layak untuk mendapatkan penalti oleh sang pengadil. Hebat bukan? Lagian saya kadang kurang setuju dengan kata “keberuntungan itu jatuh dari langit”, karena saya percaya bahwa keberuntungan itu bisa diciptakan. Penalti yang didapat oleh Inggris merupakan buah dari apa yang mereka lakukan dengan menaikin garis permainannya sehingga memaksa hampir seluruh pemain Denmark berada di wilayahnya. Hasilnya? 8 pemain Denmark berada di dalam kotak penaltinya sendiri dan membuat Sterling mencoba peruntungannya. Sisanya ya yang seperti kita tahu.

Bicara tentang penalti yang kontroversi ini memang tidak ada habisnya. Tapi sebagai fans, sulit untuk objetif di saat seperti ini. Ah, lagian juga mungkin ini jawaban dari “kesialan” yang biasanya melekat di tubuh Timnas Inggris. Waktu Piala Dunia 2010, dimana gol Frank Lampard dianulir, fans Jerman tetap senang kan saat tim kesayangannya lolos ke 8 besar? Waktu tahun 1986 fans Argentina tetap pestapora kan saat Argentina keluar menjadi jawara walau di perempat final Gol Tangan Tuhan Maradona membuat Inggris pulang? Mau contoh lain? Oke boleh. Waktu Perancis lolos ke Piala Dunia 2010 berkat kemenangan melawan Irlandia yang dimana gol penentunya lahir dari handball Thierry Henry, kalian para fans juga senang minta ampun kan karena Sang Finalis akhirnya dapat berpartisipasi (walau dengan susah payah) di ajang tertinggi itu? Fans Barcelona apalagi, saat pertama kali meraih Treble Winner di 2009 juga pesta kan? Ingat tidak bahwasannya di babak semifinal wasit yang memimpin laga tersebut sangat menguntungkan tim kalian? Atau ga perlu jauh-jauh deh. Sebelum menghadapi Inggris di babak semifinal, Denmark terlebih dahulu menantang Ceko di babak 8 besar. Inget ga bahwa Delaney tidak akan mencetak gol yang mengantarkan Denmark ke babak semifinal andai wasit lebih jeli. Karena sepak pojok itu merupakan keputusan yang keliru. Lagian juga Inggris saat ini jadi serba salah. Menang dibilang, "Ya wajar aja menang orang hampir semua game nya main di kandang". Kalah juga ada argumen "Yah, masa udah jadi 'panitia turnamen' masih aja kalah". Yasudah lebih baik dituntaskan saja. Terlalu banyak orang yang menjadi pembenci Inggris. Tapi kalau saya boleh saran sih, stop lah menggunakan argumen-argumen seperti itu, usang. Argumen itu hanya keluar dari mulut seorang pecundang yang kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kecewanya. Sama seperti orang yang ditolak cintanya lalu dengan (sok) bijak berkata: "Cinta tidak harus memiliki". Cuih! Tai kucing!

Ya, begitulah sepakbola yang besar dengan segala kontroversinya. Semua tinggal menunggu waktu. Kapan kita diuntungkan, kapan kita yang menjadi korban. Dan setelah melanglang-buana, saya harap ini juga waktunya. Bahwa kita sepakat tidak ada yang lebih nyaman dari rumah. Walau kadang isinya menyebalkan tapi tak dapat dipungkiri bahwa tempat itu lah dimana kita berasal. Tempat itu lah dimana kita belajar banyak hal untuk pertama kalinya. Tempat itu lah dimana sangat banyak kenangan tercipta. Ditambah anjuran pemerintah akibat lonjakkan Covid-19 yang semakin tinggi, mungkin memang ini adalah waktu yang sangat tepat untuk tidak kemana-mana dan jauh lebih baik jika "di rumah saja". So, Football coming home! Isn’t it?