Sejauh apapun seorang tualang
melakukan petualangan pada akhirnya rumah adalah tempat dimana ia akan pulang. Begitu
juga dengan sepakbola. Yap, bisa dibilang 4 tahun kebelakang kepercayaan diri
fans The Three Lions memang sedang tinggi-tingginya. 2 tahun lalu,
tepatnya di Russia, anak asuh Gareth Southgate ini tampil hingga babak
semifinal di ajang pesta 4 tahunan sepakbola terbesar di dunia kala itu. Dan
kini, di ajang Euro 2020 yang dimainkan di tahun 2021 karena adanya pandemi
yang tak kunjung henti, untuk pertama kalinya mereka tiba di babak final setelah
penalti Harry Kane di babak extra-time memastikan bahwa pesta kali ini mungkin memang milik “Sang Nenek Moyang” sepakbola.
Sempat diragukan di fase grup karena
main yang tidak jelas, (termasuk saya sebagai fans), Inggris mampu menepis
semua keraguan itu dengan menghajar Jerman 2-0 tanpa balas di babak 16 besar.
Kemenangan yang amat berarti untuk Inggris. Kemenangan itu merupakan kemenangan
pertama sepanjang sejarah melawan musuh bebuyutannya di Major Tournament. “Ah!
Sepertinya ini memang tahunnya”, ujar saya dalam hati saat perjalanan menuju
kamar seusai nobar dengan kawan-kawan di kantor. Selang beberapa hari, Inggris
bertemu Ukraina di babak 8 besar, hasilnya? Bukan suatu masalah berarti.
Ukraina dllibas 4 gol tanpa balas. Terus terang saya pun sudah memprediksinya
bahwa ini bukanlah ganjalan yang besar, Inggris akan melaju mulus ke babak semifinal.
Dalam hidup, kita semua memang selalu
suka dengan fairytale, dengan underdog yang secara mengejutkan
membunuh raksasa. Contohnya? Ya coba lihat saja berapa banyak orang yang
mendukung Dewa Kipas saat pertarungannya melawan GM Irene yang disiarkan
langsung oleh Bapak Deddy Cahyadi di kanal youtube-nya. Padahal kalau dipikir
lagi, ya, orang waras mana sih yang ngebela bapak-bapak out of nowhere ketika
ditantang orang yang mungkin kalau sedang tidurpun mimpinya main catur. Begitu
pula dengan babak semifinal saat Inggris harus berhadapan dengan Denmark. Di
ajang Euro kali ini, tepatnya di matchday pertama, insiden mengerikan
menimpa Timnas Denmark. Salah satu punggawa andalannya, Christian Eriksen
mengalami collapse dan menjadi sorotan seluruh pecinta sepak bola dunia.
Sontak semua orang sudah beranggapan kalau Denmark tidak akan
melaju jauh setelah pemain kuncinya tersebut terpaksa meninggalkan tim lebih
cepat. Ditambah pada laga itu dan laga selanjutnya meraih hasil minor yang menambah anggapan itu semakin kuat. Namun, ya, begitulah sepakbola
menjawabnya. Siapa sangka rupanya Denmark berhasil melaju sampai babak semifinal
dan menantang Inggris di kandangnya, Wembley Stadium.
Di semifinal sudah sangat jelas bahwa
semua orang di belahan bumi mendukung Denmark dimana hal tersebut membuat para fans Inggris
layaknya seorang public enemy. Semua berharap bahwa mereka dapat melaju
ke partai puncak dan menjadikan hal tersebut kado indah untuk Eriksen. Memasuki menit ke-30, Damsgaard,
pemain yang menggantikan pos yang ditinggalkan Eriksen merubah skor dengan
mencetak gol cantik melalui tendangan bebas di hadapan 60 ribu pendukung
Inggris yang memadati Wembley malam itu. Gol yang menyudahi keperawanan gawang Inggris
selama 5 laga. Gol tersebut benar-benar membuat kami, para fans Inggris, mulai
khawatir. Akankah seperti di Piala Dunia lalu? Dimana memang semifinal masih
merupakan tempat terbaik bagi kami? Namun pemikiran itu terjawab tak berselang
lama. Menerima umpan manis dari Harry Kane, Saka berniat untuk memberikan assist
kepada Raheem Sterling. Siapa sangka, Kjaer, sang kapten kesebelasan
Denmark, yang berniat menghentikan laju bola yang menuju ke arah gawangnya
justru malah menceploskannya. Wembley bergemuruh. Papan skor berubah, kini
kedudukan sama kuat.
Tibalah peluit panjang 90 menit dibunyikan.
Skor tidak berubah dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan 2 x
15 menit. Di sinilah semua headline berita pagi muncul. Mencoba
melakukan akselerasi di kotak penalti Denmark, Raheem Sterling mendapatkan sentuhan
minim dari pemain belakang Denmark. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih.
Pemain Denmark protes. Melihat hal itu, akhirnya wasit memutuskan untuk
berdiskusi dengan wasit lainnya yang berada di balik kendali Video Assistant
Referee (VAR). Tak berselang lama, akhirnya diputuskan juga. Yap, Inggris
mendapatkan penalti. Harry Kane, sang algojo kala
itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Walau sempat ditepis oleh Kasper Schmeichel,
kiper dari Denmark, bola muntahan langsung disambar lagi olehnya. Skor berubah 2-1
untuk Inggris, lagu “It’s Coming Home” terdengar jelas dari arah tribun
yang dinyanyikan oleh puluhan ribu supporter yang memadati Wembley malam itu. Skor
bertahan hingga usai. Inggris memastikan langkahnya di babak final.
Kemenangan Inggris memang diwarnai dengan
kontroversi. Penalti yang didapat dinilai terjadi akibat ulah Sterling yang
melakukan diving (pura-pura jatuh). Hal itu menjadi buah bibir hampir oleh
semua orang. Oke, saya akan berbicara secara objektif. Saya akui memang itu
merupakan penalti hadiah. Sterling memang tidak dijatuhkan secara keras
melainkan pura-pura jatuh. Tapi coba bayangkan, di sepak bola se-modern ini,
dibantu oleh tayangan ulang video yang dapat dilihat oleh wasit dalam menentukan
keputusan, Sterling tetap dianggap layak untuk mendapatkan penalti oleh sang
pengadil. Hebat bukan? Lagian saya kadang kurang setuju dengan kata “keberuntungan
itu jatuh dari langit”, karena saya percaya bahwa keberuntungan itu bisa
diciptakan. Penalti yang didapat oleh Inggris merupakan buah dari apa yang
mereka lakukan dengan menaikin garis permainannya sehingga memaksa hampir
seluruh pemain Denmark berada di wilayahnya. Hasilnya? 8 pemain Denmark berada
di dalam kotak penaltinya sendiri dan membuat Sterling mencoba peruntungannya.
Sisanya ya yang seperti kita tahu.
Bicara tentang penalti yang
kontroversi ini memang tidak ada habisnya. Tapi sebagai fans, sulit untuk
objetif di saat seperti ini. Ah, lagian juga mungkin ini jawaban dari “kesialan”
yang biasanya melekat di tubuh Timnas Inggris. Waktu Piala Dunia 2010, dimana
gol Frank Lampard dianulir, fans Jerman tetap senang kan saat tim kesayangannya
lolos ke 8 besar? Waktu tahun 1986 fans Argentina tetap pestapora kan saat
Argentina keluar menjadi jawara walau di perempat final Gol Tangan Tuhan Maradona
membuat Inggris pulang? Mau contoh lain? Oke boleh. Waktu Perancis lolos ke Piala
Dunia 2010 berkat kemenangan melawan Irlandia yang dimana gol penentunya lahir
dari handball Thierry Henry, kalian para fans juga senang minta ampun
kan karena Sang Finalis akhirnya dapat berpartisipasi (walau dengan susah payah)
di ajang tertinggi itu? Fans Barcelona apalagi, saat pertama kali meraih Treble
Winner di 2009 juga pesta kan? Ingat tidak bahwasannya di babak semifinal
wasit yang memimpin laga tersebut sangat menguntungkan tim kalian? Atau ga
perlu jauh-jauh deh. Sebelum menghadapi Inggris di babak semifinal, Denmark terlebih
dahulu menantang Ceko di babak 8 besar. Inget ga bahwa Delaney tidak akan
mencetak gol yang mengantarkan Denmark ke babak semifinal andai wasit lebih
jeli. Karena sepak pojok itu merupakan keputusan yang keliru. Lagian juga Inggris saat ini jadi serba salah. Menang dibilang, "Ya wajar aja menang orang hampir semua game nya main di kandang". Kalah juga ada argumen "Yah, masa udah jadi 'panitia turnamen' masih aja kalah". Yasudah lebih baik dituntaskan saja. Terlalu banyak orang yang menjadi pembenci Inggris. Tapi kalau saya boleh saran sih, stop lah menggunakan argumen-argumen seperti itu, usang. Argumen itu hanya keluar dari mulut seorang pecundang yang kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kecewanya. Sama seperti orang yang ditolak cintanya lalu dengan (sok) bijak berkata: "Cinta tidak harus memiliki". Cuih! Tai kucing!
Ya, begitulah sepakbola yang besar dengan segala
kontroversinya. Semua tinggal menunggu waktu. Kapan kita diuntungkan, kapan
kita yang menjadi korban. Dan setelah melanglang-buana, saya harap ini juga
waktunya. Bahwa kita sepakat tidak ada yang lebih nyaman dari rumah. Walau
kadang isinya menyebalkan tapi tak dapat dipungkiri bahwa tempat itu lah dimana
kita berasal. Tempat itu lah dimana kita belajar banyak hal untuk pertama
kalinya. Tempat itu lah dimana sangat banyak kenangan tercipta. Ditambah
anjuran pemerintah akibat lonjakkan Covid-19 yang semakin tinggi, mungkin
memang ini adalah waktu yang sangat tepat untuk tidak kemana-mana dan jauh lebih baik jika "di rumah saja". So, Football
coming home! Isn’t it?