Aneh. Ya, satu kata yang sepertinya cukup untuk menggambarkan apa yang saya
rasa sekarang. Tersisa hanya beberapa hari sebelum melakukan penerbangan dan
menetap untuk waktu yang cukup lama di tempat yang baru, hari-hari saya hanya diisi
dengan pindah dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain. Dan tak ada yang
lebih aneh selain bertemu untuk berpamitan.
Malam ini motor saya melaju ke sebuah tempat di pusat Ibukota, Thamrin 10
tepatnya. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah malam ini suasana di tempat
itu sangat lengang, hanya beberapa pengunjung yang bisa saya lihat malam ini. “Kalo
malem kerja begini mah emang sepi mas, malem minggu noh biasanya rame, ada
musik juga kadang-kadang” ujar seorang satpam yang sebelumnya saya tanyakan mengenai
tempat parkir. Dan setelah itu bertemulah saya dengan wajah-wajah yang sudah cukup
lama tak pernah saya lihat. Menyebalkannya justru pertemuan ini untuk “berpamitan”
sebelum pergi.
Selesai pada pertemuan itu saya kembali membuka catatan dan mencoret satu
dari daftar pertemuan yang sudah saya susun sebelumnya. Tersisa beberapa wajah
lagi yang akan saya temui, berbincang, berterima kasih, mengucap maaf, juga
meminta doa. Jam menunjukkan pukul 22.00, saya memutuskan untuk kembali ke
rumah. Dan kali ini memilih untuk melintasi jalan Thamrin dan Sudirman sekali
lagi.
Bagi saya, kalau mau tau apa itu Jakarta, coba saja untuk melintasi jalan
ini di malam hari. Satu pesan saya: Jangan naik mobil pribadi! Gunakan motor,
atau angkutan umum, atau jika ingin merasakan syahdunya gesekan antara sepatu
bagusmu dengan trotoar yang punya banyak cerita ini, silahkan jalan kaki. Dan
kali ini, seperti biasa saya menggunakan motor untuk melintasinya. Membuka
sedikit kancing jaket saya, membiarkan angin malam Jakarta yang katanya “jahat”
masuk seolah percaya kalau “teman tak akan menyakiti”.
Menunggu di lampu merah Sarinah, melihat ojek-ojek online yang seperti
tidak ada capeknya mengantar. Lampu berubah hijau, saya menarik gas saya
perlahan, tak usah buru-buru karena sedang tak ada yang dikejar. Melihat halte
transjakarta di dekat HI dengan lampunya yang sangat terang berkilauan, cocok
untuk spot foto. Sepersekian detik saya menajamkan mata saya sedikit
lebih fokus, terlihat seorang bapak-bapak dengan rambutnya sudah memutih sedang
menunggu bus berikutnya. Di kota yang hectic ini, di jam segini, kemana
ia hendak pergi? Apa cucunya sedang ada halangan ya sehingga tak bisa menjemput?
Selanjutnya, mata saya tertuju pada patung selamat datang dengan air
mancurnya yang menawan. “Eh gua suka loh liat city-lights Jakarta. Lo
iya ga?” Hah? Suara siapa itu? Saya melihat ke jok belakang, kali ini kepala
saya benar-benar memutar hampir 180o, kosong. Ah! Saya tau, itu suara
dari mulut seseorang yang malam minggu kemarin saya bawa untuk mengitari jalanan
ini juga. Sayang dia telah kembali ke tanahnya, tanah Sumatera, namun suaranya
masih cukup jelas.
Lanjut menuju Sudirman, melihat kakak-kakak dengan muka lelah, lalu menerka
apa kesalahannya sampai mungkin ia dicaci oleh bosnya? Atau kabar buruk apa
yang barusan dia dapat? Atau juga mengira berapa banyak tanggungan yang sedang
ia pikul? Ah kak, semoga dugaan saya salah semua. Tiba-tiba klakson dari arah
belakang seolah menghantam saya. Saya balas dengan senyum tipis, “Tenang, tak
perlu marah, Bung. Kapan lagi diklaksonin? Di sana kan jalanan sepi” kali ini
saya berbicara dengan diri sendiri. Lantas setelahnya, mengambil lajur sedikit
ke kiri. Eitss, jangan kiri banget tapi, ada cukup banyak pesepeda yang masih
bersemangat mengayuh pedalnya, walau kondisi jalanan bisa dibilang cukup
lengang untuk sebuah Kota Metropolitan malam ini.
Sebelum memutar balik di Ratu Plaza, saya sempat memerhatikan para supir
taxi yang sedang turun dari taxinya, mematikan mesin, dan memilih untuk
berbincang bersama rekan-rekan. Di depan, terpampang jelas layar-layar LED
raksasa dengan berbagai iklan seolah-olah menyambut siapa saja yang melihatnya.
Dan ya, itu GBK! Sudah lama sekali saya tidak duduk di kursi tribunnya. Ah,
sulit menjelasakan hubungan emosional yang terbangun dengan tempat ini. “Tempat
yang akan gua rindukan di Jakarta nih”. Kali ini kata-kata saya kepada
seseorang di belakang saya malam minggu lalu. Setelahnya, gelap. Hanya remang-remang
malam yang menuntun saya sampai tiba di kediaman saya. Membuka pintu, dan
disambut oleh dua buah koper yang bahkan masih diplastikin seolah-olah berkata,
“kapan siapnya nih bos?”. Saya hanya menggangguk, lalu berjalan ke arah kamar.
Thamrin – Sudirman sekali lagi, untuk semua cerita yang pernah tersimpan, mengembang, dan biarkan ia melayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar