Selasa, 08 September 2020

Thamrin-Sudirman Sekali Lagi

Aneh. Ya, satu kata yang sepertinya cukup untuk menggambarkan apa yang saya rasa sekarang. Tersisa hanya beberapa hari sebelum melakukan penerbangan dan menetap untuk waktu yang cukup lama di tempat yang baru, hari-hari saya hanya diisi dengan pindah dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain. Dan tak ada yang lebih aneh selain bertemu untuk berpamitan.

Malam ini motor saya melaju ke sebuah tempat di pusat Ibukota, Thamrin 10 tepatnya. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah malam ini suasana di tempat itu sangat lengang, hanya beberapa pengunjung yang bisa saya lihat malam ini. “Kalo malem kerja begini mah emang sepi mas, malem minggu noh biasanya rame, ada musik juga kadang-kadang” ujar seorang satpam yang sebelumnya saya tanyakan mengenai tempat parkir. Dan setelah itu bertemulah saya dengan wajah-wajah yang sudah cukup lama tak pernah saya lihat. Menyebalkannya justru pertemuan ini untuk “berpamitan” sebelum pergi.

Selesai pada pertemuan itu saya kembali membuka catatan dan mencoret satu dari daftar pertemuan yang sudah saya susun sebelumnya. Tersisa beberapa wajah lagi yang akan saya temui, berbincang, berterima kasih, mengucap maaf, juga meminta doa. Jam menunjukkan pukul 22.00, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan kali ini memilih untuk melintasi jalan Thamrin dan Sudirman sekali lagi.

Bagi saya, kalau mau tau apa itu Jakarta, coba saja untuk melintasi jalan ini di malam hari. Satu pesan saya: Jangan naik mobil pribadi! Gunakan motor, atau angkutan umum, atau jika ingin merasakan syahdunya gesekan antara sepatu bagusmu dengan trotoar yang punya banyak cerita ini, silahkan jalan kaki. Dan kali ini, seperti biasa saya menggunakan motor untuk melintasinya. Membuka sedikit kancing jaket saya, membiarkan angin malam Jakarta yang katanya “jahat” masuk seolah percaya kalau “teman tak akan menyakiti”.

Menunggu di lampu merah Sarinah, melihat ojek-ojek online yang seperti tidak ada capeknya mengantar. Lampu berubah hijau, saya menarik gas saya perlahan, tak usah buru-buru karena sedang tak ada yang dikejar. Melihat halte transjakarta di dekat HI dengan lampunya yang sangat terang berkilauan, cocok untuk spot foto. Sepersekian detik saya menajamkan mata saya sedikit lebih fokus, terlihat seorang bapak-bapak dengan rambutnya sudah memutih sedang menunggu bus berikutnya. Di kota yang hectic ini, di jam segini, kemana ia hendak pergi? Apa cucunya sedang ada halangan ya sehingga tak bisa menjemput?

Selanjutnya, mata saya tertuju pada patung selamat datang dengan air mancurnya yang menawan. “Eh gua suka loh liat city-lights Jakarta. Lo iya ga?” Hah? Suara siapa itu? Saya melihat ke jok belakang, kali ini kepala saya benar-benar memutar hampir 180o, kosong. Ah! Saya tau, itu suara dari mulut seseorang yang malam minggu kemarin saya bawa untuk mengitari jalanan ini juga. Sayang dia telah kembali ke tanahnya, tanah Sumatera, namun suaranya masih cukup jelas.

Lanjut menuju Sudirman, melihat kakak-kakak dengan muka lelah, lalu menerka apa kesalahannya sampai mungkin ia dicaci oleh bosnya? Atau kabar buruk apa yang barusan dia dapat? Atau juga mengira berapa banyak tanggungan yang sedang ia pikul? Ah kak, semoga dugaan saya salah semua. Tiba-tiba klakson dari arah belakang seolah menghantam saya. Saya balas dengan senyum tipis, “Tenang, tak perlu marah, Bung. Kapan lagi diklaksonin? Di sana kan jalanan sepi” kali ini saya berbicara dengan diri sendiri. Lantas setelahnya, mengambil lajur sedikit ke kiri. Eitss, jangan kiri banget tapi, ada cukup banyak pesepeda yang masih bersemangat mengayuh pedalnya, walau kondisi jalanan bisa dibilang cukup lengang untuk sebuah Kota Metropolitan malam ini.

Sebelum memutar balik di Ratu Plaza, saya sempat memerhatikan para supir taxi yang sedang turun dari taxinya, mematikan mesin, dan memilih untuk berbincang bersama rekan-rekan. Di depan, terpampang jelas layar-layar LED raksasa dengan berbagai iklan seolah-olah menyambut siapa saja yang melihatnya.

Dan ya, itu GBK! Sudah lama sekali saya tidak duduk di kursi tribunnya. Ah, sulit menjelasakan hubungan emosional yang terbangun dengan tempat ini. “Tempat yang akan gua rindukan di Jakarta nih”. Kali ini kata-kata saya kepada seseorang di belakang saya malam minggu lalu. Setelahnya, gelap. Hanya remang-remang malam yang menuntun saya sampai tiba di kediaman saya. Membuka pintu, dan disambut oleh dua buah koper yang bahkan masih diplastikin seolah-olah berkata, “kapan siapnya nih bos?”. Saya hanya menggangguk, lalu berjalan ke arah kamar.

Thamrin – Sudirman sekali lagi, untuk semua cerita yang pernah tersimpan, mengembang, dan biarkan ia melayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar