Kamis, 09 Desember 2021

Malam Basah di Pakansari

        Rabu, 14 Desember 2016. Saat itu sekolah saya dalam kondisi “tidak jelas”. Tidak jelas di sini karena kami sudah menyelesaikan Ujian Akhir Semester namun tetap harus masuk untuk mereka yang sekiranya membutuhkan nilai tambahan demi mengangkat rapot semesteran (singkatnya: remedial). Sebagai anak yang ga bego-bego amat, saya pun absen di hari itu. Lagipula, siapa yang masih bisa fokus belajar di hari itu? Sebab hari itu adalah hari dimana Final AFF 2016 Leg-I dimainkan.

        Sedikit mundur kebelakang, menuju final ini, kita ketahui bersama langkah Indonesia tidak berjalan mulus, terseok-seok di babak grup, Indonesia memastikan langkahnya untuk tampil di babak semi-final di pertandingan pamungkas fase grup, kala sepakan setengah voli Stefano Lilipaly menghujam deras gawang Singapura. 1-2, Indonesia lolos ke semi-final. Di babak semi-final, lawan tangguh sudah menunggu, tim yang sedang harum namanya di sepakbola Asia Tenggara, Vietnam!

        Bertemu Vietnam selalu menarik. Pertandingan alot disertai benturan keras kerap terjadi kala berhadapan dengan Naga Biru. Leg-I dimainkan di Stadion Pakansari, Cibinong. Terus terang dalam pagelaran AFF 2016 ini saya kurang yakin akan langkah Timnas, alhasil saya memutuskan untuk tidak “berburu” tiket semi-final itu. Di sisi lain, saya ingin tetap merasakan “Atmosfir” dari gelaran 2 tahunan ini, akhirnya saya memutuskan untuk nobar di warung kopi dekat rumah, tentu bersama teman-teman. 1-0! Tandukan Hansamu Yama membuat Timnas di atas angin, semua bersorak. Tak lama berselang, Vietnam mendapat Penalty. “Ah bangsat, dapet gol away dia”. Ujar saya ke teman saya saat itu. Eksekusi yang dingin, skor sama kuat sekarang, 1-1. Di babak kedua, pertandingan cenderung monoton sampai akhirnya di menit 46, Stefano Lilipaly terpaksa dijatuhkan pemain Vietnam di kotak penalti, Giliran Indonesia yang kini mendapat hadiah itu. Boaz Solossa, seorang pemain yang sangat berpengalaman berhadapan 1 lawan 1 dengan kiper Vietnam. Berkelas! Eksekusi ke kiri atas sulit dibendung kiper Vietnam. Skor berubah lagi, 2-1 dan bertahan sampai peluit akhir. Malam itu ditutup dengan perasaan gusar. Modal 1 gol yang dicuri Vietnam membuat saya tidak tenang.

        Selisih beberapa hari giliran Hanoi yang menjadi tuan rumah Leg-II semifinal antara Vietnam dan Indonesia, selisih 1 gol ditambah mereka mendapatkan 1 gol away tentu membuat saya tidak tenang sepanjang pertandingan. Benar saja, serangan “7 hari 7 malam” dilakukan pemain-pemain Vietnam. “Ini mah tinggal nunggu waktu aja”, kata saya ke teman nobar saya lagi. Namun begitulah alam semesta bekerja, saat saya sudah pesimis tiba-tiba umpan lambung Boaz Solossa dari sisi kiri pertahanan Vietnam tidak mampu diantisipasi dengan sempurna oleh kiper Vietnam. Memanfaatkan situasi itu, lagi-lagi Stefano Lilipaly menyodok bola masuk ke gawang. 0-1! Indonesia unggul. Separuh beban di pundak saya tiba-tiba hilang. Tak lama berselang, entah bagaimana jalannya pertandingan, kiper Vietnam malam itu mendapat kartu merah. “Yes, final!” dalam hati saya. Namun perlu anda ketahui bahwa sepakbola berjalan selama 90 menit. So, It’s not over untul it’s over. Dan benar saja, Vietnam mendapat 2 gol dalam kurun waktu yang sangat singkat. “Ah gila, lawan 10 pemain masa malah kalah”, kali ini saya berbicara seperti kepada diri sendiri. Agregat sama kuat, 3-3 sehingga pertandingan mesti dilanjutkan ke babak tambahan. Di babak tambahan jelas terlihat. Hanya bermain dengan 10 pemain kini situasi tidak terlalu memihak Vietnam. Menit 96, Ferdinand Sinaga dilanggar kiper Vietnam, penalti untuk Indonesia! Yes! Manahati Lestusen yang menjadi algojo sukses menyarangkan bola di jala Vietnam, 2-2! Hitungan menit untuk Timnas tampil di partai puncak. Dan ya, Timnas masuk final! Saya senang bukan main.

        Menuju partai final, jelas saja saya berburu tiket pertandingannya, apalagi yang kita tantang kali ini adalah sang Raja Asean dengan 4 gelar AFF, Thailand! 2010 adalah kali terakhir Timnas tampil di partai puncak kejuaraan 2 tahunan itu. Final Leg-II yang digelar di Gelora Bung Karno dengan kapasitas 81.000 saja sold-out, apalagi kali ini yang digelar di Stadion Pakansari yang hanya berkapasitas 30.000. Singkat cerita saya berhasil mendapatkan tiket final itu, 4 biji! Saya pun harus mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada abang saya yang gagal nonton karena rekannya tidak ada yang dapat menghadiri final tersebut sehingga dia memberikannya (baca: menjualnya) kepada saya. Tanpa berpikir panjang saya beli semuanya sebab teman saya juga mencari hal yang sama. Dari warung kopi, kami pindah ke Pakansari, panggung utama yang menjadi saksi atas perjuangan Timnas di partai puncak.

        Rabu itu diwarnai dengan hujan deras, selepas adzan zuhur hujan mulai turun dan tak kunjung berhenti. Karena sedari awal kami telah berjanji untuk motoran, alhasil kami terobos hujan deras kala itu. “Demi Timnas!” dalam hati saya. Kami janjian di halte yang tak jauh dari sekolah kami, dan setelahnya kami menuju langsung ke Cibinong. Hujan terus mengiringi perjalanan kami, semua basah. Mulai dari kaos luar sampai yang di dalam, dingin! Barulah sampai sekitar wilayah Jagakarsa hujan mulai reda. Singkat cerita saya tiba di Stadion Pakansari. Turun dari motor baju saya sudah kering. “Gila, dari basah kuyup sampe kering gini”, ujar saya ke kawan-kawan yang ikut di hari itu, mereka hanya tertawa. Jalan menuju ke Stadion, hingar-bingar final sudah terasa, “Wow, ini ya harinya?” kata saya dalam hati, merinding! Sampai ke dalam stadion saya cukup takjub, sebab ini kali pertama saya menjajakan kaki di stadion selain Gelora Bung Karno dan langsung partai final! Penjagaan yang minim membuat kami bebas bergerak di dalam tribun, alhasil kami memilih duduk di tribun utara. Simpel alesannya, karena di tribun tersebut ada sekumpulan massa yang membawa bass drum yang dikemudian hari saya tahu bahwa mereka adalah La Grande Indonesia, sang penghuni tribun utara tiap kali timnas bertanding. Lagian udah jauh-jauh, ujan-ujanan, yakali cuma duduk-duduk doang? Apa bedanya dengan nonton di rumah?

        Para pemain memasuki lapangan, gila! Atmosfirnya bener-bener gila! Sehaus ini kita sama gelar yang tak kunjung hadir sejak terakhir kali medali emas 1991 di Sea Games Manila. Namun sebagaimana yang kita tahu, bahwa Tuhan Maha Bercanda. Teerasil Dangda, striker tajam Thailand malah membuka keunggulan malam itu. Saya diam, nyesek lebih tepatnya. “Ya Allah, masa gaboleh sih sekali aja ngerasain gimana rasanya jadi juara?” kali ini saya benar-benar memelas dalam hati. Babak pertama usai, skor 0-1 untuk Thailand, tersisa 45 menit lagi untuk malam ini. Saking sedihnya saya hanya mengobrol singkat saja dengan rekan-rekan yang hadir kala itu di jeda turun minum.

        Babak kedua dimulai, Thailand justru semakin gencar melakukan serangan. Emang bener-bener sinting tim itu, predikat “Raja Asean” bukan sekedar julukan semata. Waktu terus berlajan dan kini pertandingan tepat 1 jam berlangsung, 5 menit berselang tepatnya di menit 66, tembakan keras Rizki Pora membentur tubuh pemain Thailand, sontak bola berubah arah dan membuat kiper Thailand mati langkah. 1-1! Pakansari bersorak dan mungkin juga demikian dengan tempat di mana kalian menyaksikannya kala itu. Saya jingkrak-jingkrakan di atas tribun. Yes! 1 gol sebagai bukti bahwa kita tampil di partai puncak memang untuk menantang mereka, melawan mereka, bukan hanya duduk terdiam dan membiarkan mereka mendapatkan gelar ke-5 nya. Gol itu mengubah segalanya, kini Indonesia yang memegang kendali pertandingan. Tak berselang lama, 5 menit setelah gol pertama tendangan Zulham Zamrun (seperti) masuk ke gawang Thailand, apalagi posisi saya yang berada di tribun utara mengira tembakan tersebut masuk. Rupanya melebar, hanya menyentuh jaring saja dan menghasilan sepak pojok untuk Timnas, ah sialan!. Saya lupa siapa yang berjalan ke garis penjuru untuk mengambil sepak pojok, namun saat pemain tersebut sedang berjalan saya berdoa dalam hati “Ya Allah, plis, yang ini masuk”. Bola ditendang oleh pemain tersebut, coming from behind, lagi-lagi kepala Hansamu Yama menyundul bola itu, selanjutnya kita tau apa yang akan terjadi, masuk! Timnas berbalik unggul 2-1! Pakansari pecah! YES! WE ARE LEADING NOW. Tersisa 15 menit menuju peluit panjang, udara di Pakansari setelah gol kedua menjadi lebih sejuk entah kenapa, padahal sepanjang pertandingan saya merasa gerah. Mungkin karena beban dipundak ditambah habis mandi hujan. Tak terasa sang pengadil menuip peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, Indonesia menang di Leg-I. Setelahnya hujan kembali turun, cukup deras namun tidak sederas tadi siang, rupanya kali ini hujan itu turun di dalam diri saya. Tangisan terharu untungnya. Bodo amat yang bakal terjadi di Rajamangala! Malem ini harus kita rayakan! Pelukan dengan kawan, ketawa-ketiwi saat menuju parkiran, bahkan sebelum sampai rumah masing-masing, kami menyempatkan untuk mengisi perut dengan ayam bakar terlebih dahulu. Saya senang bukan main malam itu. Walau setelahnya, ya... yang kita tahu, untuk kali ke-5 Timnas kembali gagal di partai puncak.

        Malam ini untuk ke-13 kalinya Timnas Indonesia tampil di ajang 2 tahunan itu, singkat saja kawan. 12 kali sudah kita tampil, 5 diantaranya sampai ke partai puncak, berapa kali pada akhirnya kita berpesta? 0! Realistis saja, mungkin emang Timnas sepakbola kita terlalu banyak dosa. Eh bukan Timnasnya, tapi pengurusnya, jadi memang ini balasan yang mesti kita tanggung entah sampai kapan. Atau sesederhana tulisan Pandit Football bahwa How if she just not loving you? PDKT 13 kali, nembak 5 kali, hasilnya ditolak semua. Simpel, dia emang gasuka sama lu. Udahlah, gausah sok-sok-an bilang “level kita bukan AFF, harusnya udah main di AFC” Wkwkwkwk boro-boro main di Asia, juara di lingkup Asean aja gapernah. Itu hanya keluar dari mulut pecundang yang tak kunjung mendapatkan hati gebetannya lalu bilang ke dunia “Ah ngapain sama dia, masih banyak ikan di laut” Pret!

        So, be realistic my friend. Enjoy the game and don’t expect too much. Kita negara nonton bola, bukan negara bola.

 


Sabtu, 02 Oktober 2021

Yin dan Yang ala Arsenal dan Persija

            “Agar tidak terjatuh, sepeda tetap harus kita kayuh”. Quote tersebut saya dapatkan ketika duduk di bangku SMP entah dari mana asalnya dan rasanya memang tepat. Keseimbangan ketika kita mengendarai kendaraan roda dua hanya akan tercipta jika kita terus berjalan. Dan itulah rasanya menjadi fans Arsenal dan Persija Jakarta secara bersamaan.

Yin dan Yang adalah sebuah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat yang berhubungan dan berlawanan di dunia ini. Singkatnya, Yang adalah cahaya yang digambarkan dengan warna putih, ia bergerak naik berpadu dengan kegelapan, yaitu Yin. Yin digambarkan dengan warna hitam dan bergerak turun. Yin dan Yang adalah kekuatan yang berlawanan, tergantung aliran dari siklus alami. Mereka selalu mencari keseimbangan meskipun bertentangan. Penggambaran Yin dan Yang sangat tepat sebagai pengejawantahan dari mendukung Arsenal dan Persija Jakarta secara bersamaan. Ketika Arsenal sedang terpuruk-puruknya, di saat itulah Persija Jakarta menjadi pelipur lara atas ketidakjelasan Arsenal. Pun sebaliknya, ketika Persija bermain sangat busuk, Arsenal hadir bak oase di padang yang tandus.

Terus terang saya heran. Mengapa saya bisa jatuh cinta kepada dua tim ini yang sepertinya tidak pernah akur dalam hal memberikan kebahagiaan. Akhir pekan sejatinya adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Namun apa daya, terkadang salah satu dari mereka membuat saya tidak sehat. Senam jantung selama 90 menit, kesabaran yang terus dilatih, serta keikhlasan yang harus diperlihatkan bilamana saat peluit panjang dibunyikan mereka mendapatkan hasil yang minor. Seperti Yin dan Yang, Arsenal dan Persija selalu mencari keseimbangan meskipun hasil yang didapat oleh kedua tim ini seringkali bertentangan. Saat Arsenal menang, tau-tau Persija kalah. Giliran Persija menang, eh Arsenal-nya dibantai. Saya hampir lupa bahkan, kapan terakhir kali saya merayakan akhir pekan dengan suka cita yang benar-benar indah.

Ya begitulah suka duka menjadi fans Arsenal dan Persija Jakarta secara bersamaan. Mungkin memang ini maksud lagu Pegang Tanganku yang dipopulerkan oleh band asal Pulau Dewata, Nosstress; “Jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu”, cukup biasa-biasa saja, tetap terbang namun di bawah radar, toh kembali ke kalimat awal. Apapun yang dirasakan, yang perlu dilakukan cuma nikmati, lalu berjalan lagi supaya tidak terjatuh. Namun biar bagaimanapun, rasanya saya tetap harus mengucapkan terima kasih kepada kedua tim ini. Sebab merekalah yang senantiasa menyelamatkan akhir pekan saya. Di saat tidak tau lagi harus berbuat apa di kota yang hampa ini, Arsenal dan Persija jelas menghidupkan sisi emosional di jiwa saya, Arsenal dan Persija adalah bentuk kehidupan yang benar-benar nyata, entah bicara mengenai pekerjaan, keluarga, cinta, ataupun cita-cita, sejatinya hidup memang harus seimbang.

Minggu, 11 Juli 2021

Ada Yang Mau Pulang

Sejauh apapun seorang tualang melakukan petualangan pada akhirnya rumah adalah tempat dimana ia akan pulang. Begitu juga dengan sepakbola. Yap, bisa dibilang 4 tahun kebelakang kepercayaan diri fans The Three Lions memang sedang tinggi-tingginya. 2 tahun lalu, tepatnya di Russia, anak asuh Gareth Southgate ini tampil hingga babak semifinal di ajang pesta 4 tahunan sepakbola terbesar di dunia kala itu. Dan kini, di ajang Euro 2020 yang dimainkan di tahun 2021 karena adanya pandemi yang tak kunjung henti, untuk pertama kalinya mereka tiba di babak final setelah penalti Harry Kane di babak extra-time memastikan bahwa pesta kali ini mungkin memang milik “Sang Nenek Moyang” sepakbola.

Sempat diragukan di fase grup karena main yang tidak jelas, (termasuk saya sebagai fans), Inggris mampu menepis semua keraguan itu dengan menghajar Jerman 2-0 tanpa balas di babak 16 besar. Kemenangan yang amat berarti untuk Inggris. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama sepanjang sejarah melawan musuh bebuyutannya di Major Tournament. “Ah! Sepertinya ini memang tahunnya”, ujar saya dalam hati saat perjalanan menuju kamar seusai nobar dengan kawan-kawan di kantor. Selang beberapa hari, Inggris bertemu Ukraina di babak 8 besar, hasilnya? Bukan suatu masalah berarti. Ukraina dllibas 4 gol tanpa balas. Terus terang saya pun sudah memprediksinya bahwa ini bukanlah ganjalan yang besar, Inggris akan melaju mulus ke babak semifinal.

Dalam hidup, kita semua memang selalu suka dengan fairytale, dengan underdog yang secara mengejutkan membunuh raksasa. Contohnya? Ya coba lihat saja berapa banyak orang yang mendukung Dewa Kipas saat pertarungannya melawan GM Irene yang disiarkan langsung oleh Bapak Deddy Cahyadi di kanal youtube-nya. Padahal kalau dipikir lagi, ya, orang waras mana sih yang ngebela bapak-bapak out of nowhere ketika ditantang orang yang mungkin kalau sedang tidurpun mimpinya main catur. Begitu pula dengan babak semifinal saat Inggris harus berhadapan dengan Denmark. Di ajang Euro kali ini, tepatnya di matchday pertama, insiden mengerikan menimpa Timnas Denmark. Salah satu punggawa andalannya, Christian Eriksen mengalami collapse dan menjadi sorotan seluruh pecinta sepak bola dunia. Sontak semua orang sudah beranggapan kalau Denmark tidak akan melaju jauh setelah pemain kuncinya tersebut terpaksa meninggalkan tim lebih cepat. Ditambah pada laga itu dan laga selanjutnya meraih hasil minor yang menambah anggapan itu semakin kuat. Namun, ya, begitulah sepakbola menjawabnya. Siapa sangka rupanya Denmark berhasil melaju sampai babak semifinal dan menantang Inggris di kandangnya, Wembley Stadium.

Di semifinal sudah sangat jelas bahwa semua orang di belahan bumi mendukung Denmark dimana hal tersebut membuat para fans Inggris layaknya seorang public enemy. Semua berharap bahwa mereka dapat melaju ke partai puncak dan menjadikan hal tersebut kado indah untuk Eriksen. Memasuki menit ke-30, Damsgaard, pemain yang menggantikan pos yang ditinggalkan Eriksen merubah skor dengan mencetak gol cantik melalui tendangan bebas di hadapan 60 ribu pendukung Inggris yang memadati Wembley malam itu. Gol yang menyudahi keperawanan gawang Inggris selama 5 laga. Gol tersebut benar-benar membuat kami, para fans Inggris, mulai khawatir. Akankah seperti di Piala Dunia lalu? Dimana memang semifinal masih merupakan tempat terbaik bagi kami? Namun pemikiran itu terjawab tak berselang lama. Menerima umpan manis dari Harry Kane, Saka berniat untuk memberikan assist kepada Raheem Sterling. Siapa sangka, Kjaer, sang kapten kesebelasan Denmark, yang berniat menghentikan laju bola yang menuju ke arah gawangnya justru malah menceploskannya. Wembley bergemuruh. Papan skor berubah, kini kedudukan sama kuat.

Tibalah peluit panjang 90 menit dibunyikan. Skor tidak berubah dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan 2 x 15 menit. Di sinilah semua headline berita pagi muncul. Mencoba melakukan akselerasi di kotak penalti Denmark, Raheem Sterling mendapatkan sentuhan minim dari pemain belakang Denmark. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Pemain Denmark protes. Melihat hal itu, akhirnya wasit memutuskan untuk berdiskusi dengan wasit lainnya yang berada di balik kendali Video Assistant Referee (VAR). Tak berselang lama, akhirnya diputuskan juga. Yap, Inggris mendapatkan penalti. Harry Kane, sang algojo kala itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Walau sempat ditepis oleh Kasper Schmeichel, kiper dari Denmark, bola muntahan langsung disambar lagi olehnya. Skor berubah 2-1 untuk Inggris, lagu “It’s Coming Home” terdengar jelas dari arah tribun yang dinyanyikan oleh puluhan ribu supporter yang memadati Wembley malam itu. Skor bertahan hingga usai. Inggris memastikan langkahnya di babak final.

Kemenangan Inggris memang diwarnai dengan kontroversi. Penalti yang didapat dinilai terjadi akibat ulah Sterling yang melakukan diving (pura-pura jatuh). Hal itu menjadi buah bibir hampir oleh semua orang. Oke, saya akan berbicara secara objektif. Saya akui memang itu merupakan penalti hadiah. Sterling memang tidak dijatuhkan secara keras melainkan pura-pura jatuh. Tapi coba bayangkan, di sepak bola se-modern ini, dibantu oleh tayangan ulang video yang dapat dilihat oleh wasit dalam menentukan keputusan, Sterling tetap dianggap layak untuk mendapatkan penalti oleh sang pengadil. Hebat bukan? Lagian saya kadang kurang setuju dengan kata “keberuntungan itu jatuh dari langit”, karena saya percaya bahwa keberuntungan itu bisa diciptakan. Penalti yang didapat oleh Inggris merupakan buah dari apa yang mereka lakukan dengan menaikin garis permainannya sehingga memaksa hampir seluruh pemain Denmark berada di wilayahnya. Hasilnya? 8 pemain Denmark berada di dalam kotak penaltinya sendiri dan membuat Sterling mencoba peruntungannya. Sisanya ya yang seperti kita tahu.

Bicara tentang penalti yang kontroversi ini memang tidak ada habisnya. Tapi sebagai fans, sulit untuk objetif di saat seperti ini. Ah, lagian juga mungkin ini jawaban dari “kesialan” yang biasanya melekat di tubuh Timnas Inggris. Waktu Piala Dunia 2010, dimana gol Frank Lampard dianulir, fans Jerman tetap senang kan saat tim kesayangannya lolos ke 8 besar? Waktu tahun 1986 fans Argentina tetap pestapora kan saat Argentina keluar menjadi jawara walau di perempat final Gol Tangan Tuhan Maradona membuat Inggris pulang? Mau contoh lain? Oke boleh. Waktu Perancis lolos ke Piala Dunia 2010 berkat kemenangan melawan Irlandia yang dimana gol penentunya lahir dari handball Thierry Henry, kalian para fans juga senang minta ampun kan karena Sang Finalis akhirnya dapat berpartisipasi (walau dengan susah payah) di ajang tertinggi itu? Fans Barcelona apalagi, saat pertama kali meraih Treble Winner di 2009 juga pesta kan? Ingat tidak bahwasannya di babak semifinal wasit yang memimpin laga tersebut sangat menguntungkan tim kalian? Atau ga perlu jauh-jauh deh. Sebelum menghadapi Inggris di babak semifinal, Denmark terlebih dahulu menantang Ceko di babak 8 besar. Inget ga bahwa Delaney tidak akan mencetak gol yang mengantarkan Denmark ke babak semifinal andai wasit lebih jeli. Karena sepak pojok itu merupakan keputusan yang keliru. Lagian juga Inggris saat ini jadi serba salah. Menang dibilang, "Ya wajar aja menang orang hampir semua game nya main di kandang". Kalah juga ada argumen "Yah, masa udah jadi 'panitia turnamen' masih aja kalah". Yasudah lebih baik dituntaskan saja. Terlalu banyak orang yang menjadi pembenci Inggris. Tapi kalau saya boleh saran sih, stop lah menggunakan argumen-argumen seperti itu, usang. Argumen itu hanya keluar dari mulut seorang pecundang yang kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kecewanya. Sama seperti orang yang ditolak cintanya lalu dengan (sok) bijak berkata: "Cinta tidak harus memiliki". Cuih! Tai kucing!

Ya, begitulah sepakbola yang besar dengan segala kontroversinya. Semua tinggal menunggu waktu. Kapan kita diuntungkan, kapan kita yang menjadi korban. Dan setelah melanglang-buana, saya harap ini juga waktunya. Bahwa kita sepakat tidak ada yang lebih nyaman dari rumah. Walau kadang isinya menyebalkan tapi tak dapat dipungkiri bahwa tempat itu lah dimana kita berasal. Tempat itu lah dimana kita belajar banyak hal untuk pertama kalinya. Tempat itu lah dimana sangat banyak kenangan tercipta. Ditambah anjuran pemerintah akibat lonjakkan Covid-19 yang semakin tinggi, mungkin memang ini adalah waktu yang sangat tepat untuk tidak kemana-mana dan jauh lebih baik jika "di rumah saja". So, Football coming home! Isn’t it?

Senin, 12 April 2021

Curcol Ramadhan Perdana

 

“Selamat menunaikan ibadah puasa, Nak”. Ujar seorang Ibu kepada anak tengahnya yang kini berada jauh 2.000km lebih dari kediamannya. Sontak sang anak merasa emosional dan kalau tidak sedang di keraiman sepertinya air matanya sudah jatuh, namun kali ini ia lebih memilih tersenyum sedikit lalu menghela nafas. Ya begitulah percakapan abis maghrib tadi sama nyokap. Oh ya, disclaimer, kali ini pake gua-elu aja lah ya biar ga kaku-kaku amat. Hm rasanya kayak udah lama juga ga nulis, selama ini keresahan yang gua rasa emang gua makan sendiri sih, tapi ya namanya manusia akhirnya udah mentok dan sampailah di titik limitnya.

Semua ini berawal dari larangan pemerintah. Ya, apalagi kalo bukan larangan mudik. Terus terang waktu dapet kabar itu rasanya nyampur. Ada sedih, dan yang pasti kesel lah, gila kali lu! Hari sebelumnya doi dateng ke nikahan 2 orang yang gaterlalu penting juga andilnya buat negara, eh beberapa hari kemudian ada larangan begitu. Jelas heran dong, perasaan gua lagi nonton berita tapi kenapa rasanya kayak nonton stand-up comedy aduh ngeri nih. Ya, ya ya, gua bisa mengerti sih kalo ada yang mengganggap gua terlalu lebay, mendramatisir, atau apalah terserah kalian mau anggapnya gimana; “yaelah lebay banget baru sekali doang” “yaelah gua udah 2 kali lebaran gapulang”, dan yaelah-yaelah lain yang mungkin terpikirkan oleh kalian. Tapi, lah lah lah, kok lu jadi adu nasib?

Sudah memasuki bulan ke-4 setelah kepulangan membuat gua cukup merindukan suasana rumah, terlebih suasana ramadhan di rumah. Maksud gua gini; Nyet, gua di tempat yang kaga ada apa-apanya nih, tempat yang hiburannya cuma makan sama internet, mana kalo di kamar lemot bener lagi. Jadi ya jelas aja gua merindukan suasana sentimentil Ibukota. Gua masih bisa mengingat betul rasanya nonton tv sambil nunggu sidang isbat, nunggu besok puasa apa kagak, atau ngeliat orang-orang kocak yang sidang isbat aja belom lah dia udah puasa aneh-aneh aja kelakuan. Gua gatau pasti sih suasana di Jakarta sekarang gimana, tapi kabar terakhir yang gua dapet udah boleh tarawih di masjid. Rasanya kayak; Men… Kangen ga sih lu jalan ke masjid liat bocah-bocah ngelipet sarungnya bakal perang ama kampung lain, jajan di halaman masjid pas khotbah nunggu teraweh yang kadang-kadang isi khotbahnya ga terlalu lu setuju, atau baca istighfar pas selesai Al-Fatihah gara-gara si Imam mulai surat pendek dengan, “Alif Lam Mim..” dan dalem hati bilang “Waduh Pak Imam, perasaan setau ane bacaannya surat pendek dah, napa ente roman-romannya baca Al-Baqarah nih” terus di sekolah setor hafalan juz 30, nge-gapin temen lu yang buka di warung ga jauh dari sekolahan, suasana bukber entah sama siapa, dan banyak hal lain yang bisa lu lakuin cuma pas ramadhan. Hari tuh rasanya kayak gaada abisnya, nyambung terus dari sidang isbat sampe sidang penentuan 1 syawal nanti.

Harus diakui bahwa gua emang ga se religius itu sih soal agama, masih inget banget 2016 banyak cabut tarawih gara-gara bertepatan dengan gelaran Euro 2016. Teraweh baru 4 rakaat udah cabut gara-gara jagoin Perancis angkat piala di tanahnya sendiri, jadilah tiap kick off milih cabut. Walaupun lu semua tau kan endingnya gimana; extra time, out of nowhere, Eder, pemain yang dari babak penyisihan aja kayaknya kaga maen masuk di menit 100+. Tau tau dengan 1 on target 1 gol, fak! Perancis gua gigit jari di final. Mungkin karena karma dari Payet yang bikin cedera Ronaldo kali ya. 2016 ramadhan terbaiklah so far, gua masih inget banget dari tarawih sampe sahur lanjut terus nonton bola. Gol Hal-Robson Kanu masih jelas banget di kepala gua, cantik! Se cantik mantanku dulu yang selalu ku tanya “hari ini sahur apa?” Oh, Puan, semoga kamu selalu bahagia ya!

Berada dalam situasi kayak sekarang pastinya gua cuma ngarepin hal-hal sederhana sih, kayak ga skip sahur, eh lebih utamanya ada yang dimakan pas sahur dulu deh. Bayangin nanti sahur makan apa sepanjang 30 hari kedepan kayaknya bakal jadi pr deh buat gua. Kembali ke kalimat awal dimana gua mengharapkan hal sederhana ya kayak sekarang ini, hari pertama Ramadhan. Gua menyadari betul bahwa sedang tidak berada di Jakarta dimana suasana ramadhannya cukup terasa. Ibu-ibu yang bekerja ekstra untuk keluarganya, marbot masjid yang teriak-teriak pake mic “sahur sahurrrrrr”, muda-mudi yang abis sahur atau pas tarawehan malah nyari musuh buat diributin, ya, gua ga ngarepin itu. Hidup di sebuah tempat dimana menjadi minoritas gua cuma mengharapkan ada lantunan ayat suci atau doa-doa abis tarawehan yang bisa masuk ke kuping, nenangin hati, setelah hari yang cukup fak ap ini. Tapi apa daya, setelah adzan isya semua justru hening. Hening banget. Sama sekali gaada rasanya. Jadilah perjalanan menuju tempat tinggal memasang headset dengan pilihan lagu jatuh kepada: Silampukau – Lagu Rantau (Sambat Omah);

“Oh, demi Tuhan, atau demi setan!

Sumpah aku ingin,

Rumah,

Untuk pulang”.

Akhirnya yang bisa gua lakuin ya cuma ini, nulis, sambil menunggu keajaiban semesta dan kemurahan hati dari pemilik kuasa agar tetep bisa pulang. Udah capek, gatau gimana ngerespon situasi jadinya. Gapernah tenang, energi abis aja bawaannya. Dan gua percaya sih, kalo lagu Rehat nya Kunto Aji yang selalu nenangin lu dengan “Tenangkan hati semua ini bukan salahmu, jangan berhenti yang kau takutkan takkan terjadi”, itu udah ga cukup lagi bekerja buat lu, kayaknya udah waktunya buat ganti playlist lu dengan Pulang-nya Float, karena “Air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa”. Jadi tolong,

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bawa aku pulang

.

.

.

.

.

Segera!