Rabu, 14 Desember 2016. Saat itu sekolah saya dalam kondisi “tidak jelas”. Tidak jelas di sini karena kami sudah menyelesaikan Ujian Akhir Semester namun tetap harus masuk untuk mereka yang sekiranya membutuhkan nilai tambahan demi mengangkat rapot semesteran (singkatnya: remedial). Sebagai anak yang ga bego-bego amat, saya pun absen di hari itu. Lagipula, siapa yang masih bisa fokus belajar di hari itu? Sebab hari itu adalah hari dimana Final AFF 2016 Leg-I dimainkan.
Sedikit mundur kebelakang, menuju final ini, kita ketahui bersama langkah Indonesia tidak berjalan mulus, terseok-seok di babak grup, Indonesia memastikan langkahnya untuk tampil di babak semi-final di pertandingan pamungkas fase grup, kala sepakan setengah voli Stefano Lilipaly menghujam deras gawang Singapura. 1-2, Indonesia lolos ke semi-final. Di babak semi-final, lawan tangguh sudah menunggu, tim yang sedang harum namanya di sepakbola Asia Tenggara, Vietnam!
Bertemu Vietnam selalu menarik. Pertandingan alot disertai benturan keras kerap terjadi kala berhadapan dengan Naga Biru. Leg-I dimainkan di Stadion Pakansari, Cibinong. Terus terang dalam pagelaran AFF 2016 ini saya kurang yakin akan langkah Timnas, alhasil saya memutuskan untuk tidak “berburu” tiket semi-final itu. Di sisi lain, saya ingin tetap merasakan “Atmosfir” dari gelaran 2 tahunan ini, akhirnya saya memutuskan untuk nobar di warung kopi dekat rumah, tentu bersama teman-teman. 1-0! Tandukan Hansamu Yama membuat Timnas di atas angin, semua bersorak. Tak lama berselang, Vietnam mendapat Penalty. “Ah bangsat, dapet gol away dia”. Ujar saya ke teman saya saat itu. Eksekusi yang dingin, skor sama kuat sekarang, 1-1. Di babak kedua, pertandingan cenderung monoton sampai akhirnya di menit 46, Stefano Lilipaly terpaksa dijatuhkan pemain Vietnam di kotak penalti, Giliran Indonesia yang kini mendapat hadiah itu. Boaz Solossa, seorang pemain yang sangat berpengalaman berhadapan 1 lawan 1 dengan kiper Vietnam. Berkelas! Eksekusi ke kiri atas sulit dibendung kiper Vietnam. Skor berubah lagi, 2-1 dan bertahan sampai peluit akhir. Malam itu ditutup dengan perasaan gusar. Modal 1 gol yang dicuri Vietnam membuat saya tidak tenang.
Selisih
beberapa hari giliran Hanoi yang menjadi tuan rumah Leg-II semifinal antara
Vietnam dan Indonesia, selisih 1 gol ditambah mereka mendapatkan 1 gol away
tentu membuat saya tidak tenang sepanjang pertandingan. Benar saja, serangan “7
hari 7 malam” dilakukan pemain-pemain Vietnam. “Ini mah tinggal nunggu waktu
aja”, kata saya ke teman nobar saya lagi. Namun begitulah alam semesta bekerja,
saat saya sudah pesimis tiba-tiba umpan lambung Boaz Solossa dari sisi kiri
pertahanan Vietnam tidak mampu diantisipasi dengan sempurna oleh kiper Vietnam.
Memanfaatkan situasi itu, lagi-lagi Stefano Lilipaly menyodok bola masuk
ke gawang. 0-1! Indonesia unggul. Separuh beban di pundak saya tiba-tiba
hilang. Tak lama berselang, entah bagaimana jalannya pertandingan, kiper
Vietnam malam itu mendapat kartu merah. “Yes, final!” dalam hati saya. Namun
perlu anda ketahui bahwa sepakbola berjalan selama 90 menit. So, It’s not
over untul it’s over. Dan benar saja, Vietnam mendapat 2 gol dalam kurun
waktu yang sangat singkat. “Ah gila, lawan 10 pemain masa malah kalah”, kali ini
saya berbicara seperti kepada diri sendiri. Agregat sama kuat, 3-3 sehingga
pertandingan mesti dilanjutkan ke babak tambahan. Di babak tambahan jelas
terlihat. Hanya bermain dengan 10 pemain kini situasi tidak terlalu memihak
Vietnam. Menit 96, Ferdinand Sinaga dilanggar kiper Vietnam, penalti untuk
Indonesia! Yes! Manahati Lestusen yang menjadi algojo sukses
menyarangkan bola di jala Vietnam, 2-2! Hitungan menit untuk Timnas
tampil di partai puncak. Dan ya, Timnas masuk final! Saya senang bukan main.
Menuju partai final, jelas saja saya berburu tiket pertandingannya, apalagi yang kita tantang kali ini adalah sang Raja Asean dengan 4 gelar AFF, Thailand! 2010 adalah kali terakhir Timnas tampil di partai puncak kejuaraan 2 tahunan itu. Final Leg-II yang digelar di Gelora Bung Karno dengan kapasitas 81.000 saja sold-out, apalagi kali ini yang digelar di Stadion Pakansari yang hanya berkapasitas 30.000. Singkat cerita saya berhasil mendapatkan tiket final itu, 4 biji! Saya pun harus mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada abang saya yang gagal nonton karena rekannya tidak ada yang dapat menghadiri final tersebut sehingga dia memberikannya (baca: menjualnya) kepada saya. Tanpa berpikir panjang saya beli semuanya sebab teman saya juga mencari hal yang sama. Dari warung kopi, kami pindah ke Pakansari, panggung utama yang menjadi saksi atas perjuangan Timnas di partai puncak.
Rabu itu diwarnai dengan hujan deras, selepas adzan zuhur hujan mulai turun dan tak kunjung berhenti. Karena sedari awal kami telah berjanji untuk motoran, alhasil kami terobos hujan deras kala itu. “Demi Timnas!” dalam hati saya. Kami janjian di halte yang tak jauh dari sekolah kami, dan setelahnya kami menuju langsung ke Cibinong. Hujan terus mengiringi perjalanan kami, semua basah. Mulai dari kaos luar sampai yang di dalam, dingin! Barulah sampai sekitar wilayah Jagakarsa hujan mulai reda. Singkat cerita saya tiba di Stadion Pakansari. Turun dari motor baju saya sudah kering. “Gila, dari basah kuyup sampe kering gini”, ujar saya ke kawan-kawan yang ikut di hari itu, mereka hanya tertawa. Jalan menuju ke Stadion, hingar-bingar final sudah terasa, “Wow, ini ya harinya?” kata saya dalam hati, merinding! Sampai ke dalam stadion saya cukup takjub, sebab ini kali pertama saya menjajakan kaki di stadion selain Gelora Bung Karno dan langsung partai final! Penjagaan yang minim membuat kami bebas bergerak di dalam tribun, alhasil kami memilih duduk di tribun utara. Simpel alesannya, karena di tribun tersebut ada sekumpulan massa yang membawa bass drum yang dikemudian hari saya tahu bahwa mereka adalah La Grande Indonesia, sang penghuni tribun utara tiap kali timnas bertanding. Lagian udah jauh-jauh, ujan-ujanan, yakali cuma duduk-duduk doang? Apa bedanya dengan nonton di rumah?
Para
pemain memasuki lapangan, gila! Atmosfirnya bener-bener gila! Sehaus ini kita
sama gelar yang tak kunjung hadir sejak terakhir kali medali emas 1991 di Sea
Games Manila. Namun sebagaimana yang kita tahu, bahwa Tuhan Maha Bercanda.
Teerasil Dangda, striker tajam Thailand malah membuka keunggulan malam itu.
Saya diam, nyesek lebih tepatnya. “Ya Allah, masa gaboleh sih sekali aja
ngerasain gimana rasanya jadi juara?” kali ini saya benar-benar memelas
dalam hati. Babak pertama usai, skor 0-1 untuk Thailand, tersisa 45 menit lagi
untuk malam ini. Saking sedihnya saya hanya mengobrol singkat saja dengan
rekan-rekan yang hadir kala itu di jeda turun minum.
Babak
kedua dimulai, Thailand justru semakin gencar melakukan serangan. Emang
bener-bener sinting tim itu, predikat “Raja Asean” bukan sekedar julukan
semata. Waktu terus berlajan dan kini pertandingan tepat 1 jam berlangsung, 5 menit berselang tepatnya di menit 66,
tembakan keras Rizki Pora membentur tubuh pemain Thailand, sontak bola berubah
arah dan membuat kiper Thailand mati langkah. 1-1! Pakansari bersorak dan
mungkin juga demikian dengan tempat di mana kalian menyaksikannya kala itu. Saya
jingkrak-jingkrakan di atas tribun. Yes! 1 gol sebagai bukti bahwa kita tampil
di partai puncak memang untuk menantang mereka, melawan mereka, bukan hanya
duduk terdiam dan membiarkan mereka mendapatkan gelar ke-5 nya. Gol itu
mengubah segalanya, kini Indonesia yang memegang kendali pertandingan. Tak
berselang lama, 5 menit setelah gol pertama tendangan Zulham Zamrun (seperti)
masuk ke gawang Thailand, apalagi posisi saya yang berada di tribun utara mengira tembakan tersebut masuk. Rupanya melebar, hanya menyentuh jaring saja dan
menghasilan sepak pojok untuk Timnas, ah sialan!. Saya lupa siapa yang berjalan
ke garis penjuru untuk mengambil sepak pojok, namun saat pemain tersebut sedang berjalan saya berdoa dalam
hati “Ya Allah, plis, yang ini masuk”. Bola ditendang oleh pemain
tersebut, coming from behind, lagi-lagi kepala Hansamu Yama menyundul
bola itu, selanjutnya kita tau apa yang akan terjadi, masuk! Timnas berbalik
unggul 2-1! Pakansari pecah! YES! WE ARE LEADING NOW. Tersisa 15 menit menuju
peluit panjang, udara di Pakansari setelah gol kedua menjadi lebih sejuk entah
kenapa, padahal sepanjang pertandingan saya merasa gerah. Mungkin karena beban
dipundak ditambah habis mandi hujan. Tak terasa sang pengadil menuip peluit
panjang tanda berakhirnya pertandingan, Indonesia menang di Leg-I. Setelahnya
hujan kembali turun, cukup deras namun tidak sederas tadi siang, rupanya kali
ini hujan itu turun di dalam diri saya. Tangisan terharu untungnya. Bodo amat
yang bakal terjadi di Rajamangala! Malem ini harus kita rayakan! Pelukan dengan kawan, ketawa-ketiwi saat menuju parkiran, bahkan sebelum sampai rumah masing-masing, kami menyempatkan untuk mengisi perut dengan ayam bakar terlebih dahulu. Saya senang
bukan main malam itu. Walau setelahnya, ya... yang kita tahu, untuk kali ke-5 Timnas
kembali gagal di partai puncak.
Malam ini untuk ke-13 kalinya Timnas Indonesia tampil di ajang 2 tahunan itu, singkat saja kawan. 12 kali sudah kita tampil, 5 diantaranya sampai ke partai puncak, berapa kali pada akhirnya kita berpesta? 0! Realistis saja, mungkin emang Timnas sepakbola kita terlalu banyak dosa. Eh bukan Timnasnya, tapi pengurusnya, jadi memang ini balasan yang mesti kita tanggung entah sampai kapan. Atau sesederhana tulisan Pandit Football bahwa How if she just not loving you? PDKT 13 kali, nembak 5 kali, hasilnya ditolak semua. Simpel, dia emang gasuka sama lu. Udahlah, gausah sok-sok-an bilang “level kita bukan AFF, harusnya udah main di AFC” Wkwkwkwk boro-boro main di Asia, juara di lingkup Asean aja gapernah. Itu hanya keluar dari mulut pecundang yang tak kunjung mendapatkan hati gebetannya lalu bilang ke dunia “Ah ngapain sama dia, masih banyak ikan di laut” Pret!
So, be realistic my friend. Enjoy the game and don’t expect too much. Kita negara nonton bola, bukan negara bola.