Rabu, 16 September 2020

Sebab Katanya; Jakarta itu Kasih Sayang

KBBI memliki arti yang sangat “cetek” untuk sebuah rumah menurut saya: 1 bangunan untuk tempat tinggal; 2 bangunan pada umumnya (seperti gedung);- . Sebab bagi saya, rumah memiliki arti yang jauh lebih dari itu. Orang bijak pernah berkata,“Rumah adalah tempat yang paling ingin kau tinggalkan saat dewasa, namun menjadi tempat yang paling ingin kau tempati di masa tua”. Dan saya setuju untuk itu.

Mungkin saya sedikit terlambat untuk pergi dibandingkan teman-teman saya yang sudah memulainya 2-3 tahun yang lalu. Namun kali ini, perjalanan saya langsung jauh; 2.041 km! Itulah yang dikatakan oleh Google Maps. Sebagai “Agata”; Anak Gaul Jakarta, katanya, tinggal selama 2 dekade di Ibukota lebih dari cukup untuk memberikan saya banyak pelajaran. Mulai dari sakit se-sakit-sakitnya, juga merasa menjadi orang paling bahagia di kota, pernah saya alami. Bicara tentang "pergi", sangat belum terlambat saya kira. Walau ini bisa dibilang hanya “konsekuensi dari sebuah pilihan” dimana mau tidak mau harus berjalan lebih jauh mulai saat ini. Lagipula, pelaut hebat tidak hadir dari ombak yang tenang bukan? Untuk itu, mari kita jalan-jalan sebentar di Jakarta.

Ijinkan hamba menutur sebuah cerita
Yang terpenggal di selatan Jakarta
Bukan gegap gempita, serta baik buruk sarana
Tiada angan hampa penuh peluh ataupun nestapa
. – WSATCC (Kisah dari Selatan Jakarta)

“Anak Selatan”, seringkali disematkan kepada mereka-mereka yang gaul, ngomong campur-aduk antara Bahasa Indonesia juga Bahasa Inggris, pergi ke gigs tiap malam minggu, mabuk sampai pagi dibilangan Senoparty, atau sekedar makan-makan lucu di wilayah Kemang, atau mungkin ada lagi yang belum saya ketahui. Namun di samping itu semua, Selatan Jakarta mempunya sisi lain yang unik bagi saya. Di antaranya apalagi kalau bukan tawuran Manggarai yang seringkali pecah dengan sebab yang kadang tak bisa dijelaskan oleh siapapun, Petukangan; sebuah daerah yang bagi saya sangat bertolak belakang dengan “Selatan” yang dikenal oleh banyak orang, dan yang pasti Senayan. Apalagi yang terlintas jika mendengar nama senayan kalau bukan Gelora Bung Karno. Apa? Anda justru memikirkan gedung Parlemen itu? Ah, ayolah!

Gelora Bung Karno ibarat rumah kedua bagi kami; pecinta sepakbola kota ini. Matchday di tiap pekan adalah pelepas penat bagi kami-kami para pelajar maupun pekerja yang seringkali mendapat tekanan di tengah pekan. Tak heran memang jika sepakbola diidentikan dengan olahraga kelas bawah. Seringkali saya merasa pulang, atau setidaknya merasa makin memiliki kota ini. Melihat orang-orang yang menabuh drum di atas metro mini sambil menyanyikan chants pembangkit semangat masih jadi momen terbaik dalam berkendara di Ibukota. Tak heran, jika Gelora Bung Karno jelas menjadi tempat yang akan saya rindukan.

Bergerak ke arah Pusat. Saya mengamini bahwa tiap-tiap kita memiliki hubungan emosional dengan tanah kelahirannya, begitu pula dengan apa yang saya rasakan. Lahir di rumah sakit YPK Jakarta Pusat, berjalan-jalan di wilayah ini membuat saya tidak merasa asing sama sekali. Saya bahkan terkadang merasa bahwa setiap sudut wilayah ini adalah cerita yang tak pernah usai, maupun usang.

Berat nafasku terikat
Salemba menyimpan jiwa
Beku rintik hujan
Mengurung kenangan

,

Tajam tatapan matamu
Membunuh jiwa dan raga
Maafkan aku, Jakarta
Tentang kenangan lama akhir pekan berdua
. – The Sastro (Kaktus)

Lagu Kaktus dari The Sastro ini belum ada lawannya untuk mewakili kisah saya di wilayah Pusat Jakarta. Salemba, sebuah tempat dimana saya memulai kisah dengan seorang gadis. Saat sedang di tengah-tengah kompetisi futsal antar SMA di wilayah tersebut. Saya merasakan kedekatan kami yang makin hari makin intens hingga pada akhirnya resmi menjalani, dan tempat-tempat di Jakarta Pusat lah dimana kami menjadikannya sebagai latar tempat cerita kami, sisanya? Tinggal sejarah. Tepat seperti apa yang digambarkan lagu di atas; Saya minta maaf untuk Jakarta atas akhir pekan yang sudah lama tak saya kunjungi, sebab kini ia telah menjelma menjadi kenangan lama.

Ya, begitulah cerita singkat saya atas Jakarta. Saya benar-benar akan merindukan tiap derapnya. Umpatan orang-orang di Jalanan, berita-berita ngawur televisi dari yang (katanya) “elit” Ibukota, orang tua lebih dari setengah abad dengan langkah terseok di dalam angkutan umum saat malam hari, tawuran antar pelajar ataupun warga, muda-mudi yang tertangkap basah ciuman di taman kota karena tak lagi bisa membendung hasrat yang sudah menggelora, teriakan suporter Ibukota, intro-intro musik yang dimainkan band kesayangan di akhir pekan, bau minuman keras yang keluar dari mulut orang-orang yang terlambat pulang, dan Stasiun Senen; tempat dimana banyak pertemuan dan perpisahan terjadi, tempat teromantis di Jakarta bagi saya.

Entahlah, masih banyak lagi yang ingin ceritakan namun sangat sulit untuk mendeskripsikannya. Terakhir, izinkan saya untuk menyangkal Adhitia Sofyan atas lagu Forget Jakarta-nya;

Bung! Jakarta tidak pernah terlupakan, apalagi dilupakan. Ia akan tetap tumbuh di hati orang-orang yang pernah singgah di kota ini. Jakarta adalah bagian dari cerita hidup mereka. Jakarta adalah Ibu, tempat dimana kepulangan setelah jauh berpetualang.

Sebab katanya; nyatanya; Jakarta itu Kasih Sayang.

  

Selasa, 08 September 2020

Thamrin-Sudirman Sekali Lagi

Aneh. Ya, satu kata yang sepertinya cukup untuk menggambarkan apa yang saya rasa sekarang. Tersisa hanya beberapa hari sebelum melakukan penerbangan dan menetap untuk waktu yang cukup lama di tempat yang baru, hari-hari saya hanya diisi dengan pindah dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain. Dan tak ada yang lebih aneh selain bertemu untuk berpamitan.

Malam ini motor saya melaju ke sebuah tempat di pusat Ibukota, Thamrin 10 tepatnya. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah malam ini suasana di tempat itu sangat lengang, hanya beberapa pengunjung yang bisa saya lihat malam ini. “Kalo malem kerja begini mah emang sepi mas, malem minggu noh biasanya rame, ada musik juga kadang-kadang” ujar seorang satpam yang sebelumnya saya tanyakan mengenai tempat parkir. Dan setelah itu bertemulah saya dengan wajah-wajah yang sudah cukup lama tak pernah saya lihat. Menyebalkannya justru pertemuan ini untuk “berpamitan” sebelum pergi.

Selesai pada pertemuan itu saya kembali membuka catatan dan mencoret satu dari daftar pertemuan yang sudah saya susun sebelumnya. Tersisa beberapa wajah lagi yang akan saya temui, berbincang, berterima kasih, mengucap maaf, juga meminta doa. Jam menunjukkan pukul 22.00, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan kali ini memilih untuk melintasi jalan Thamrin dan Sudirman sekali lagi.

Bagi saya, kalau mau tau apa itu Jakarta, coba saja untuk melintasi jalan ini di malam hari. Satu pesan saya: Jangan naik mobil pribadi! Gunakan motor, atau angkutan umum, atau jika ingin merasakan syahdunya gesekan antara sepatu bagusmu dengan trotoar yang punya banyak cerita ini, silahkan jalan kaki. Dan kali ini, seperti biasa saya menggunakan motor untuk melintasinya. Membuka sedikit kancing jaket saya, membiarkan angin malam Jakarta yang katanya “jahat” masuk seolah percaya kalau “teman tak akan menyakiti”.

Menunggu di lampu merah Sarinah, melihat ojek-ojek online yang seperti tidak ada capeknya mengantar. Lampu berubah hijau, saya menarik gas saya perlahan, tak usah buru-buru karena sedang tak ada yang dikejar. Melihat halte transjakarta di dekat HI dengan lampunya yang sangat terang berkilauan, cocok untuk spot foto. Sepersekian detik saya menajamkan mata saya sedikit lebih fokus, terlihat seorang bapak-bapak dengan rambutnya sudah memutih sedang menunggu bus berikutnya. Di kota yang hectic ini, di jam segini, kemana ia hendak pergi? Apa cucunya sedang ada halangan ya sehingga tak bisa menjemput?

Selanjutnya, mata saya tertuju pada patung selamat datang dengan air mancurnya yang menawan. “Eh gua suka loh liat city-lights Jakarta. Lo iya ga?” Hah? Suara siapa itu? Saya melihat ke jok belakang, kali ini kepala saya benar-benar memutar hampir 180o, kosong. Ah! Saya tau, itu suara dari mulut seseorang yang malam minggu kemarin saya bawa untuk mengitari jalanan ini juga. Sayang dia telah kembali ke tanahnya, tanah Sumatera, namun suaranya masih cukup jelas.

Lanjut menuju Sudirman, melihat kakak-kakak dengan muka lelah, lalu menerka apa kesalahannya sampai mungkin ia dicaci oleh bosnya? Atau kabar buruk apa yang barusan dia dapat? Atau juga mengira berapa banyak tanggungan yang sedang ia pikul? Ah kak, semoga dugaan saya salah semua. Tiba-tiba klakson dari arah belakang seolah menghantam saya. Saya balas dengan senyum tipis, “Tenang, tak perlu marah, Bung. Kapan lagi diklaksonin? Di sana kan jalanan sepi” kali ini saya berbicara dengan diri sendiri. Lantas setelahnya, mengambil lajur sedikit ke kiri. Eitss, jangan kiri banget tapi, ada cukup banyak pesepeda yang masih bersemangat mengayuh pedalnya, walau kondisi jalanan bisa dibilang cukup lengang untuk sebuah Kota Metropolitan malam ini.

Sebelum memutar balik di Ratu Plaza, saya sempat memerhatikan para supir taxi yang sedang turun dari taxinya, mematikan mesin, dan memilih untuk berbincang bersama rekan-rekan. Di depan, terpampang jelas layar-layar LED raksasa dengan berbagai iklan seolah-olah menyambut siapa saja yang melihatnya.

Dan ya, itu GBK! Sudah lama sekali saya tidak duduk di kursi tribunnya. Ah, sulit menjelasakan hubungan emosional yang terbangun dengan tempat ini. “Tempat yang akan gua rindukan di Jakarta nih”. Kali ini kata-kata saya kepada seseorang di belakang saya malam minggu lalu. Setelahnya, gelap. Hanya remang-remang malam yang menuntun saya sampai tiba di kediaman saya. Membuka pintu, dan disambut oleh dua buah koper yang bahkan masih diplastikin seolah-olah berkata, “kapan siapnya nih bos?”. Saya hanya menggangguk, lalu berjalan ke arah kamar.

Thamrin – Sudirman sekali lagi, untuk semua cerita yang pernah tersimpan, mengembang, dan biarkan ia melayang.