Minggu, 05 April 2020

Corona: Pengangguran dan Kebosanan


Corona, sebuah virus yang mengubah segalanya. Masih cukup jelas diingatan kita bagaimana pada awalnya virus ini cenderung diremehkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tubuh yang kebal karena sering makan makanan yang tidak sehat, bisa dilawan cukup dengan tolak angin, adalah salah dua kalimat yang sering diucapkan awalnya. Hingga tiba di hari dimana ditemukannya kasus virus ini pertama kali di Indonesia, tepatnya di Depok, barulah semua orang mulai panik. Dan, ya, di sini lah kita sekarang. Melakukan karantina entah sudah di hari keberapa, hanya bisa menatap kosong dinding-dinding rumah, melihat acara televisi dengan tema berulang, sampai cuitan di dunia maya-pun semuanya berisi hal yang sama. Siapa yang menyangka bahwa kita adalah saksi terjadinya karantina umat manusia terbesar yang pernah ada dalam sejarah?

Jika berbicara mengenai virus ini terlalu jauh, semuanya juga pasti sudah muak, begitupun saya. Seperti hal nya sebuah tulisan, paragraf pertama memang biasanya hanya berisi pengantar, ataupun basa-basi tai kucing sebelum masuk ke inti permasalahan. Jadi, intinya, pada tulisan ini, sekiranya ada dua hal yang ingin saya sampaikan dan cukup mengusik saya. Dan dua hal itu memang disebabkan oleh corona sialan ini. Pertama, saya tak habis hati melihat orang-orang yang mulai kehabisan biaya (baca: uang) dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Beberapa hari yang lalu melalui laman twitter, salah satu akun melakukan cuitan yang kira-kira berisi; “Yang lebih mengerikan dari banyaknya jumlah orang yang meninggal akibat virus ini adalah, lebih banyaknya orang yang mengalami pemutusan kerja sepihak. Dan salah satunya adalah saya”. Saya diam sejenak, menghela napas.

Dia bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal demikian. Seringkali saya temukan juga cuitan senada seperti itu. Pemutusan kerja sepihak memang sesuatu yang tak bisa dihindari saat situasi seperti ini. Bagaimana tidak, saat tidak ada pemasukan kas pada sebuah entitas produksi, bagaimana cara dia melakukan pengeluaran untuk membayar gaji para pekerjanya? Jalan pintas yang dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah mengorbankan orang-orang yang berada di level paling bawah dalam sebuah hierarki, yaitu para pekerja kasar. Banyak yang memprediksi hal ini masih akan terus berlangsung. Sampai-sampai banyak sekali himbauan agar tetap berhemat demi menjaga kelangsungan hidup. Beberapa orang mulai kembali bergerak mengeluarkan ijazah, membuat CV, demi melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Persetan dengan social distancing, ga keluar ga makan bos. Dan mereka-mereka yang dikalahkan oleh kota kejam kesayangan ini? Mereka lebih memilih pulang. Tai kucing larangan mudik, yang penting bisa ketemu keluarga, menenangkan diri, dan mulai lagi usaha baru di tanah yang berbeda. Perut tak kenal kawan, apalagi lawan. Yang bisa menjamin kita hidup adalah diri kita sendiri. Dan untuk itu, mari kita doakan para kelas pekerja yang tiap pagi masih harus memacu kecepatannya. Entah untuk keluarga yang menanti, ataupun diri sendiri. Dan untuk mereka yang terkena imbas dari apa yang terjadi ini, semoga semua cepat mereda.

Kedua, kebosanan. Yap, kebosanan adalah kata yang amat menjengkelkan dan tidak bisa kita pungkiri bahwa ia kini telah menjadi kawan akrab. Hal-hal yang biasa dilakukan untuk melepas penat-pun menjadi hilang maknanya saat berubah menjadi kebiasaan. Bermain game, nonton film di website illegal, atau bahkan netflix and chill¸ menjadi sesuatu yang cukup memuakkan sekarang. Saya atau mungkin juga ada beberapa orang yang sepertinya sudah sampai di titik “males ngapa-ngapain tapi kesal karena kebosanan”. Rasanya, hari-hari hanya diisi oleh hal yang sifatnya kebutuhan saja seperti makan, minum, buang air, dan sisanya; “ah pikirin besok aja”.
Jarak memang dibutuhkan, saya setuju akan itu. Bumi Manusia karya Pram itu jika tidak ada spasi di tiap katanya juga tidak akan jadi Best-Seller sepanjang masa Indonesia kan? Lagu terbaik sekalipun jika tidak ada jeda dalam tiap nadanya juga tak akan terasa indah. Dan juga mungkin hubunganmu. Bila tidak ada jarak maka kau tak akan pernah mengenal rindu, bukan? Ah, tapi persetan semua itu. Sampai kapan semua ini? Terlalu lama juga tidak baik, Bung.
Mengandai-andai apa yang akan dilakukan pertama kali saat semua ini selesai, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sorakan orang-orang terhadap intro lagu yang mulai dinyanyikan saat ia kembali bisa menyaksikan band kesukannya, bau khas daging saat kembali bisa merasakan makan “All You Can Eat” bersama teman-teman, pelukan atas terbayarnya rindu yang selama ini membelenggu, atau bahkan teriakan khas supporter Ibukota saat announcer berkata; “Ladies and Gentlemen, Welcome to Gelora Bung Karno Main Stadium”. Ya, kita memang merindukan hal-hal itu. Semoga ini semua cepat berakhir.
Bicara kebosanan mungkin tidak akan ada habisnya dan tidak ada cara yang pasti untuk mengakhirinya. Lagipula, memang sebahagia apa sih kita sebelum semua ini dimulai? Bukankah ujung-ujungnya juga bosan lalu meninggalkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar