Corona, sebuah virus yang mengubah segalanya.
Masih cukup jelas diingatan kita bagaimana pada awalnya virus ini cenderung
diremehkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tubuh yang kebal karena
sering makan makanan yang tidak sehat, bisa dilawan cukup dengan tolak angin,
adalah salah dua kalimat yang sering diucapkan awalnya. Hingga tiba di hari
dimana ditemukannya kasus virus ini pertama kali di Indonesia, tepatnya di
Depok, barulah semua orang mulai panik. Dan, ya, di sini lah kita sekarang.
Melakukan karantina entah sudah di hari keberapa, hanya bisa menatap kosong
dinding-dinding rumah, melihat acara televisi dengan tema berulang, sampai cuitan
di dunia maya-pun semuanya berisi hal yang sama. Siapa yang menyangka bahwa
kita adalah saksi terjadinya karantina umat manusia terbesar yang pernah ada
dalam sejarah?
Jika berbicara mengenai virus ini terlalu jauh,
semuanya juga pasti sudah muak, begitupun saya. Seperti hal nya sebuah tulisan,
paragraf pertama memang biasanya hanya berisi pengantar, ataupun basa-basi tai
kucing sebelum masuk ke inti permasalahan. Jadi, intinya, pada tulisan ini,
sekiranya ada dua hal yang ingin saya sampaikan dan cukup mengusik saya. Dan dua
hal itu memang disebabkan oleh corona sialan ini. Pertama, saya
tak habis hati melihat orang-orang yang mulai kehabisan biaya (baca: uang)
dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Beberapa hari yang lalu melalui laman
twitter, salah satu akun melakukan cuitan yang kira-kira berisi; “Yang lebih
mengerikan dari banyaknya jumlah orang yang meninggal akibat virus ini adalah,
lebih banyaknya orang yang mengalami pemutusan kerja sepihak. Dan salah satunya
adalah saya”. Saya diam sejenak, menghela napas.
Dia bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal
demikian. Seringkali saya temukan juga cuitan senada seperti itu. Pemutusan
kerja sepihak memang sesuatu yang tak bisa dihindari saat situasi seperti ini.
Bagaimana tidak, saat tidak ada pemasukan kas pada sebuah entitas produksi,
bagaimana cara dia melakukan pengeluaran untuk membayar gaji para pekerjanya?
Jalan pintas yang dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah mengorbankan
orang-orang yang berada di level paling bawah dalam sebuah hierarki, yaitu para
pekerja kasar. Banyak yang memprediksi hal ini masih akan terus berlangsung. Sampai-sampai
banyak sekali himbauan agar tetap berhemat demi menjaga kelangsungan hidup.
Beberapa orang mulai kembali bergerak mengeluarkan ijazah, membuat CV, demi
melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Persetan dengan social
distancing, ga keluar ga makan bos. Dan mereka-mereka yang dikalahkan oleh
kota kejam kesayangan ini? Mereka lebih memilih pulang. Tai kucing larangan
mudik, yang penting bisa ketemu keluarga, menenangkan diri, dan mulai lagi usaha
baru di tanah yang berbeda. Perut tak kenal kawan, apalagi lawan. Yang bisa
menjamin kita hidup adalah diri kita sendiri. Dan untuk itu, mari kita doakan
para kelas pekerja yang tiap pagi masih harus memacu kecepatannya. Entah untuk
keluarga yang menanti, ataupun diri sendiri. Dan untuk mereka yang terkena
imbas dari apa yang terjadi ini, semoga semua cepat mereda.
Kedua, kebosanan. Yap, kebosanan adalah kata yang amat
menjengkelkan dan tidak bisa kita pungkiri bahwa ia kini telah menjadi kawan
akrab. Hal-hal yang biasa dilakukan untuk melepas penat-pun menjadi hilang
maknanya saat berubah menjadi kebiasaan. Bermain game, nonton film di
website illegal, atau bahkan netflix and chill¸ menjadi sesuatu yang
cukup memuakkan sekarang. Saya atau mungkin juga ada beberapa orang yang sepertinya
sudah sampai di titik “males ngapa-ngapain tapi kesal karena kebosanan”. Rasanya,
hari-hari hanya diisi oleh hal yang sifatnya kebutuhan saja seperti makan, minum,
buang air, dan sisanya; “ah pikirin besok aja”.
Jarak memang dibutuhkan, saya
setuju akan itu. Bumi Manusia karya Pram itu jika tidak ada spasi di
tiap katanya juga tidak akan jadi Best-Seller sepanjang masa Indonesia
kan? Lagu terbaik sekalipun jika tidak ada jeda dalam tiap nadanya juga tak
akan terasa indah. Dan juga mungkin hubunganmu. Bila tidak ada jarak maka kau
tak akan pernah mengenal rindu, bukan? Ah, tapi persetan semua itu. Sampai kapan
semua ini? Terlalu lama juga tidak baik, Bung.
Mengandai-andai apa yang
akan dilakukan pertama kali saat semua ini selesai, saya tidak bisa
membayangkan bagaimana sorakan orang-orang terhadap intro lagu yang
mulai dinyanyikan saat ia kembali bisa menyaksikan band kesukannya, bau khas
daging saat kembali bisa merasakan makan “All You Can Eat” bersama
teman-teman, pelukan atas terbayarnya rindu yang selama ini membelenggu, atau
bahkan teriakan khas supporter Ibukota saat announcer berkata; “Ladies
and Gentlemen, Welcome to Gelora Bung Karno Main Stadium”. Ya, kita memang merindukan hal-hal itu. Semoga ini semua cepat berakhir.
Bicara kebosanan mungkin
tidak akan ada habisnya dan tidak ada cara yang pasti untuk mengakhirinya.
Lagipula, memang sebahagia apa sih kita sebelum semua ini dimulai? Bukankah
ujung-ujungnya juga bosan lalu meninggalkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar