Selasa, 11 Desember 2018

Jangan-jangan Kita Semua adalah Mafia


Sebelumnya saya harus jelaskan. Saya menulis ini berdasarkan berita atau informasi yang saya dapat sebagai followers dari akun @MafiaWasit dan @Footballnesia di twitter. Dan jika tulisan ini dirasa tendensius, itu disebabkan karena saya adalah penggemar dari Persija Jakarta. Baik, mari kita mulai…

Belakangan ini, kata “Mafia” adalah kata yang paling sering diucapkan oleh penggemar sepakbola lokal. Isu tersebut memang sudah lama menjadi buah bibir di dalam persepakbolaan tanah air. Tak terkecuali di tahun ini.

9 Desember 2018, Persija Jakarta resmi menjadi Juara Liga 1 2018. Pencapaian ke-11 dikasta sepakbola tertinggi Indonesia. Isu mafia pun sangat kencang didengungkan. Saya yang menonton pertandingan tersebut secara langsung memang merasakan ada sedikit yang mengganjal di hati saya saat peluit panjang dibunyikan. “Ini beneran settingan ga sih?” Tanya saya dalam hati. Bahkan, saat pertandingan berlangsung pun, saya sesekali sempat berdebat dengan guru saya yang pada saat itu menonton bersama saya.

Gol pertama, saya rasa wasit sedikit keliru dalam mengambil keputusan. Rasa-rasanya Marko Simic, penyerang Persija Jakarta, tidak mendapatkan kontak yang berarti.

Di-gol kedua, lagi-lagi saya rasa sang wasit mengambil keputusan yang kurang tepat. Saya yang menonton langsung-pun awalnya merasa bingung, mengapa para pemain Mitra Kukar melakukan protes keras kepada wasit. Hal itu membuat saya langsung mencari cuplikan gol tersebut di social media melalui telepon genggam saya. Saat saya dapati, video tersebut saya ulang berkali-kali. Dan saya merasa, ya memang ada sedikit kontak walau sangat minim. Tapi, hal itu terjadi di dalam kotak penalty Mitra Kukar yang artinya daerah tersebut adalah 100% murni wilayah kekuasaan sang Kiper. Tapi saya menganggap hal ini memang luput dari penglihatan sang wasit. Saya yang menonton langsung saja tidak melihatnya secara jelas. Padahal, hal itu tepat terjadi di depan tribun saya menonton. Namun, kita tidak bisa terus seperti ini. Kita terlalu sering “me-maklumi” kesalahan-kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, apalagi dipertandingan yang sangat penting ini, seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Di pertandingan yang sangat penting ini, PT.LIB sebagai operator seharusnya menggunakan jasa wasit yang lebih kompeten. Berapa banyak kesalahan wasit di Liga 1 musim ini? Hal ini juga menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan karena pertandingan ini menjadi pertandingan penentuan gelar Juara.

Peluit panjang dibunyikan. Saya terdiam. “Anjrit, si Mbah bener lagi”. Maksudnya?


2 hari sebelum dilangsungkannya partai pamungkas antara Persija Jakarta dan Mitra Kukar, akun @MafiaWasit ini sudah memprediksi skor akhir dari pertandingan tersebut. Awalnya saya tidak percaya, oleh karena itu saya menyimpan cuitan tersebut terlebih dahulu dengan cara me­-likes­-nya.

Jauh sebelum liga dimulai, akun ini juga pernah berkicau seperti ini;


Tidak seperti salah satu mantan pemain Timnas yang memprediksi gelar juara saat pertandingan menyisakan 3 partai, akun ini sudah meramalnya 1 tahun yang lalu. Saat liga belum dimulai. Rasa heran saya tambah memuncak. “Apa iya Persija saya ini juara setinggan?”

Mari kita bahas satu per satu, mengapa Persija dikatakan sebagai juara setingan:
1.    Cuitan dari akun-akun di atas
Tidak  bisa dipungkiri, akun-akun tersebut memang sudah memberikan opini baru bagi para penikmat bola lokal. Ditambah lagi, tayangan Mata Najwa beberapa minggu yang lalu. Output dari tayangan tersebut bagi saya memberi dampak yang sedikit negatif. Saat ada kejanggalan dalam sebuah pertandingan, dengan mudahnya para penonton berteriak “Mafia”. Kita masih ingat, beberapa hari setelah acara ini, dilangsungkan semi-final Liga 2 antara Persita Tangerang melawan Kalteng Putra. Persita yang kala itu tertinggal, membuat para penggemarnya berteriak bahwa itu adalah settingan mafia. Tidak hanya itu, para penggemar Persita pun melakukan kerusuhan di dalam Stadion Pakansari, Cibinong. Padahal, jika kita sedikit lebih bijak, pada pertandingan tersebut memang Kalteng Putra bermain lebih baik dibandingkan Persita yang menurut hemat saya memang lebih pantas melaju ke babak final. Kemudian, jika kita mundur 1 hari kebelakang, diberlangsungkan partai yang amat krusial antara Bhayangkara FC dan PSM Makassar, teriakan mafia beberapa kali terdengar dari tribun penonton PSM Makassar yang melakukan away days ke Stadion PTIK, markas Bhayangkara FC. Padahal, dimenit 70-an (jika salah mohon dikoreksi), gol pemain Bhayangkara FC dianulir karena menurut wasit sudah berada dalam posisi offside. Namun, jika kita melihat tayangan ulangnya, gol tersebut sama sekali tidak offside. Pertanyaan saya, lalu siapa mafia nya?
2.    Mudahnya Persija merubah jadwal
Pada musim ini, Persija Jakarta mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam turnamen kasta kedua Asia, AFC Cup. Hal tersebut membuat jadwal Persija menjadi sangat padat. Ditambah lagi, tahun ini kembali digelar turnamen Piala Indonesia. Disini, saya melihat bahwa operator liga tidak becus dalam membuat jadwal. Persija merupakan wakil Indonesia di AFC Cup. Namun, mengapa jadwalnya sangat tidak masuk akal? Yang paling saya ingat adalah saat akan bertandang ke Serui. 2 hari berselang, Persija harus melakoni partai tandang dalam lanjutan AFC Cup melawan Tampines Rovers di Singapura. Apa ini tidak gila?
3.    Barisan sakit hati
“Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” adalah pepatah yang paling tepat untuk saya gunakan sekarang. Rival dari Kota Kembang adalah mereka yang paling lantang bersuara terkait isu mafia ini. Padahal, PSM Makassar yang sampai akhir musim menjadi pesaing Persija Jakarta dalam merebut gelar tidak se-berisik mereka. Sebelumnya, saat mereka berhasil menjadi Juara (paruh musim) hal ini tidak terdengar sama sekali. Dengan jumawanya mereka mengungkapkan kalimat dengan nada merendahkan klub kesayangan saya. Namun, setelah terjadinya sanksi akibat hilangnya nyawa saudara saya di Bandung (Al-Fatihah untuk Alm. Haringga). Kekalahan demi kekalahan terus mereka dapatkan sampai akhirnya tergeser dari puncak klasmen. Pendukung Persija, tidak tinggal diam. Isu Juara settingan tahun ini mereka tepis mentah-mentah. “Kemana aja? Baru teriak mafia pas tim-nya kegusur. Kalo ga kegeser paling diem aja. Minta keadilan? Pembunuh minta keadilan?” kalimat tersebut menjadi kalimat penyangkal dari pendukung tim rival yang selalu menyebut bahwa Liga ini sudah diatur. Jika memang benar-benar ada mafia yang bermain di dalam, ya buktikan! Lapor kepada operator liga. Jangan hanya berteriak atas dasar kebencian. Saya pun sebagai penggemar Persija juga ingin tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Jangan malah memprovokasi dengan play victim. Saat di atas, kalian teriak “Kami yang terbaik”, saat di bawah, mudahnya kalian teriak ini semua mafia.

Sejak kapan Anda mendengar bahwa Liga Indonesia ini telah terjangkit mafia? Apakah baru musim ini? Omong kosong. Jika memang Liga kita ini sudah diatur, artinya, juara-juara dari musim sebelumnya juga melakukan hal yang sama. Namun, mengapa mereka berteriak paling lantang akan masalah ini? Lagi-lagi sederhana. Karena yang jadi juara adalah kami, Persija Jakarta! Kemana mereka saat musim lalu? Saat Bhayangkara FC menjadi juara dengan cara yang sangat kontroversial (mendapat tambahan 3 poin gratis)?  Sejatinya, kita semua adalah korban dari Liga Kampret ini.

Ada cerita unik saat Persik Kediri menjadi Juara di tahun 2006, dalam cuitan akun @Footballnesia, ia menceritakan bahwa pada saat Persik Kediri menjadi Juara Liga Indonesia 2006, De Porras dan beberapa rekannya yang menjadi pemain PSIS Semarang kala itu dijebak untuk dugem dan mabuk saat malam sebelum pertandingan melawan Persik Kediri. Alhasil esok paginya, para pemain PSIS bermain loyo dan membuat Persik Kediri menjadi Juara Liga Indonesia ditahun tersebut. Padahal ditahun tersebut harusnya jatah dari PSIS Semarang.

Lihat! Sejak tahun 2006 pun, Juara liga sudah diatur, artinya ditahun 2014 juga dong? Loh loh, kok bawa-bawa 2014? Ya wong kenyataannya memang gitu kok. Makanya saya heran, mengapa mereka paling berisik, tidak kah pernah mereka bekaca sedikitpun?

Beberapa minggu yang lalu, sempat terjadi tweetwar antara salah satu pendukung Persija dan pendukung dari klub Ibukota Jawa Barat itu mengenai Juara Liga di tahun 2014. Pendukung biru barat itu berdalih, bahwa 2014 seharusnya yang juara adalah Arema. Namun mereka ((melawan kemustahilan)) dan ((langit berkata lain)) sehingga merekalah yang menjadi juara. Lelucon macam apa ini?


2013, 1 tahun sebelum mereka menjadi juara, akun @Footballnesia berkicau seperti ini.

Masih kurang?


Begitulah. Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut di seberang lautan jelas terlihat. Jika Anda berkenan untuk saya ajak mundur sedikit kebelakang, kita masih ingat bahwa Mario Gomez yang menjadi pelatihnya pun menuduh bahwa para pemainnya terlibat dalam isu suap. Atau yang paling baru, 2 pemain sama-sama berseragam biru itu terlibat pertikaian di atas lapangan. Terlalu sibuk mengurusi dapur orang lain, sampai-sampai lupa bahwa dapur sendiri sudah lama tidak ngebul.

Pertanyaannya sekarang, mengapa para mafia ini masih berkeliaran? Ada 2 jawaban menurut saya. Pertama, adanya tim-tim yang sok kaya padahal aslinya miskin. Mereka tidak mampu membayar pemainnya. Akibatnya, para pemainnya ditunggak gajinya. Disini lah para mafia ini masuk. Mereka “membayar” para pemain ini. Ketimbang dapur rumah tidak ngebul, gaji tidak dibayar, ya lebih baik sekalian saja jadi pemain bayaran. Kedua, hal ini adalah yang paling miris jika terjadi; jangan-jangan, Juara Liga kita ini memang seperti arisan yang tinggal bayar lalu menunggu jatahnya.

Kesimpulannya apa? Saya berpendapat bahwa Liga ini mungkin memang sudah diatur. Mengapa saya masih menggunakan kata mungkin? Ya karena semua ini masih menguap begitu saja. Belum benar-benar ada bukti yang valid. Sampai bukti itu hadir, dari tahun berapa, siapa saja yang terlibat,  barulah kita harus benar-benar  berbenah. Kita semua, tanpa terkecuali.

Mengapa saya dan rekan-rekan Jakmania seolah tutup telinga atas tuduhan ini? Jawaban saya, karena selama ini belum ada bukti yang valid. Semuanya hanyalah opini yang justru menyebabkan perpecahan. Kami sudah lelah atas  tuduhan yang cuma didasari kebencian. Sebagai supporter, boleh lah kami merayakan penantian atas 17 tahun menunggu seperti apa yang mereka rasakan di 2014 saat sudah menunggu lebih dari 2 dekade. Toh sebagai supporter memang tugas kita untuk menyemangati dan merayakannya. Kini izinkan sejenak Jakarta berpesta. Sampai terbukti semuanya. Cepat atau lambat, semoga waktu bisa menjawabnya dengan tepat.


Jika setelah ini terbongkar. Saya mohon dengan sangat agar dibongkar dari awal. Jangan hanya tahun ini saja. Harus benar-benar sampai ke akarnya. Jangan sampai malah membuat kekacauan yang baru. Karena sejatinya kita semua adalah korban.

Setelah ini, sebaiknya kita tundukkan kepala kita untuk mereka yang sudah mendahului kita dengan cara yang konyol akibat sepakbola yang ternyata sudah diatur ini.

Di atur? 2019 siapa ya?



We’ll see…

Akhir kata, saya ingin menutup essai ini dengan mengutip apa yang dicuitkan dalam akun @sepakbolajakarta

“Di bawah dihina, Juara di fitnah
11 kali, tanpa degradasi
Kami yang terbaik di Negeri ini.
Hated, adoRED, never ignoRED”.
.
.
.
Selesai.

Senin, 22 Oktober 2018

Timnas U-19 Pahlawan, Sedangkan Kami adalah Pecundang



“Anjrit itu nomor 7, kenceng banget tendangannya”. Kalimat itu secara spontan keluar dari mulut saya, sesaat setelah pemain Qatar U-19 bernomor punggung 7 melepaskan sepakan keras ke gawang Timnas Indonesia U-19 yang dijaga oleh Muhammad Riyandi. Lepas dari pertahanan Indonesia yang memang kacau tadi malam, namun harus saya akui, pemain nomor 7 ini memang sangar bagaikan monster didepan gawang Timnas kita. Skor 1-4 pun menutup babak pertama. Saya menghela nafas panjang sembari membuka lini masa twitter saya yang penuh dengan kekecewaan atas buruknya pertahanan Timnas malam ini. Saat babak pertama, saya terus berteriak lantang. Mulai dari bernyanyi sampai berujung dengan amarah atas buruknya koordinasi di lini pertahanan Timnas kita. Saat jeda babak pertama, saya dan kawan saya tak banyak bicara. Hanya memandangi para pemain melakukan pemanasan.

Kick off babak kedua dimulai, tribun sektor saya masih terdiam. Saya yang sejak menit 1 sampai babak pertama usai berdiri, memutuskan untuk duduk saat babak kedua berlangsung. Belum lama babak kedua dimulai, gol ke 5 hadir untuk Timnas Qatar U-19. Saya yang awalnya marah, menjadi kecewa sekaligus sedih. Saya yang awalnya berteriak penuh emosi tiap Timnas kita kebobolan, berubah menjadi tertunduk lesu dan menutup mata. Saya tak tega melihat teman-teman U-19 ini dipecundangi di tanah sendiri. Kemudian, tidak berselang lama dari gol ke 5, lewat sisi kiri pertahanan Timnas kita, (lagi-lagi) pemain nomor 7 itu, menerima through pass dari rekannya kemudian langsung melakukan sprint yang berujung dengan sepakan keras yang membuat jala Muhammad Riyandi bergetar untuk yang ke 6 kalinya. Saya sudah tak sanggup lagi melihat para pemain Qatar berselebrasi, sesaat setelah gol tersebut, saya hanya melihat kebawah, ke arah ujung sepatu saya. “Balik aja yuk?” sontak keluar dari mulut saya. Tanpa pikir panjang, kawan saya langsung meng-iya-kan ajakan saya. Saya benar-benar tidak tega apabila gawang Muhammad Riyandi kembali bergetar untuk ke 7, 8 ataupun entah itu keberapa kalinya.

Mungkin Anda bisa bilang “Halah, alasan!”. Tapi percayalah, sebelum ini saya pernah dikecewakan oleh hal yang sama, yaitu saat Leg-2 Semi-final AFC CUP antara Persija Jakarta melawan Home United. Persija yang saat itu hanya membutuhkan kemenangan 1-0 untuk bisa lolos ke Final Zona Asean justru malah gagal yang dimulai dari gol pertama yang terjadi akibat kesalahan Kiper saat itu. Saat itu saya marah, sangat marah. Namun kali ini, saya tidak merasakan amarah apapun. Justru yang saya rasakan hanyalah rasa tidak tega.

Keluar dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saya tidak langsung pulang. Saya memutuskan untuk duduk-duduk sembari minum dulu di area luar Stadion. Apalagi malam itu saya pergi dengan kawan lama saya saat SMP sehingga memutuskan untuk berbincang santai terlebih dahulu. Tidak lama saya keluar, gol ke 2 untuk Timnas datang. Penonton di dalam berteriak, kami masih saja berbincang. Tidak lama, teriakan itu terdengar kembali. Gol ke 3 Timnas Indonesia membuat skor menjadi 3-6. Kami memandangi satu sama lain lalu mata kami mengarahkan pandangan ke arah yang sama. Kami memandangi Stadion berkapasitas 70.000-an itu, masih tidak ada percakapan. Setelah itu kami beranjak menuju tempat dimana saya memarkirkan motor saya. Saat sedang berjalan, tiba-tiba didalam Stadion tersebut, terdengar lagi teriakan keras. Ya, skor berubah menjadi 4-6. “Masuk ga?” Saya langsung bertanya. Kawan saya bilang “Jangan”. Hal itu membuat saya kebingungan. “Kalo kita masuk, hasilnya mungkin bakal beda. Kalo kita tadi gakeluar, mungkin hasilnya gabakal begini” teman saya meneruskan. Saya langsung berpikir, mungkin benar. Saat ini sebaiknya memang saya tidak perlu masuk ke stadion itu. Mungkin ini memang sudah takdir saya untuk tidak menyaksikan pertandingan yang “gila” ini. Saat Anda membaca kalimat barusan, saya yakin Anda menilai saya tidak jelas, atau bahkan tidak masuk akal. Namun saya memang percaya itu. Bahkan ada suatu masa bahwa saya percaya jika saya menonton klub kebanggan luar negeri saya, pasti hasilnya akan kalah, namun jika saya tidak tonton justru berbuah menjadi sebuah kemenangan. Oleh karena itu, saya hanya berharap ada keajaiban saat saya tiba di parkiran motor nanti. Kami terus berjalan sampai akhirnya sampai di parkiran. Hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa telepon genggam saya. “5-6! Gila!” saya langsung membuka web streaming. Kami, seorang supporter yang memiliki tiket, malah menyaksikan pertandingan lewat layanan streaming disebuah parkiran. Eits, supporter? Duh, kami malu menyebut diri kami ini sebagai seorang supporter. 10 menit waktu tersisa, Timnas Indonesia terus memberikan serangan ke pertahanan Qatar. Peluang terakhir dimiliki oleh Luthfi Kamal, pemain bernomor punggung 7 Indonesia, melalui tendangan bebasnya. Bola sudah melengkung cantik namun masih bisa digagalkan oleh sang penjaga gawang. Skor tidak berubah, 5-6 menutup pertandingan. 5 untuk Indonesia, 6 untuk Qatar. Saya bangga dengan perjuangan Timnas U-19 ini. Saat para pemain Timnas di eluh-eluhkan bak Pahlawan, kami justru malah malu. Merasa menjadi pecundang karena meninggalkan saat sedang susah. Saat para supporter lain menganggap ini adalah pertandingan terbaiknya, kami malah merasa bahwa ini adalah pertandingan yang akan kami sesali seumur hidup. Tapi percayalah, kami tidak bermaksud seperti itu.

Akhir kata, terima kasih Garuda! Terus terbang tinggi ke langit angkasa, beri kabar baik pada Ibu Pertiwi agar ia tak lagi bersusah hati. Maafkan kami yang telah mengingkari janji bahwa menang, kalah, dan seri, akan tetap bernyanyi.