Sebelumnya
saya harus jelaskan. Saya menulis ini berdasarkan berita atau informasi yang
saya dapat sebagai followers dari
akun @MafiaWasit dan @Footballnesia di twitter. Dan jika tulisan ini dirasa
tendensius, itu disebabkan karena saya adalah penggemar dari Persija Jakarta.
Baik, mari kita mulai…
Belakangan
ini, kata “Mafia” adalah kata yang paling sering diucapkan oleh penggemar
sepakbola lokal. Isu tersebut memang sudah lama menjadi buah bibir di dalam
persepakbolaan tanah air. Tak terkecuali di tahun ini.
9
Desember 2018, Persija Jakarta resmi menjadi Juara Liga 1 2018. Pencapaian
ke-11 dikasta sepakbola tertinggi Indonesia. Isu mafia pun sangat kencang
didengungkan. Saya yang menonton pertandingan tersebut secara langsung memang
merasakan ada sedikit yang mengganjal di hati saya saat peluit panjang
dibunyikan. “Ini beneran settingan ga sih?” Tanya saya dalam hati. Bahkan, saat
pertandingan berlangsung pun, saya sesekali sempat berdebat dengan guru saya yang
pada saat itu menonton bersama saya.
Gol
pertama, saya rasa wasit sedikit keliru dalam mengambil keputusan. Rasa-rasanya
Marko Simic, penyerang Persija Jakarta, tidak mendapatkan kontak yang berarti.
Di-gol
kedua, lagi-lagi saya rasa sang wasit mengambil keputusan yang kurang tepat. Saya
yang menonton langsung-pun awalnya merasa bingung, mengapa para pemain Mitra
Kukar melakukan protes keras kepada wasit. Hal itu membuat saya langsung
mencari cuplikan gol tersebut di social
media melalui telepon genggam saya. Saat saya dapati, video tersebut saya ulang berkali-kali. Dan saya merasa, ya memang
ada sedikit kontak walau sangat minim. Tapi, hal itu terjadi di dalam kotak penalty Mitra Kukar yang artinya daerah
tersebut adalah 100% murni wilayah kekuasaan sang Kiper. Tapi saya menganggap
hal ini memang luput dari penglihatan sang wasit. Saya yang menonton langsung
saja tidak melihatnya secara jelas. Padahal, hal itu tepat terjadi di depan
tribun saya menonton. Namun, kita tidak bisa terus seperti ini. Kita terlalu
sering “me-maklumi” kesalahan-kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, apalagi
dipertandingan yang sangat penting ini, seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.
Di pertandingan yang sangat penting ini, PT.LIB sebagai operator seharusnya menggunakan jasa wasit yang lebih kompeten.
Berapa banyak kesalahan wasit di Liga 1 musim ini? Hal ini juga menjadi sesuatu
yang sangat diperhatikan karena pertandingan ini menjadi pertandingan penentuan
gelar Juara.
Peluit
panjang dibunyikan. Saya terdiam. “Anjrit, si Mbah bener lagi”. Maksudnya?
2
hari sebelum dilangsungkannya partai pamungkas antara Persija Jakarta dan Mitra
Kukar, akun @MafiaWasit ini sudah memprediksi skor akhir dari pertandingan
tersebut. Awalnya saya tidak percaya, oleh karena itu saya menyimpan cuitan
tersebut terlebih dahulu dengan cara me-likes-nya.
Jauh
sebelum liga dimulai, akun ini juga pernah berkicau seperti ini;
Tidak
seperti salah satu mantan pemain Timnas yang memprediksi gelar juara saat
pertandingan menyisakan 3 partai, akun ini sudah meramalnya 1 tahun yang lalu.
Saat liga belum dimulai. Rasa heran saya tambah memuncak. “Apa iya Persija saya
ini juara setinggan?”
Mari
kita bahas satu per satu, mengapa Persija dikatakan sebagai juara setingan:
1. Cuitan
dari akun-akun di atas
Tidak bisa dipungkiri, akun-akun tersebut memang
sudah memberikan opini baru bagi para penikmat bola lokal. Ditambah lagi,
tayangan Mata Najwa beberapa minggu
yang lalu. Output dari tayangan tersebut bagi saya memberi dampak yang sedikit
negatif. Saat ada kejanggalan dalam sebuah pertandingan, dengan mudahnya para
penonton berteriak “Mafia”. Kita masih ingat, beberapa hari setelah acara ini,
dilangsungkan semi-final Liga 2 antara Persita Tangerang melawan Kalteng Putra.
Persita yang kala itu tertinggal, membuat para penggemarnya berteriak bahwa itu
adalah settingan mafia. Tidak hanya
itu, para penggemar Persita pun melakukan kerusuhan di dalam Stadion Pakansari,
Cibinong. Padahal, jika kita sedikit lebih bijak, pada pertandingan tersebut
memang Kalteng Putra bermain lebih baik dibandingkan Persita yang menurut hemat
saya memang lebih pantas melaju ke babak final. Kemudian, jika kita mundur 1
hari kebelakang, diberlangsungkan partai yang amat krusial antara Bhayangkara
FC dan PSM Makassar, teriakan mafia
beberapa kali terdengar dari tribun penonton PSM Makassar yang melakukan away days ke Stadion PTIK, markas
Bhayangkara FC. Padahal, dimenit 70-an (jika salah mohon dikoreksi), gol pemain
Bhayangkara FC dianulir karena menurut wasit sudah berada dalam posisi offside. Namun, jika kita melihat
tayangan ulangnya, gol tersebut sama sekali tidak offside. Pertanyaan saya, lalu siapa mafia nya?
2.
Mudahnya Persija merubah jadwal
Pada
musim ini, Persija Jakarta mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam
turnamen kasta kedua Asia, AFC Cup. Hal tersebut membuat jadwal Persija menjadi
sangat padat. Ditambah lagi, tahun ini kembali digelar turnamen Piala
Indonesia. Disini, saya melihat bahwa operator liga tidak becus dalam membuat jadwal. Persija merupakan wakil Indonesia
di AFC Cup. Namun, mengapa jadwalnya sangat tidak masuk akal? Yang paling saya
ingat adalah saat akan bertandang ke Serui. 2 hari berselang, Persija harus
melakoni partai tandang dalam lanjutan AFC Cup melawan Tampines Rovers di
Singapura. Apa ini tidak gila?
3. Barisan
sakit hati
“Rumput
tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” adalah pepatah yang paling tepat
untuk saya gunakan sekarang. Rival dari Kota
Kembang adalah mereka yang paling lantang bersuara terkait isu mafia ini. Padahal,
PSM Makassar yang sampai akhir musim menjadi pesaing Persija Jakarta dalam
merebut gelar tidak se-berisik mereka. Sebelumnya, saat mereka berhasil menjadi
Juara (paruh musim) hal ini tidak terdengar sama sekali. Dengan jumawanya
mereka mengungkapkan kalimat dengan nada merendahkan klub kesayangan saya.
Namun, setelah terjadinya sanksi akibat hilangnya nyawa saudara saya di Bandung
(Al-Fatihah untuk Alm. Haringga). Kekalahan demi kekalahan terus mereka
dapatkan sampai akhirnya tergeser dari puncak klasmen. Pendukung Persija, tidak
tinggal diam. Isu Juara settingan tahun
ini mereka tepis mentah-mentah. “Kemana aja? Baru teriak mafia pas tim-nya kegusur. Kalo ga kegeser paling diem aja. Minta
keadilan? Pembunuh minta keadilan?” kalimat tersebut menjadi kalimat penyangkal
dari pendukung tim rival yang selalu menyebut
bahwa Liga ini sudah diatur. Jika memang benar-benar ada mafia yang bermain di
dalam, ya buktikan! Lapor kepada operator liga. Jangan hanya berteriak atas
dasar kebencian. Saya pun sebagai penggemar Persija juga ingin tahu apa yang
terjadi sesungguhnya. Jangan malah memprovokasi dengan play victim. Saat di atas, kalian teriak “Kami yang terbaik”, saat
di bawah, mudahnya kalian teriak ini semua mafia.
Sejak
kapan Anda mendengar bahwa Liga Indonesia ini telah terjangkit mafia? Apakah baru musim ini? Omong
kosong. Jika memang Liga kita ini sudah diatur, artinya, juara-juara dari musim
sebelumnya juga melakukan hal yang sama. Namun, mengapa mereka berteriak paling
lantang akan masalah ini? Lagi-lagi sederhana. Karena yang jadi juara adalah
kami, Persija Jakarta! Kemana mereka saat musim lalu? Saat Bhayangkara FC menjadi
juara dengan cara yang sangat kontroversial (mendapat tambahan 3 poin
gratis)? Sejatinya, kita semua adalah
korban dari Liga Kampret ini.
Ada
cerita unik saat Persik Kediri menjadi Juara di tahun 2006, dalam cuitan akun
@Footballnesia, ia menceritakan bahwa pada saat Persik Kediri menjadi Juara
Liga Indonesia 2006, De Porras dan beberapa rekannya yang menjadi pemain PSIS
Semarang kala itu dijebak untuk dugem dan
mabuk saat malam sebelum pertandingan
melawan Persik Kediri. Alhasil esok paginya, para pemain PSIS bermain loyo dan membuat Persik Kediri menjadi
Juara Liga Indonesia ditahun tersebut. Padahal ditahun tersebut harusnya jatah
dari PSIS Semarang.
Lihat!
Sejak tahun 2006 pun, Juara liga sudah diatur, artinya ditahun 2014 juga
dong? Loh loh, kok bawa-bawa 2014? Ya wong kenyataannya memang gitu kok.
Makanya saya heran, mengapa mereka paling berisik, tidak kah pernah mereka
bekaca sedikitpun?
Beberapa
minggu yang lalu, sempat terjadi tweetwar
antara salah satu pendukung Persija dan pendukung dari klub Ibukota Jawa
Barat itu mengenai Juara Liga di tahun 2014. Pendukung biru barat itu berdalih,
bahwa 2014 seharusnya yang juara adalah Arema. Namun mereka ((melawan
kemustahilan)) dan ((langit berkata lain)) sehingga merekalah yang menjadi
juara. Lelucon macam apa ini?
2013, 1 tahun sebelum mereka menjadi juara, akun @Footballnesia berkicau seperti ini.
Masih kurang?
Begitulah.
Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut di seberang lautan jelas terlihat. Jika
Anda berkenan untuk saya ajak mundur sedikit kebelakang, kita masih ingat bahwa
Mario Gomez yang menjadi pelatihnya pun menuduh bahwa para pemainnya terlibat
dalam isu suap. Atau yang paling baru, 2 pemain sama-sama berseragam biru itu
terlibat pertikaian di atas lapangan. Terlalu sibuk mengurusi dapur orang lain,
sampai-sampai lupa bahwa dapur sendiri sudah lama tidak ngebul.
Pertanyaannya
sekarang, mengapa para mafia ini
masih berkeliaran? Ada 2 jawaban menurut saya. Pertama, adanya tim-tim yang sok kaya padahal aslinya miskin. Mereka
tidak mampu membayar pemainnya. Akibatnya, para pemainnya ditunggak gajinya. Disini
lah para mafia ini masuk. Mereka “membayar”
para pemain ini. Ketimbang dapur rumah tidak ngebul, gaji tidak dibayar, ya
lebih baik sekalian saja jadi pemain bayaran. Kedua, hal ini adalah yang paling
miris jika terjadi; jangan-jangan, Juara Liga kita ini memang seperti arisan
yang tinggal bayar lalu menunggu jatahnya.
Kesimpulannya
apa? Saya berpendapat bahwa Liga ini mungkin memang sudah diatur. Mengapa saya
masih menggunakan kata mungkin? Ya karena semua ini masih menguap begitu saja.
Belum benar-benar ada bukti yang valid. Sampai bukti itu hadir, dari tahun
berapa, siapa saja yang terlibat,
barulah kita harus benar-benar
berbenah. Kita semua, tanpa terkecuali.
Mengapa
saya dan rekan-rekan Jakmania seolah tutup telinga atas tuduhan ini? Jawaban
saya, karena selama ini belum ada bukti yang valid. Semuanya hanyalah opini
yang justru menyebabkan perpecahan. Kami sudah lelah atas tuduhan yang cuma didasari kebencian. Sebagai
supporter, boleh lah kami merayakan penantian atas 17 tahun menunggu seperti
apa yang mereka rasakan di 2014 saat sudah menunggu lebih dari 2 dekade. Toh
sebagai supporter memang tugas kita untuk menyemangati dan merayakannya. Kini
izinkan sejenak Jakarta berpesta. Sampai terbukti semuanya. Cepat
atau lambat, semoga waktu bisa menjawabnya dengan tepat.
Jika
setelah ini terbongkar. Saya mohon dengan sangat agar dibongkar dari awal.
Jangan hanya tahun ini saja. Harus benar-benar sampai ke akarnya. Jangan sampai
malah membuat kekacauan yang baru. Karena sejatinya kita semua adalah korban.
Setelah
ini, sebaiknya kita tundukkan kepala kita untuk mereka yang sudah mendahului
kita dengan cara yang konyol akibat sepakbola yang ternyata sudah diatur ini.
Di
atur? 2019 siapa ya?
We’ll
see…
Akhir kata, saya ingin menutup essai ini
dengan mengutip apa yang dicuitkan dalam akun @sepakbolajakarta
“Di bawah dihina, Juara di fitnah
11 kali, tanpa degradasi
Kami yang terbaik di Negeri ini.
Hated, adoRED, never ignoRED”.
.
.
.
Selesai.
.
.
.
Selesai.





