Kamis, 31 Desember 2020

Air Mata untuk 2020

        Selamat untuk kita semua! Akhirnya tahun yang sulit ini bisa terlampaui juga. Harapan baru-pun muncul di hari terakhir ini, harapan yang sepertinya tidak kita gantungkan setinggi tahun-tahun sebelumnya. Setelah ekspektasi kita dipatahkan berkali-kali di tahun ini, sepertinya kita hanya mengharapkan hal-hal sederhana saja seperti tubuh yang sehat, keluarga yang selamat dan kebahagiaan kecil yang bisa kita rasakan di hari-hari kita nantinya. Dan ya, sudah lama sekali rasanya tidak menulis, dan di ujung tahun 2020 saya hanya akan menoleh kebelakang, atau tepatnya berterima kasih kepada sesuatu yang telah menyelamatkan saya di tahun ini.

      Menyambung tulisan saya yang berjudul "Corona: Pengangguran dan Kebosanan" saya terus mencari-cari sesuatu yang dapat mengisi kekosongan hari-hari saya. Ditambah anjuran tidak keluar rumah dan kabar penempatan yang tidak jelas, membuat saya semakin berusaha untuk mencarinya. 

        Saya cukup percaya diri mengatakan bahwa di tahun 2020 ini saya tidak pernah menitihkan air mata. Saya tumbuh menjadi kuat setelah hal-hal pahit yang datang pada saya di tahun 2019 lalu, bahkan 2 kali dihadapkan pada berita kehilangan-pun, saya biasa saja. Hingga sampailah saya di tanggal 11 Juli 2020, hari yang menjadi pertemuan pertama saya dengannya.

        Terus terang, sejak awal saya tidak memahami orang-orang yang bisa nangis sampai tersedak-sedak hanya karena menonton film, series, ataupun sebagainya. Namun semua berbalik saat saya diperkenalkan dengan anime legendaris, Naruto. Ya ya ya, memang saya sangat ketinggalan. Namun tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dari hal-hal di sekitar kita, bukan? Sedikit info, ketika saya melihat abang saya menangis saat layar hp nya menampilkan adegan Jiraiya mati beberapa tahun lalu, saya menertawainya. Berpikir bahwa apa yang ia lakukan cukup berlebihan. Tapi sekarang, kata-kata itu saya telan sendiri.

          Episode awal mungkin cukup membingungkan, cerita yang belum padu dengan alurnya membuat saya berpikir "apasih ini, gajelas".  Namun sesampainya saya pada adegan saat Iruka-Sensei mencoba menghentikan Naruto yang mencuri gulungan rahasia. Saat itu, Ia mengatakan sesuatu yang tidak dilihat oleh penduduk desa. Naruto yang mereka jauhi karena perbuatannya yang meresahkan, Naruto yang dikucilkan karena ada siluman rubah di tubuhnya, Naruto yang selalu diremehkan tentang mimpinya menjadi Hokage. Namun Iruka mengatakan sebaliknya, ia berkata bahwasannya Naruto-pun anak-anak biasa, ia bukanlah jelmaan rubah yang mesti ditakuti, ia melakukan itu semua hanya karena ingin diakui oleh semua orang. Seketika itu saya berubah pikiran, "waw, sedih juga ya. Apakah ini menjadi awal kesedihan-kesedihan yang lain?". Jelas saja, setelahnya, scene-scene yang menguras air mata berdatangan. Seperti kisah Haku yang tulus pada Zabuza, lalu duel antara Sakura - Ino di ujian chunin; apa jadinya saat kita dihadapkan dengan pertarungan melawan sahabat sendiri? Ingatan tentang masa lalu bersama-pun muncul di kepala. Menonton scene tersebut sudah pasti kepala saya bertamasya menanyakan kabar kawan-kawan saya yang entah sekarang sedang apa, atau sesederhana apakah ia masih memikirkan saya? entahlah. Dan yang paling dahsyat, apalagi kalau bukan pertempuran di Lembah Akhir. Pertempuran untuk menyadarkan Sasuke agar tidak memilih jalan yang salah, pergi ke Orochimaru. Sebuah pertempuran yang cukup dahsyat saat itu, walau pada akhirnya hasilnya nihil, Sasuke tetap pergi. Selesai, 220 episode saya selesaikan tidak sampai 2 bulan.

          "Itu baru awal, di Shippuden lebih sedih lagi" abang saya berkata. Dan ya, saya mengamini kata-kata itu sekaligus menantikannnya. Episode demi episode terlampaui, seiring dengan perburuan Akatsuki mencari para Jinchuriki. Hingga sampailah saya di mana Sarutobi Asuma mati di tangan Kakuzu, saya netes lagi-lagi, walau hanya sedikit. Tidak sampai di situ, beberapa episode setelahnya kali ini saya menyaksikan apa yang dilihat oleh abang saya: adegan Jiraiya mati. Anehnya, tidak ada air mata di situ. Saya pun bertanya-tanya "biasa aja dah, mana sedihnya nih?", ternyata itu baru awal, barulah ketika diperlihatkan bagaimana Naruto menyikapi berita tentang kematian gurunya, saya banjir! Ditambah lagi adegan saat Guru Iruka datang untuk menghiburnya, yap, berantakan bos!

         Kematian Sang Guru tercinta lantas tak membuat Naruto diam, inilah pertarungan yang sudah saya nantikan. Saat ia berhadapan dengan Pain. Pada titik darah penghabisan, Naruto hampir saja membuka segel Kyuubi sepenuhnya dalam dirinya. Tiba-tiba, Minato, ayahnya, atau yang biasa dikenal dengan Yondaime Hokage menahannya. Itulah pertemuan Naruto dengan ayahnya: pecah bos! ancur! Hingga akhirnya Naruto bisa mengalahkan Pain, pingsan, dibopong oleh Kakashi, dan ditutup dengan dieluhkan satu desa adalah momen paling mengharukan buat saya. Mereka yang dulu menanggap Naruto adalah sampah sekarang memuji habis-habisan. Bung! Pahlawan baru telah hadir!

        Selain adegan-adegan yang mengandung bawang, tak jarang juga saya berteriak akibat melihat adegan savage. Seperti saat Naruto akhirnya bisa berteman dengan Kyuubi, atau Minato yang datang ke medan pertempuran Perang Dunia Ninja ke-4 setelah menerima Edo Tensei, atau juga Sasuke yang tiba-tiba bergabung dalam pertempuran, disitu tanpa ragu saya berteriak"anjiiiiiingggg!" sampai-sampai pada suatu malam tetangga kost saya ada yang mengirim WhatsApp, memastikan bahwa suara itu bukan dari makhluk astral di tengah malam.

        Adegan savage di atas juga berbanding lurus dengan adegan-adegan yang menyayat hati sampai air mata saya tidak tertahan. Seperti pertemuan Naruto dengan Sang Ibu, Kushina, saat ingin mengambil chakra Kyuubi, Ah! Parah sih itu, apalagi momen saat Kushina mengulang pesan terakhir yang ia berikan pada Naruto di detik-detik akhir kematiannya dan kematian Minato saat ia menceritakan kembali Tragedi Kyuubi yang menyerang Desa Konoha, selesai sudah! Banjir bos. Tapi momen paling banjir di 2020 jatuh kepada: Ketika Perang Dunia Ninja ke-4 bisa diselesaikan dan Ninja-Ninja yang di Edo Tensei harus kembali ke alamnya, Minato menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke Naruto! Lalu dibalas Naruto dengan menitip salam kepada Sang Ibu di atas sana dengan menjawab pesan-pesan terakhir yang diberikannya saat menceritakan Tragedi Kyuubi. Deres bosssssssssssss!

       Fyuhhhh, sepertinya cukup sudah flashback saya. Intinya, ditulisan ini, tulisan terakhir di 2020, saya hanya ingin berterima kasih kepada Naruto yang sudah menyelamatkan saya. Entah, sejak kemarau di 2019 lalu saya menjadi pribadi yang tak pernah merasakan euforia sedikitpun. Senang se-senang-senangnya, sedih se-sedih-sedihnya tak pernah bisa saya rasakan lagi, semua terasa datar, biasa-biasa saja.

        31 Desember 2020, 15:10, akhirnya saya selesai menamatkan anime ini. 220+500 episode selesai terlampaui. Bahkan di episode terakhir-pun saya kembali dibuat menangis. Apalagi kalau bukan adegan saat Iruka-Sensei dimintai Naruto secara langsung untuk bertindak sebagai wali dalam pernikahannya, huh! Setelah semua ini, saya hanya ingin bilang: terima kasih Naruto! Telah menjadi teman saya selama ini, mengisi kesendirian saya jauh di kota sana, menyuntikan motivasi secara tidak langsung kepada saya, dan yang paling penting menyadarkan saya bahwa saya masih jadi manusia. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Ohya, selamat menikah juga! Semoga sakinah, mawaddah, warohmah.

         Arigatou Gozaimasu, Naruto!