Kamis, 15 Oktober 2020

Sia-Sia


“Penghabisan kali itu kau datang

Membawaku kembang berkarang

Mawar merah dan melati putih

Darah dan Suci

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan; untukmu.

 

Lalu kita sama termangu

Saling bertanya: apakah ini?

Cinta? Kita berdua tak mengerti

 

Sehari kita bersama. Tak Hampir-menghampiri

 

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi”.

                Puisi di atas adalah puisi yang diciptakan oleh Chairil Anwar pada (kalau tidak salah) Februari 1943 dan sukses menjadikannya sebagai salah satu puisi favorit saya, ya walaupun saya sebetulnya tidak tahu dalam-dalam amat sih soal puisi, tapi bait terakhir selalu terngiang-ngiang saat saya merasa sepi atau sia-sia sejak pertama kali saya membacanya ketika duduk di bangku SMP silam.

Beberapa malam yang lalu, teman saya, eh sohib saya, eh maksudnya calon pasangan, eh apasih kita ini? Ah pokoknya ada yang bertanya kepada saya gitu deh perihal kesia-siaan. Bagi saya pertanyaan itu amat menarik, bahkan saya jadikan sebagai “pr” karena belum bisa terjawab. Dan bila kamu membaca tulisan ini dan berharap saya akan menjawabnya di sini, hmm sepertinya tidak juga. Menurut KBBI, sia-sia berarti terbuang-buang saja; tidak ada gunanya; percuma; omong kosong; nonsens; gagal; tidak berhasil; tidak mendapat apa-apa. Lalu definisi tersebut saya bawa kepada hal atau aktifitas yang lebih konkret. Misal; kita sudah belajar semalam suntuk bahkan bisa dibilang mati-matian lalu keesokan paginya ternyata kita sadar bahwa materi yang diujikan tidak sesuai dengan yang sudah kita pelajari tadi malam, alias, salah belajar. Apakah itu bisa disebut ke-sia-siaan? Atau saat kita tengah bergulat dengan suatu penyakit. Kita seringkali melihat orang-orang dalam posisi tersebut harus merogoh kocek dalam-dalam, terbaring lemas tak berdaya, cuci darah tiap minggu, lalu pada akhirnya mati juga. Itukah yang disebut ke-sia-siaan? Atau juga kasus terakhir yang cukup singkat: mencintai tanpa dicintai balik. Sia-siakah itu? Saat kita mencintai sesorang sepenuhnya sedang dia hanya mencintai kita seperlunya? Entahlah, saya hanya bertanya pada diri saya sendiri. Jadi apakah ke-sia-siaan itu? Eh, tapi kata orang, semua ada hikmahnya yang artinya tak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Masih bisakah kita mempercayai itu?

“Kadang kepala yang rumit ini seringkali luput untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih santai”. Itu adalah quote yang saya tinggalkan di buku tahunan sekolah SMP saya, kalimat tersebut tercetus dari seniman asal kota kembang dengan nama panggung Amenkcoy dan sejak saat itu saya percaya bahwa semua tergantung sudut pandang. Yap, sudut pandang. Termasuk dalam hal kesia-siaan.

Bukankah kita akan merasa sia-sia saat membaca sebuah kisah atau cerita fiksi yang artinya cerita bohong? Cerita yang di-ada-adakan? Tapi di sisi lain kita bisa menyangkalnya, bahwa dengan adanya cerita fiksi kita dapat mengerti bahwa dunia imajinasi memang perlu dihadirkan untuk menjadi sarana pertukaran pikiran, nasehat, bahkan renungan yang sejatinya dapat kita petik dan kita praktikan di kehidupan nyata. “Untuk apa pacaran lama-lama ujung-ujungnya putus juga”, bagaimana dengan situasi seperti ini? Hm begini, saat kita menjalani hubungan dengan seseorang bukankah banyak pelajaran yang dapat kita ambil? Perihal tumbuh bersama adalah salah satu pelajaran yang amat berharga saat menjalani hubungan dengan sesorang. Menyadari batas diri sendiri, merasakan hal-hal kecil menyenangkan, dan juga merasakan hal-hal yang seringkali menyakitkan yang mungkin selama ini luput dari diri kita. Semua akan terasa saat kita menjalani hubungan. Bahkan jika memang dia bukan orang yang terakhir, kita tidak dapat mengelak bahwa diri kita yang baru akan terbentuk setelah melewati hubungan dengan dia. Belajar dari kesalahan masa lalu rupanya adalah kunci keberhasilan untuk orang di masa depan.

Kalau hidup?

Hah maksudnya?

Iya, hidup. Buat apa kita hidup kalau nantinya akan mati juga?

Hehehehe saya tidak cukup pandai untuk mendeskripsikan yang satu ini ke dalam bentuk tulisan, singkatnya mungkin untuk berbuat baik kepada sesama dan diri sendiri serta mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Lalu untuk yang tidak percaya kehidupan setelah kematian? Kembali lagi ke kalimat pertama saya; saya tidak pandai menuangkannya ke dalam tulisan ini.

Sebentar, sebelum berakhir, tiba-tiba saya teringat pada dua puisi Chairil Anwar dimana kedua puisi tersebut dijadikan “jawaban” oleh Ananda Badudu saat ia melakukan interview perihal album kedua Banda Neira dan di sini akan saya ungkapkan melalui versi saya, begini:

Semua mungkin tahu puisi paling fenomenal dari Chairil Anwar yang berjudul “Aku”. Puisi yang “nge-hits” pada masanya karena film Ada Apa Dengan Cinta,

 

“Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa

Kubawa berlari

Berlari”

 

Seringkali kita memang tidak mengenal batas di masa (muda) ini. Membiarkan diri kita melampaui hal-hal yang tidak dipercayai manusia manapun, mencari dan terus mencari, menghindari kesia-siaan. Tapi, tahukah kamu, Chairil Anwar Si Binatang Jalang ini menutup semua rangkaian puisinya dengan apa? Dia menutupnya dengan puisi berjudul Derai-Derai Cemara. Puisi yang meruntuhkan segala ke“maskulinitas” yang ada di dalam puisi “Aku”. Ia menutup dengan satu bait yang amat maut bagi saya,

“Hidup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah”

 

Ya, untuk urusan hidup, sepertinya masing-masing kita hanya sedang menunda kekalahan. Sebelum pada akhirnya mesti menyerah.