“Penghabisan
kali itu kau datang
Membawaku
kembang berkarang
Mawar merah
dan melati putih
Darah dan
Suci
Kau tebarkan
depanku
Serta pandang
yang memastikan; untukmu.
Lalu kita
sama termangu
Saling
bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita
berdua tak mengerti
Sehari kita
bersama. Tak Hampir-menghampiri
Ah! Hatiku
yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi”.
Puisi di atas adalah puisi yang diciptakan oleh Chairil Anwar pada (kalau tidak salah) Februari 1943 dan sukses menjadikannya sebagai salah satu puisi favorit saya, ya walaupun saya sebetulnya tidak tahu dalam-dalam amat sih soal puisi, tapi bait terakhir selalu terngiang-ngiang saat saya merasa sepi atau sia-sia sejak pertama kali saya membacanya ketika duduk di bangku SMP silam.
Beberapa malam yang lalu, teman saya, eh sohib
saya, eh maksudnya calon pasangan, eh apasih kita ini? Ah pokoknya ada yang
bertanya kepada saya gitu deh perihal kesia-siaan. Bagi saya pertanyaan itu
amat menarik, bahkan saya jadikan sebagai “pr” karena belum bisa terjawab. Dan
bila kamu membaca tulisan ini dan berharap saya akan menjawabnya di sini, hmm
sepertinya tidak juga. Menurut KBBI, sia-sia berarti terbuang-buang saja; tidak
ada gunanya; percuma; omong kosong; nonsens; gagal; tidak berhasil; tidak
mendapat apa-apa. Lalu definisi tersebut saya bawa kepada hal atau aktifitas
yang lebih konkret. Misal; kita sudah belajar semalam suntuk bahkan bisa
dibilang mati-matian lalu keesokan paginya ternyata kita sadar bahwa materi
yang diujikan tidak sesuai dengan yang sudah kita pelajari tadi malam, alias,
salah belajar. Apakah itu bisa disebut ke-sia-siaan? Atau saat kita tengah
bergulat dengan suatu penyakit. Kita seringkali melihat orang-orang dalam
posisi tersebut harus merogoh kocek dalam-dalam, terbaring lemas tak berdaya,
cuci darah tiap minggu, lalu pada akhirnya mati juga. Itukah yang disebut
ke-sia-siaan? Atau juga kasus terakhir yang cukup singkat: mencintai tanpa
dicintai balik. Sia-siakah itu? Saat kita mencintai sesorang sepenuhnya sedang
dia hanya mencintai kita seperlunya? Entahlah, saya hanya bertanya pada diri
saya sendiri. Jadi apakah ke-sia-siaan itu? Eh, tapi kata orang, semua ada
hikmahnya yang artinya tak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Masih bisakah
kita mempercayai itu?
“Kadang kepala yang rumit ini seringkali luput
untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih santai”. Itu adalah quote
yang saya tinggalkan di buku tahunan sekolah SMP saya, kalimat tersebut tercetus
dari seniman asal kota kembang dengan nama panggung Amenkcoy dan sejak saat itu
saya percaya bahwa semua tergantung sudut pandang. Yap, sudut pandang. Termasuk
dalam hal kesia-siaan.
Bukankah kita akan merasa sia-sia saat membaca
sebuah kisah atau cerita fiksi yang artinya cerita bohong? Cerita yang
di-ada-adakan? Tapi di sisi lain kita bisa menyangkalnya, bahwa dengan adanya
cerita fiksi kita dapat mengerti bahwa dunia imajinasi memang perlu dihadirkan
untuk menjadi sarana pertukaran pikiran, nasehat, bahkan renungan yang
sejatinya dapat kita petik dan kita praktikan di kehidupan nyata. “Untuk apa
pacaran lama-lama ujung-ujungnya putus juga”, bagaimana dengan situasi seperti
ini? Hm begini, saat kita menjalani hubungan dengan seseorang bukankah banyak
pelajaran yang dapat kita ambil? Perihal tumbuh bersama adalah salah satu pelajaran
yang amat berharga saat menjalani hubungan dengan sesorang. Menyadari batas
diri sendiri, merasakan hal-hal kecil menyenangkan, dan juga merasakan hal-hal
yang seringkali menyakitkan yang mungkin selama ini luput dari diri kita. Semua
akan terasa saat kita menjalani hubungan. Bahkan jika memang dia bukan orang
yang terakhir, kita tidak dapat mengelak bahwa diri kita yang baru akan
terbentuk setelah melewati hubungan dengan dia. Belajar dari kesalahan masa
lalu rupanya adalah kunci keberhasilan untuk orang di masa depan.
Kalau hidup?
Hah maksudnya?
Iya, hidup. Buat apa kita hidup kalau nantinya
akan mati juga?
Hehehehe saya tidak cukup pandai untuk
mendeskripsikan yang satu ini ke dalam bentuk tulisan, singkatnya mungkin untuk
berbuat baik kepada sesama dan diri sendiri serta mempersiapkan kehidupan
setelah kematian. Lalu untuk yang tidak percaya kehidupan setelah kematian?
Kembali lagi ke kalimat pertama saya; saya tidak pandai menuangkannya ke dalam
tulisan ini.
Sebentar, sebelum berakhir, tiba-tiba saya
teringat pada dua puisi Chairil Anwar dimana kedua puisi tersebut dijadikan
“jawaban” oleh Ananda Badudu saat ia melakukan interview perihal album kedua Banda Neira dan di sini akan saya ungkapkan melalui versi saya, begini:
Semua mungkin tahu puisi paling fenomenal dari
Chairil Anwar yang berjudul “Aku”. Puisi yang “nge-hits” pada masanya karena
film Ada Apa Dengan Cinta,
“Aku ini
binatang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Biar peluru
menembus kulitku
Aku tetap
meradang menerjang
Luka dan
bisa
Kubawa
berlari
Berlari”
Seringkali kita memang tidak mengenal batas di masa (muda) ini. Membiarkan
diri kita melampaui hal-hal yang tidak dipercayai manusia manapun, mencari dan
terus mencari, menghindari kesia-siaan. Tapi, tahukah kamu, Chairil Anwar Si
Binatang Jalang ini menutup semua rangkaian puisinya dengan apa? Dia
menutupnya dengan puisi berjudul Derai-Derai Cemara. Puisi yang
meruntuhkan segala ke“maskulinitas” yang ada di dalam puisi “Aku”. Ia menutup
dengan satu bait yang amat maut bagi saya,
“Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah”
Ya, untuk urusan hidup, sepertinya masing-masing kita hanya sedang menunda
kekalahan. Sebelum pada akhirnya mesti menyerah.