Senin, 22 Oktober 2018

Timnas U-19 Pahlawan, Sedangkan Kami adalah Pecundang



“Anjrit itu nomor 7, kenceng banget tendangannya”. Kalimat itu secara spontan keluar dari mulut saya, sesaat setelah pemain Qatar U-19 bernomor punggung 7 melepaskan sepakan keras ke gawang Timnas Indonesia U-19 yang dijaga oleh Muhammad Riyandi. Lepas dari pertahanan Indonesia yang memang kacau tadi malam, namun harus saya akui, pemain nomor 7 ini memang sangar bagaikan monster didepan gawang Timnas kita. Skor 1-4 pun menutup babak pertama. Saya menghela nafas panjang sembari membuka lini masa twitter saya yang penuh dengan kekecewaan atas buruknya pertahanan Timnas malam ini. Saat babak pertama, saya terus berteriak lantang. Mulai dari bernyanyi sampai berujung dengan amarah atas buruknya koordinasi di lini pertahanan Timnas kita. Saat jeda babak pertama, saya dan kawan saya tak banyak bicara. Hanya memandangi para pemain melakukan pemanasan.

Kick off babak kedua dimulai, tribun sektor saya masih terdiam. Saya yang sejak menit 1 sampai babak pertama usai berdiri, memutuskan untuk duduk saat babak kedua berlangsung. Belum lama babak kedua dimulai, gol ke 5 hadir untuk Timnas Qatar U-19. Saya yang awalnya marah, menjadi kecewa sekaligus sedih. Saya yang awalnya berteriak penuh emosi tiap Timnas kita kebobolan, berubah menjadi tertunduk lesu dan menutup mata. Saya tak tega melihat teman-teman U-19 ini dipecundangi di tanah sendiri. Kemudian, tidak berselang lama dari gol ke 5, lewat sisi kiri pertahanan Timnas kita, (lagi-lagi) pemain nomor 7 itu, menerima through pass dari rekannya kemudian langsung melakukan sprint yang berujung dengan sepakan keras yang membuat jala Muhammad Riyandi bergetar untuk yang ke 6 kalinya. Saya sudah tak sanggup lagi melihat para pemain Qatar berselebrasi, sesaat setelah gol tersebut, saya hanya melihat kebawah, ke arah ujung sepatu saya. “Balik aja yuk?” sontak keluar dari mulut saya. Tanpa pikir panjang, kawan saya langsung meng-iya-kan ajakan saya. Saya benar-benar tidak tega apabila gawang Muhammad Riyandi kembali bergetar untuk ke 7, 8 ataupun entah itu keberapa kalinya.

Mungkin Anda bisa bilang “Halah, alasan!”. Tapi percayalah, sebelum ini saya pernah dikecewakan oleh hal yang sama, yaitu saat Leg-2 Semi-final AFC CUP antara Persija Jakarta melawan Home United. Persija yang saat itu hanya membutuhkan kemenangan 1-0 untuk bisa lolos ke Final Zona Asean justru malah gagal yang dimulai dari gol pertama yang terjadi akibat kesalahan Kiper saat itu. Saat itu saya marah, sangat marah. Namun kali ini, saya tidak merasakan amarah apapun. Justru yang saya rasakan hanyalah rasa tidak tega.

Keluar dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saya tidak langsung pulang. Saya memutuskan untuk duduk-duduk sembari minum dulu di area luar Stadion. Apalagi malam itu saya pergi dengan kawan lama saya saat SMP sehingga memutuskan untuk berbincang santai terlebih dahulu. Tidak lama saya keluar, gol ke 2 untuk Timnas datang. Penonton di dalam berteriak, kami masih saja berbincang. Tidak lama, teriakan itu terdengar kembali. Gol ke 3 Timnas Indonesia membuat skor menjadi 3-6. Kami memandangi satu sama lain lalu mata kami mengarahkan pandangan ke arah yang sama. Kami memandangi Stadion berkapasitas 70.000-an itu, masih tidak ada percakapan. Setelah itu kami beranjak menuju tempat dimana saya memarkirkan motor saya. Saat sedang berjalan, tiba-tiba didalam Stadion tersebut, terdengar lagi teriakan keras. Ya, skor berubah menjadi 4-6. “Masuk ga?” Saya langsung bertanya. Kawan saya bilang “Jangan”. Hal itu membuat saya kebingungan. “Kalo kita masuk, hasilnya mungkin bakal beda. Kalo kita tadi gakeluar, mungkin hasilnya gabakal begini” teman saya meneruskan. Saya langsung berpikir, mungkin benar. Saat ini sebaiknya memang saya tidak perlu masuk ke stadion itu. Mungkin ini memang sudah takdir saya untuk tidak menyaksikan pertandingan yang “gila” ini. Saat Anda membaca kalimat barusan, saya yakin Anda menilai saya tidak jelas, atau bahkan tidak masuk akal. Namun saya memang percaya itu. Bahkan ada suatu masa bahwa saya percaya jika saya menonton klub kebanggan luar negeri saya, pasti hasilnya akan kalah, namun jika saya tidak tonton justru berbuah menjadi sebuah kemenangan. Oleh karena itu, saya hanya berharap ada keajaiban saat saya tiba di parkiran motor nanti. Kami terus berjalan sampai akhirnya sampai di parkiran. Hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa telepon genggam saya. “5-6! Gila!” saya langsung membuka web streaming. Kami, seorang supporter yang memiliki tiket, malah menyaksikan pertandingan lewat layanan streaming disebuah parkiran. Eits, supporter? Duh, kami malu menyebut diri kami ini sebagai seorang supporter. 10 menit waktu tersisa, Timnas Indonesia terus memberikan serangan ke pertahanan Qatar. Peluang terakhir dimiliki oleh Luthfi Kamal, pemain bernomor punggung 7 Indonesia, melalui tendangan bebasnya. Bola sudah melengkung cantik namun masih bisa digagalkan oleh sang penjaga gawang. Skor tidak berubah, 5-6 menutup pertandingan. 5 untuk Indonesia, 6 untuk Qatar. Saya bangga dengan perjuangan Timnas U-19 ini. Saat para pemain Timnas di eluh-eluhkan bak Pahlawan, kami justru malah malu. Merasa menjadi pecundang karena meninggalkan saat sedang susah. Saat para supporter lain menganggap ini adalah pertandingan terbaiknya, kami malah merasa bahwa ini adalah pertandingan yang akan kami sesali seumur hidup. Tapi percayalah, kami tidak bermaksud seperti itu.

Akhir kata, terima kasih Garuda! Terus terbang tinggi ke langit angkasa, beri kabar baik pada Ibu Pertiwi agar ia tak lagi bersusah hati. Maafkan kami yang telah mengingkari janji bahwa menang, kalah, dan seri, akan tetap bernyanyi.