Semua sepakat bahwa tidak ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan.
Dan kalau saya boleh menghakimi sekali lagi, semua juga pasti sepakat, yang
paling menyedihkan dalam sebuah perpisahan bukanlah saat perpisahan itu
diucapkan. Melainkan, saat Kamu terbangun dari tidur malammu dan menyadari
bahwa pagi ini semua tidak sama lagi. Ada sesuatu yang hilang dari kebiasaanmu
melewati hari-hari. Kini, kamu berjalan sendiri.
“Folk Music Festival”, sebuah acara musik tahunan (kini sudah tidak ada
lagi) dalam satu waktu pernah membuat sebuah “slogan” yang sampai detik ini
sangat saya percayai; “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita
cari”. Mungkin butuh beberapa waktu untuk mengerti apa maksud kalimat tersebut,
begitu juga saat pertama kali saya membacanya. Ya, kita tahu, hidup memang
berjalan seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita tertawa
terbahak-bahak, besok, kita menangis tersedak-sedak. Kadang kita menemukan, tak
jarang juga kita kehilangan. Perihal menemukan dan kehilangan, hidup kadang
selucu itu. Tuhan, kadang sebercanda itu.
Pernah tidak kita menjadi dekat dengan orang yang sebelumnya sangat kita
hindari? Hingga saat sudah sampai di titik menjadi dekat itu, kalimat pertama
yang muncul adalah; “Sumpah, pertama kali gua liat lu, lu orangnya ga banget, asli.
Kesel gua kalo ngeliat lu, tapi sekarang bersyukur banget bisa sedeket ini sama
lu”. Ataupun sebaliknya, mereka yang biasa menyapa kita pagi dan malam,
menyemangati saat merasa di titik yang rendah, ataupun melakukan hal-hal
lainnya bersama, tiba-tiba saat perpisahan itu datang, semua tidak pernah sama
lagi.
“Rute pagi yang dahulu
ceria
Menu favorite kini hambar
rasanya
Foto yang tak berani
dilirik mata
Kontak sekarang jadi
sebatas nama” -Hindia
(Untuk Apa/ Untuk Apa?)
Menemukan dan kehilangan adalah hal yang pasti. Untuk itu, manfaatkanlah
waktu bersama orang-orang terdekat. Kita tidak tahu apakah pertemuan kita itu
adalah pertemuan terakhir. Setelah kehilangan orang yang amat saya sayang
beberapa bulan yang lalu, yang memaksa saya untuk menghadapi ini semua seorang
diri, perlahan saya bisa beradaptasi. Melewati satu-persatu dengan baik, sampai
pada akhirnya berkata pada diri sendiri; “thank you ki, udah berjuang sampe di
titik ini. Maju terus ya!”.
Lalu tiba-tiba, entah bagaimana alam semesta bekerja, perlahan saya
dipertemukan dengan orang-orang yang menyenangkan. Orang-orang yang membuat
saya merasa, bahwa saya tidak sendiri. 2 minggu melelahkan bersama 524 orang
kala itu, menghadapi lelahnya hari bersama, membuat saya yakin bahwa; “Yuk boy,
kita lewatin sama-sama ya”. Ada tawa, amarah, lelah, juga kesedihan, semua
berhasil saya lewati. Ditambah 2 minggu lagi mengikuti sebuah pendidikan dan
pelatihan, saya dipertemukan dengan 6 orang yang sebelumnya tak pernah saya kenal.
Hingga tiba di malam ke 5 kita mengenal satu sama lain, saya bersyukur bahwa
malam itu kita bisa mencurahkan kegelisahan masing-masing. Ada air mata disitu.
Saya pertegas; kita, 7 orang yang sebelumnya tak saling kenal, berbincang
hingga pagi tentang masalah yang kita alami. Cinta, cita-cita, sampai keluarga.
Selepas perbincangan itu kawan, kau tahu, saat selimut telah saya tarik, sesaat
sebelum saya memejamkan mata, mata saya sedikit berkaca-kaca, lalu menutup hari
itu dengan berbincang dengan yang Maha. “Terima kasih Tuhan, untuk pertemuan
dengan orang-orang ini. Saya ga tau apa yang akan terjadi besok, yang
terpenting, saya senang Engkau mengizinkan saya untuk kenal dengan mereka.
Terakhir, buat kalian, Da, Pang, Ken, Trid, Nes, Meng, kalo suatu saat
nanti (untuk yang kesekian kalinya) saya kehilangan orang yang saya sayang
karena kesibukan untuk kehidupan. Entah itu karena cita-cita ataupun cinta. Percayalah,
saya di sini selalu mendoakan kalian. Namun kalian pasti juga paham, bahwa
merayakan kesenangan, ataupun menertawai kesedihan akan terasa menyenangkan
bila kita bersama.
Terima kasih, tenang saja, kita pasti akan berjumpa kembali.