Minggu, 02 Februari 2020

Temu dan Hilang


Semua sepakat bahwa tidak ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan. Dan kalau saya boleh menghakimi sekali lagi, semua juga pasti sepakat, yang paling menyedihkan dalam sebuah perpisahan bukanlah saat perpisahan itu diucapkan. Melainkan, saat Kamu terbangun dari tidur malammu dan menyadari bahwa pagi ini semua tidak sama lagi. Ada sesuatu yang hilang dari kebiasaanmu melewati hari-hari. Kini, kamu berjalan sendiri.

“Folk Music Festival”, sebuah acara musik tahunan (kini sudah tidak ada lagi) dalam satu waktu pernah membuat sebuah “slogan” yang sampai detik ini sangat saya percayai; “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”. Mungkin butuh beberapa waktu untuk mengerti apa maksud kalimat tersebut, begitu juga saat pertama kali saya membacanya. Ya, kita tahu, hidup memang berjalan seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita tertawa terbahak-bahak, besok, kita menangis tersedak-sedak. Kadang kita menemukan, tak jarang juga kita kehilangan. Perihal menemukan dan kehilangan, hidup kadang selucu itu. Tuhan, kadang sebercanda itu.

Pernah tidak kita menjadi dekat dengan orang yang sebelumnya sangat kita hindari? Hingga saat sudah sampai di titik menjadi dekat itu, kalimat pertama yang muncul adalah; “Sumpah, pertama kali gua liat lu, lu orangnya ga banget, asli. Kesel gua kalo ngeliat lu, tapi sekarang bersyukur banget bisa sedeket ini sama lu”. Ataupun sebaliknya, mereka yang biasa menyapa kita pagi dan malam, menyemangati saat merasa di titik yang rendah, ataupun melakukan hal-hal lainnya bersama, tiba-tiba saat perpisahan itu datang, semua tidak pernah sama lagi.

Rute pagi yang dahulu ceria
Menu favorite kini hambar rasanya
Foto yang tak berani dilirik mata
Kontak sekarang jadi sebatas nama” -Hindia (Untuk Apa/ Untuk Apa?)

Menemukan dan kehilangan adalah hal yang pasti. Untuk itu, manfaatkanlah waktu bersama orang-orang terdekat. Kita tidak tahu apakah pertemuan kita itu adalah pertemuan terakhir. Setelah kehilangan orang yang amat saya sayang beberapa bulan yang lalu, yang memaksa saya untuk menghadapi ini semua seorang diri, perlahan saya bisa beradaptasi. Melewati satu-persatu dengan baik, sampai pada akhirnya berkata pada diri sendiri; “thank you ki, udah berjuang sampe di titik ini. Maju terus ya!”.

Lalu tiba-tiba, entah bagaimana alam semesta bekerja, perlahan saya dipertemukan dengan orang-orang yang menyenangkan. Orang-orang yang membuat saya merasa, bahwa saya tidak sendiri. 2 minggu melelahkan bersama 524 orang kala itu, menghadapi lelahnya hari bersama, membuat saya yakin bahwa; “Yuk boy, kita lewatin sama-sama ya”. Ada tawa, amarah, lelah, juga kesedihan, semua berhasil saya lewati. Ditambah 2 minggu lagi mengikuti sebuah pendidikan dan pelatihan, saya dipertemukan dengan 6 orang yang sebelumnya tak pernah saya kenal. Hingga tiba di malam ke 5 kita mengenal satu sama lain, saya bersyukur bahwa malam itu kita bisa mencurahkan kegelisahan masing-masing. Ada air mata disitu. Saya pertegas; kita, 7 orang yang sebelumnya tak saling kenal, berbincang hingga pagi tentang masalah yang kita alami. Cinta, cita-cita, sampai keluarga. Selepas perbincangan itu kawan, kau tahu, saat selimut telah saya tarik, sesaat sebelum saya memejamkan mata, mata saya sedikit berkaca-kaca, lalu menutup hari itu dengan berbincang dengan yang Maha. “Terima kasih Tuhan, untuk pertemuan dengan orang-orang ini. Saya ga tau apa yang akan terjadi besok, yang terpenting, saya senang Engkau mengizinkan saya untuk kenal dengan mereka.

Terakhir, buat kalian, Da, Pang, Ken, Trid, Nes, Meng, kalo suatu saat nanti (untuk yang kesekian kalinya) saya kehilangan orang yang saya sayang karena kesibukan untuk kehidupan. Entah itu karena cita-cita ataupun cinta. Percayalah, saya di sini selalu mendoakan kalian. Namun kalian pasti juga paham, bahwa merayakan kesenangan, ataupun menertawai kesedihan akan terasa menyenangkan bila kita bersama.

Terima kasih, tenang saja, kita pasti akan berjumpa kembali.