Minggu, 24 November 2019

Akhirnya Saya Kembali Masuk Rumah Sakit

Sembilan belas tahun hidup, saya terbilang sangat jarang berobat ke dokter. Apalagi semenjak dirawat inap cukup lama (sekitar 2 minggu lebih) saat duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, praktis, saya tak pernah lagi masuk rumah sakit. Entah mengapa, rumah sakit dan isinya adalah sesuatu yang membuat saya tidak nyaman. Alih-alih sembuh dari suatu penyakit, saya justru takut mendengar perkataan dokter ataupun perawat yang tiba-tiba berkata bahwa ada satu penyakit yang hinggap di tubuh saya dan saya takuti. Itu sebabnya kenapa saya tidak nyaman. Ya, memang sedikit berlebihan, mungkin ini juga karena saya termakan siaran televisi yang kerap kali menampilkan sang dokter memvonis seorang pasien dengan keputusan yang membuat sang pasien lebih menderita. Bahkan tak jarang, dulu, kekasih lama saya memarahi saya lantaran tak mau pergi ke dokter walaupun kondisi saya pernah dalam satu waktu sudah kurang baik. “Tidurin aja lah, besok sembuh insya Allah”, kata saya untuk meyakinkan dia.

Minggu, 24 November 2019, akhirnya saya kembali masuk rumah sakit. Untungnya ini bukan rumah sakit yang saya takuti. Ini justru rumah sakit yang telah lama saya tunggu kehadirannya, dan kata “kembali” di awal paragraf ini tidak tepat sebenarnya. Sebab, ini pertama kalinya saya menyaksikan rumah sakit band. Rumahsakit band bisa saya katakan adalah pionir band indie asal jakarta yang juga memperkenalkan aliran “britpop” di kancah musik Indonesia. Rumahsakit terbentuk pada tahun 1994 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka mengeluarkan album pertama, self-titled, di tahun 1998 dan dua tahun berselang, 2000, mereka mengeluarkan album kedua berjudul “Nol Derajat”. Artinya, saat saya lahir ke dunia ini mereka telah merilis dua album, salut!

Dikarenakan seringnya manggung, di tahun 2004 rumahsakit memutuskan bubar. Namun enam tahun berselang, mereka akhirnya berhasil melakukan comeback-nya. Saat tampil di Bulungan itu, rupanya antusias para pendengar di luar ekpektasi mereka. Alhasil dua tahun berikutnya atau tepatnya di tahun 2012, mereka merilis album ketiga mereka yang berjudul “1+2”. Dan rupanya, album ini merupakan album terakhir dari sang vokalis, Andri LMS (lemes). Setelah album diluncurkan, Lemes memilih untuk keluar dari rumahsakit karena memilih jalan hidup yang lain. Ditinggal sang vokalis tak membuat rumahsakit hancur. Alih-alih meredup, tiga tahun berselang mereka justru mengeluarkan album ke-4 mereka yang berjudul “timeless”. Dan di sinilah saya mulai mengenal mereka. Ditambah zaman yang modern, cukup melalui sebuah platform digital saja saya mudah menemui serta mendengarkan lagu-lagu mereka. Setelah itu munculah keinginan saya untuk melihat aksi panggung mereka secara langsung.

 kesempatan untuk melihat rumahsakit secara langsung sudah datang di bulan maret lalu. Namun karena satu dan lain hal, saya berhalangan hadir dalam acara itu. Dan di hari ini lah akhirnya saya benar-benar menjadi “pasien”. Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-25, rumahsakit membuat sebuah konser di M Blok Space, Jakarta Selatan. Sebuah tempat yang kini sedang digandrungi anak muda Jakarta. Tempatnya cukup menarik. Saya tiba cukup awal, dan itu memaksa saya untuk melakukan aktifitas lain agar bisa membunuh waktu. Setelah puas berkeliling, akhirnya saya memtusukan untuk duduk, beristirahat sejenak. Tak lama saya duduk, tiba-tiba ada seorang wanita yang tampaknya tak asing bagi saya. Ia tiba-tiba duduk di depan saya. Agar tidak salah orang, saya memandanginya cukup lama. Setelah dirasa cukup, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita itu ialah: Rara Sekar! Vokalis duo syahdu Banda Neira yang di tahun 2016 silam memutuskan bubar. Saya benar-benar mengidolakannya. Gila! Dia di depan saya! Perlu kalian ketahui bahwa saya bukanlah orang yang senang mengambil gambar bersama orang-orang terkenal yang sudah atau pernah saya jumpai. Tapi dihadapan saya ini ialah mba Rara Sekar. Jantung saya tiba-tiba berdegup kencang. Aih, entah kapan terakhir saya deg-degan seperti ini. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta foto, dan hasilnya: ditolak!

“Hai mba Rara, boleh minta foto ga?” kata saya. “Maaf mau kesitu dulu sebentar”, jawab dia dengan senyumnya yang khas. Saya pun juga melempar senyuman, lantas duduk kembali disertai mba Rara yang melangkah pergi dan meninggalkan saya yang sedikit kecewa. Rupanya mba Rara dengan suaminya mengadakan kelas terbuka yang membicarakan suatu persoalan. Alih-alih kecewa saya justru tersenyum saat ia tengah memaparkan materinya. “Gila, itu tadi mba Rara ngomong sama gua, berinteraksi khusus sama gua. Ah ternyata gaperlu fotolah. Dengan dia berbicara khusus disertai senyum saja itu sudah lebih dari cukup”. Terima kasih mba sudah mau ngobrol dengan saya! Walaupun itu hanya satu kalimat dan sebuah penolakan, saya mengerti, kamu tetap idola pokoknya.

Singkat cerita, pukul 19.00 WIB, gerbang pertunjukan di buka. Saya yang telah menukarkan tiket langsung masuk ke venue guna mencari posisi yang pas. Hingga pada akhirnya semua personel lengkap di atas panggung dan mulai memainkan lagu pertama. Pop Kinetik! Pecah sudah kerumunan massa menyanyi bersama. Saya pun larut dalam euforia. Tak disangka entah di lagu ke berapa, saya menolehkan kepala saya ke sebelah kiri. Ternyata di sebelah saya ada Om Jimz! Yes, Jimi Multhazam! Vokaais The Upstairs, Morfem, Jimi Jazz, serta drummer Be Quiet. Gila ini, biasanya saya menyaksikan aksi panggungnya sekarang malah bisa sing along sama-sama. Hingga pada lagu “Kuning”, akhirnya Om Jimi kembali ikut berkolaborasi bersama rumahsakit setelah sebelumnya juga bernyanyi bersama dalam lagu “Petir, Kilat, dan Halilintar”. Dan penampilan Om Jimi dengan “Kuning” nya benar-benar pecah. Alih-alih menjadikan “Kuning” sebagai lagu terakhir, ternyata konser ditutup dengan lagu “Hilang” ditambah seluruh kolaborator naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu tersebut bersama-sama. Di tengah lagu, lagi Om Jimi kembali mencuri perhatian; dia melakukan stage diving. Sontak kerumunan massa bergemuruh. Lengkap sudah konser malam ini.
Selesai lagu terakhir, rumahsakit mengabadikan konser malam ini dengan berfoto bersama. Saya pun bergegas ke depan. Namun tujuan saya bukan untuk itu, melainkan meminta stiker kepada crew yang membagikannya ke penonton. Sayangnya saat tiba di depan stiker telah habis. Massa mulai meninggalkan venue satu persatu. Sedangkan saya masih dibawah panggung entah apa yang ditunggu. Tiba-tiba salah satu crew membawa beberapa kertas yang tak lain dan tak bukan adalah: set list! Saya pun segera dan memintanya, kali ini tidak sia-sia, saya berhasil mendapatkannya. Terus terang, sejak keluar rumah pun saya tak mengincar ataupun sekedar membayangkan bisa mendapatkan benda ini. Sebab saya tahu, pasti banyak orang yang mengincar benda “sakral” ini. Namun, ya, rezeki tidak kemana. Sebelum meninggalkan tempat, saya melakukan swafoto dengan salah satu personel rumahsakit. Lengkap sudah konser malam ini. Lengkap sudah akhir pekan saya kali ini.

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-25 rumahsakit! Seperti yang kalian nyanyikan tadi; “jangan biarkan aku jangan, hilang”. Dan Kalianlah satu-satunya rumahsakit yang dengan senang hati saya menjadikan diri saya sebagai pasiennya, dan mungkin akan menjadi rumahsakit yang kedepannya sering saya kunjungi.

Sabtu, 14 September 2019

(mungkin) Perjalanan Terakhir

Outer berwarna hijau lengkap dengan senyum manis di bibirmu adalah setitik cahaya yang dengan mudah bisa saya temukan diantara kerumunan orang-orang yang larut dalam euforia merayakan hari (yang seharusnya) bahagia sore itu. Tuhan, seperti biasa, dia cantik sekali! Dia benar-benar menyihir saya dengan parasnya.

Sedikit cerita, akhir-akhir ini saya sedang rajin mendengarkan lagu dari "Hindia" yang berjudul "Membasuh". Lagu yang menceritakan tentang keikhlasan, dengan bunga matahari yang menjadi cover dari lagu tersebut. Dan rupanya dihari itu kamu juga memberi saya bunga yang sama. "Supaya masa depan kamu cerah", katamu. Saya mengamini, sekaligus berdoa supaya tidak ada hubungannya dengan lagu yang akhir-akhir ini saya dengar.

Setelahnya seperti biasa, dengan motor tua pabrikan tahun 1995, kita menyusuri jalanan di pinggiran ibukota sambil bercerita tentang hari-hari kita, atau bahkan lebih serius lagi mengenai peristiwa yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini. Sangat hangat. Seperti semangkuk seblak yang sesaat setelah kita sampai segera dipesan karena perut tak bisa lagi menahan. Entah pada perbincangan yang mana, kita sesekali diam. Menerawang jalanan dipusat kota tanpa masing-masing dari kita tahu apa yang sebenernya ada dalam kepala, hingga kita tiba pada suapan terakhir.

Disinilah semuanya dimulai, saat saya antar kamu dan tiba di rumahmu, sebuah tempat yang sangat nyaman dan hangat bagi saya, tiba-tiba kamu mengatakan bahwa tak akan ada lagi kita. Semua sudah selesai. Saya heran, jelas sangat heran. Namun tidak ada argumen kala itu, tidak ada perdebatan, tidak seperti biasanya. "Kamu tidak tahu saya, tidak pernah tau", singkatnya darimu. Saya hanya diam, lalu mengamini. Ya, mungkin benar. Sebab satu-satunya yang kini saya tau darimu adalah saya sangat mengecewakan untukmu. Pada akhirnya pun, saya harus ikhlas bahwa malam itu (mungkin) perjalanan terakhir saya denganmu. Ya, ikhlas. Hal yang belakangan ini sering saya resapi, hal tersulit dalam hidup. Saya harus rela bahwa kamu telah pergi. Oh tidak tidak, bukan pergi, bukan pergi kata yang tepat. Berkelana! Ya, berkelana. Berkelana lah kamu! Terbang sampai ke angkasa, menyelam sampai dasar laut antartika, atau jika perlu tersesatlah di hutan belantara. Disini, saya hanya perlu menunggu, entah sampai kapan.

Sesampainya di rumah, akhirnya kamu mau bicara dengan saya. Selayaknya perpisahan, ada pesan yang pasti diutarakan. Pesan yang terdiri dari ucapan terima kasih, serta kata maaf. Menariknya, di antara pesan perpisahan yang cukup panjang, yang kamu tulis untuk saya, mata saya justru menatap lebih tajam pada pesan kedua yang jauh lebih singkat. Hanya 3 kata: “Hati-hati diperjalanan ki”. Wow! Berkali-kali saya baca kalimat itu. Semoga saya memang benar-benar selamat di perjalanan tanpamu setelah ini, semoga saya tidak hilang arah. Sebab saat pertama kali kita berbincang cukup hangat di warung indomie, di bawah rintik-rintik hujan malam dibilangan wilayah barat Jakarta kala itu, saya seperti menemukan apa yang sangat ingin saya temukan selama ini. Sebab, kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Namun kini semua telah usai. Dan setelah semua ini, semoga suatu saat kita bisa kembali dengan tidak hanya raga, namun juga jiwa yang jauh lebih baik dari ini. Semoga pada satu titik nantinya, bersama, kita bisa melihat ke belakang lalu menertawakan hari ini. Hari yang penuh dengan keegoisan, hari-hari yang dihiasi dengan keras kepala, hari dimana kita masih terlalu muda untuk melakukan semuanya. Dan saat tiba dititik itu, semoga belum ada kata terlambat untuk kita. Hingga pada akhirnya masing-masing kita tiba pada sebuah percakapan,

"Huh, kemana saja sih kamu! Ternyata memang benar, kamu adalah sebaik-baiknya rumah. Maafkan saya yang waktu itu. Walah usang sekali rumah ini, sudah berapa lama saya pergi? Mari kita betulkan! Pelan-pelan saja, mulai dari atap yang bocor itu! Lalu keramik-keramik yang sudah pecah itu! Kita ganti saja dengan yang baru! Setelahnya, mungkin kita bisa membuat sebuah taman dilahan itu, untuk kita berbincang mengenai apa-apa saja yang sudah terlewati. Nanti ku buatkan teh manis untukmu. Seperti biasa, saat kamu berkunjung waktu itu"

Dan kuharap, kali ini teh nya betul-betul manis.