Jumat, 30 September 2022

Kembali Menjadi Manusia dalam 3 Hari

Jumat, 2 September 2022 sekitar pukul 7 malam WITA, kantor gua mendapat kabar yang cukup mengaggetkan. Kini, total mencapai 4 orang yang harus pindah atau mutasi dari kantor gua. Kekhawatiran jelas gua rasain. Gimana engga, pergi 4 orang tapi ga satupun yang masuk. Pertama kali yang gua pikirin adalah "masih bisa cuti ga ya dengan orang yang tinggal dikit ini?". Emang aneh sih kadang kalau dipikir, kita hidup di masa di mana kita takut untuk menggunakan hak kita. Padahal, setiap harinya kita telah melaksanakan kewajiban kita. Sebegitu takutnya kita minta jatah 12 hari dari 365 hari yang ada, absurd.

Singkat cerita, setelah bersusah payah, dengan rasa syukur akhirnya gua berhasil mendapat izin untuk menggunakan hak gua. Walaupun dipangkas 1 hari dari yang gua ajuin, tapi ya oke lah daripada ga sama sekali. Ditambah, cuti kali ini rasanya sakral. Sebab, tujuan gua ga cuma pulang tapi nonton konser! Apalagi, terakhir kali gua nonton konser itu terjadi di penghujung 2019 kala menyaksikan Rumahsakit dalam tajuk ulang tahunnya yang ke-25. Artinya, nyaris 3 tahun gua ga meluapkan emosi gua lewat nyanyi-nyanyian. Momen dimana gaperlu lagi gua pikirin; ada yang ke ganggu ga ya, seperti saat gua nyanyi-nyanyi sambil mandi sore.

Beranjak dewasa, kita mulai menurunkan idealisme kita. Hidup ga melulu tentang passion. Apalagi, kalo lu udah sadar passion lu gabikin perut lu kenyang. Jadilah banyak penyesuaian-penyesuaian yang harus lu lakuin. Apa aja juga disikat selagi perut bisa kenyang, kaos band dan vinyl inceran bisa kebeli, juga tempat-tempat yang selama ini jadi wishlist akhirnya kesampean buat lu datengin. At the end of the day, we're here just for the fcking money, dan gua ga merasa itu salah, sama sekali. Silahkan aja asal ga ngerugiin orang lain. Lagipula, kaos band dan vinyl inceran gua kan emang gabisa dibeli pake pengabdian, HAHAHA!

Kamis, 22 September 2022, pesawat Citilink yang gua tumpangi membawa gua melintasi udara, bergerak dari Labuan Bajo menuju ke Cengkareng. Walaupun pesawat gua delay kurang lebih 1,5 jam, namun akhirnya gua sampe juga ditujuan sekitar pukul setengah 5 sore. Pemandangan langka terjadi, gua disambut dengan hujan yang amat deras. Mungkin ini pertama kalinya gua sampe di Jakarta dan tidak disambut dengan cuaca panas khas ala kota kejam kesayangan ini. Abis maghrib, gua sampe di rumah. Nyokap sama Bokap kaget anak tengahnya pulang. Gimana engga, gua emang ga bilang-bilang kalo pengen pulang, jadilah mereka ganyangka hahaha. Suasana rumah seperti biasa, hangat. Ditambah kucing kesayangan kami yang terus ngeong-ngeong sejak gua dateng. Sebelum malam berakhir, gua menyempatkan untuk menemui perempuan kesayangan gua di kediamannya. Rindu memang harus dibayar tuntas bukan? Lagian juga, rencana menonton konser kali ini memang bersama mba pacar. Jadi, ada hal-hal yang harus dibicarakan terlebih dahulu.

Perjalanan pulang ke rumah gua dari rumahnya, playlist gua muterin lagu-lagu band yang bakal tampil di hari pertama konser yang bakal gua datengin nanti, Pestapora! Sambil bersenandung tipis, gua mulai melantunkan lirik-lirik mereka. The Adams, ERK, sampe .Feast jelas jadi jagoan gua.

Hari H tiba! Gua sedikit telat karena harus nunggu mba pacar yang masih bekerja. Jadilah selepas maghrib kita baru jalan. Sampe di situ, kita masih harus menukarkan tiket dulu. Syit! Panjang bener antreannya. Namun dengan penuh kesabaran kita masuk ke dalamnya. Di dalem antrean, Ku Tak Bisa dari Slank sedang dimainkan. Fak! Kelewat! Gua sedikit kecewa, tapi mau gimana lagi? Gua tetap antre dengan sabar. Lagu Slank tadi secara ga sadar membuat perasaan ngonser 3 tahun lalu di dalam diri gua membuncah. "Akhirnya boy, akhirnya!" Gua berkata sama diri gua sendiri. Masuk ke venue disambut dengan jingle yang sampe blog ini gua tulis masih nempel banget di kepala gua

“Oooooo pestaporaaa

Mari-mari berpesta-pestapooraaaa”

Gapake lama, gua liat jam tangan. Beberapa menit lagi ERK manggung, dan bener aja. Lagu Biru dari album Sinestesia sedang dimainkan saat gua tiba di depan panggung mereka. Gua masuk ke dalam crowd dan hanyut dalam perform mereka, walaupun sejujurnya tempat gua berdiri kurang pewe. Tepat di panggung sebelah, Raisa juga sedang perform dan sepertinya lebih meriah hahaha. Tapi cuek aja!

Ada 1 hal yang menarik dari perform ERK. Desember yang dia bawain kali ini adalah yang versi Pandai Besi! Fakkk, gua pengen banget nonton showcase-nya Pandai Besi tapi gapernah kesampean. Malam ini akhirnya terkabul walau cuma satu lagu. Sampelah di lagu terkahir, Cinta Melulu, baru crowd pecah! Semua loncat-loncatan, termasuk gua tentunya. ERK selesai, gua langsung melipir ke stage sebelah yang udah gua tungguin performnya selama 3 tahun, The Adams! Saat mereka naik panggung sebetulnya gua cukup kecewa, karena sang frontman, Ale, berhalangan untuk tampil malam itu, jadilah dia harus digantikan dengan orang lain. Ibaratnya nonton Argentina tapi Messi nya lagi cedera. Walau begitu, the show must go on, isn't it? Lagu pertama mereka buka dengan Halo Beni. Jujur gua ganyangka, karena lagu ini biasanya ada di akhir, ini malah dijadiin opening tapi yaudahlah, sama aja kan cuma beda urutan aja haha. Sampe akhirnya tiba di lagu Timur! Gua pernah ngetwit kalo someday gua bakal nyanyiin lagu ini bersama perempuan kesayangan gua. 2 tahun setelah twit itu akhirnya kesampean juga! 

"Aku tak bisa menjanjikan surga atau bahagia untuk selamanya, tetapi jika engkau terus percaya

Pasti akan ada jalan!"

Perform mereka ditutup dengan lagu paling anthemic di skena musik Indonesia bagi gua, setelah Matraman tentunya, yaitu Konservatif! Udah jaminan kalo lagu ini bakal pecah dan bener aja! Ga salah emang kalo lagu ini masuk ke dalam 150 lagu terbaik Indonesia sepanjang masa versi Rolling Stones. Akhirnya kesampean juga gua nonton mereka walaupun personilnya ga komplit. Jadi, kayaknya gua bakal nonton mereka lagi kapan-kapan haha. Selesai dari The Adams, gua memutuskan untuk istrahat, ditambah mba pacar juga kayaknya udah keletihan. Apalagi band yang akan kami tonton selanjutnya adalah .Feast! Setelah dirasa sudah cukup, gua bergerak dari area FnB ke stage di mana .Feast bakal tampil. Pemilihan tempat jelas jadi pertimbangan, gua memilih tempat yang agak longgar supaya si mba masih "bisa nafas". Lagu pertama, seperti biasa dibuka dengan Kami Belum Tentu! Dan dari 2 band sebelumnya, dengan yakin gua bilang kalo sound .Feast ini yang paling enak. Crowd? Udah tentu pecah. 1 hal yang gua ganyangka, di performnya kali ini dia membawakan Fastest Man Alive! Wah gila sih, gua pengen banget liat lagu ini secara live dan akhirnya dibawain di Pestapora ini! Keren, gaboong! Ga selesai disitu, kejutan juga terjadi saat mereka memainkan lagu Berita Kehilangan. Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca dan Iga Massardi dari Barasuara ikut ke atas panggung untuk bernyanyi bersama. Gila! Gapernah kebayang gua 3 orang ini berada dalam 1 stage yang sama. Kejadian itu membuat semua penonton heboh! Selesai lagu itu, Cholil dan Iga kembali turun. Setelahnya seperti biasa, lagu mereka yang paling fenomenal, Peradaban, kemudian ditutup dengan Sectumsempra! Selesai! Pecah!

Gua liat muka mba pacar udah keletihan, maklum, doi kerja seharian sebelum dateng ke sini. Jadilah kita memutuskan untuk menyelesaikan hari ini di sini. Sebelum jalan pulang, kita nyempetin liat Vierra 1-2 lagu karena tergoda dengan lagu yang hits dan crowd yang sing along. Seandainya dan Perih emang gapernah gagal untuk generasi kita. Hampir setiap orang punya kenangan tentang lagu ini. Hari pertama selesai! Pulang dan siap untuk hari kedua.

 

***

Hari kedua, gua dan mba pacar memutuskan dateng lebih awal. Sekitar jam 4 kita udah dateng. Lucunya, band yang tampil di sore itu malah kami rasa kurang haha. Jadinya, kita hanya muter-muter venue sambil foto-foto tentunya. Selepas sholat maghrib, baru lah kita bergeser ke stage di mana Nadin Amizah tampil. Kali ini emang mba pacar yang mau nonton Nadin. Sayangnya, spot kita kurang oke, ditambah stage ini emang kurang tinggi menurut gua, jadinya cuma bisa liat mba Nadin seuprit. Buka instagram, ada perubahan jadwal rupanya. Hampir semua performer dipotong durasinya menjadi hanya 30 menit, jam 12 udah selesai! Awalnya, gua pikir ini untuk memberikan space pada penampil yang masih dirahasiakan sampai saat itu, usut punya usut sih Sheila on 7, tapi rupanya sampai hari itu selesaipun tidak ada Sheila, hari itu memang selesai di jam 12. Setelahnya baru saya ketahui bahwasannya emang ada instruksi dari Pemprov DKI untuk menyelesaikannya tidak lebih dari jam 12. Alasannya? Protokol kesehatan🤡

Kembali ke panggung, setelah Nadin selesai, kami bergerak ke panggung yang lebih besar. Panggung yang menampilkan sang primadona di hari itu, JKT 48! Lampu diredupkan. Ribuan manusia sudah berdiri tepat di depannya. Saat lampu kembali dinyalakan, Rapsodi membuka penampilan mereka, pecah! Semua bernyanyi dan bergoyang. Sayangnya, durasi yang singkat ini malah dipake mereka untuk haha-hihi sendiri, berasa lagi talkshow. Atau, memang begitu biasanya mereka perform? Maklum, ini kali pertama saya dan cukup kaget dengan hal itu. Setelah itu akhirnya tiba di lagu Fortune Cookies! Semuanya kembali menggila! Hingga tiba saatnya mereka di lagu terkahir, Heavy Rotation. Lagu yang JKT 48 banget! Jelas ini membuat semua orang makin menggila. Selesai! JKT 48 memang edan! Dari JKT 48 kami memutuskan tidak beranjak. Mba pacar mau nonton RAN. RAN adalah sebuah band yang penuh memori buat gua. Gua dan tim pernah mengundangnya untuk menjadi bintang tamu di acara pagelaran seni murid kelas 9 saat SMP kala itu, tepatnya di tahun 2015. Sejak saat itu, gua gapernah lagi menonton mereka perform, sudah 7 tahun lamanya! Dan secara mengejutkan mereka tampil dengan sangat seru! Typical RAN yang energetic dan berinteraksi dengan para penonton membuat perform mereka menjadi sangat menarik. Sampai tiba di lagu Dekat Di Hati, mba pacar malah meneteskan air mata, maklum kami memang sedang menjalani hubungan jarak jauh. Setelah lagu yang menyayat itu, RAN menutup performnya dengan lagu Pandangan Pertama. Semua kembali bersenandung ria, menyenangkan! RAN dengan cepat kami jadikan MVP untuk hari kedua. Selesai dari situ kami keluar crowd untuk istirahat, duduk-duduk di tugu dekat pintu masuk. Gua cek jadwal, rupanya sebentar lagi The Panturas main, untungnya stage mereka tidak jauh dari tempat kami beristirahat. Dan untungnya lagi, malam itu kami tidak benar-benar berdua, ada sepupu mba pacar yang juga datang dengan pasangannya. Alih-alih beristirahat gua lebih memilih menyaksikan The Panturas. Menitipkan mba pacar ke sepupunya adalah solusi yang tepat. Tiba di depan panggung dan Jim Lambrador membuka penampilan mereka. "Buset, langsung lagu ini aja!" Kata gua dalem hati. Jadilah di bagian depan panggung tercipta moshpit yang cukup menggila. Jujur gua ragu untuk masuk ke dalamnya. Akhirnya setelah beberapa lagu, tepatnya di lagu hampir terakhir, Queen of South mereka mainkan. Gua bener-bener gabisa nahan diri. Akhirnya gua masuk ke dalam moshpit yang cukup gila itu. Setelah 2 tahun hanya joget daerah dengan pola terstruktur, di malam itu gua bebas menggerakan tubuh gua kemana aja. Yes, gua masuk pit! Walaupun gua juga masih cukup menahan diri, maklum boy udah lama jadi agak kaku hahaha. Setelahnya gua kembali menemui mba pacar. Dengan langkah sedikit gontai gua duduk dan minum terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan ke stage berikutnya. Setelah cukup memulihkan tubuh, gua kembali berjalan dan kali ini akhirnya ke panggung utama untuk menyaksikan D'Masiv! Jujur gua agak sedikit bete, karena di perjalanan menuju stage mba pacar tau-tau minta makan, hhhh dasar wanita. Jadilah kita telat saat tiba di stage. Namun, semua itu kembali cair saat mereka memainkan Diam Tanpa Kata. Lagu yang membuat semua orang di tempat itu bernyanyi dan berloncatan. D'Masiv menutup performnya malam itu dengan lagu pamungkas mereka, Cinta Ini Membunuhku. Semua mendadak galau seakan baru patah hati hahaha. Selesai! Setelahnya, banyak dari penonton yang tidak beranjak sedikitpun. Mengapa? Karena mereka masih setia menunggu Sheila on 7. Sayangnya sampe pukul 12 lebih pun Mas Duta dan kawan-kawan tak kunjung menampakan batang hidungnya. Semua kena PHP. Malam itu ditutup dengan antiklimaks, kami pulang.

 

***

Hari ketiga! Hari terakhir dari perhelatan akbar ini. Hari ini dibuka dengan kekecewaan. Jadwal hari ini dimajuin juga rupanya. Gua yang dari awal memplanning hari ini untuk berangkat jam 3 kurang karena mau nonton band asal Jakarta Utara, Sunwich, yang tampil pukul 15.35, pupus. Jadwal dimajuin membuat mereka tampil pukul 14.30. Alhasil gua belum siap untuk berangkat ke venue. Sedih? Jelas. Cuma ya mau gimana lagi. Karena band inceran gua udah lewat, gua jadi sedikit mengundurkan jadwal berangkat gua. Baru sekitar pukul 16.30 gua sampe di venue. Karena jadwal mengalami pergeseran, akhirnya kami malah foto-foto hampir 30 menit karena bingung mau nonton apa. Barulah sekitar pukul jam 5an kami menonton Last Child. Seluruh Nafas Ini memang dahsyat, seluruh penonton bersenandung seperti orang yang memohon pada kekasihnya agar tidak pergi meninggalkannya. Gua sama mba pacar keluar crowd lebih dulu. Gua mau sholat maghrib lebih awal karena ga lama dari itu, tepatnya 18.10, The Upstairs bakal tampil dan gua gamau ketinggalan lagi. Abis sholat gua langsung buru-buru dan alhamdulillah keuber. Jimi, Kubil, dan yang lainnya membuka penampilan mereka dengan lagu Antah Berantah, Raja Pensi pada zamannya ini emang bukan sekadar slogan semata. Semua orang larut dalam euforia. Walaupun jujur gua agak kecewa karena soundnya cukup noise. Tapi semua itu terbayarkan di lagu Matraman. Semua orang berdansa di lagu ini. Emang gasalah kalo ini menjadi anthem di skena musik Indonesia. Usai The Upstairs mengakhiri performnya, gua dan mba pacar bersama sepupu dan pasangannya tidak beranjak 1 meter pun. Kami stay karena setelah ini ada tribute untuk Koes Plus yang dipersembahkan oleh Vincent dan Desta juga Endah n Rhesa. Sayangnya, gua ga terlalu tau semua lagu Koes Plus. Akhirnya gua kurang menikmati penampilan mereka. Untungnya, ada kejutan kecil yang mereka lakukan. Saat membawakan lagu Kisah Sedih di Hari Minggu, mereka membawa 1 orang untuk naik ke atas panggung. Rupanya orang itu adalah Andre Taulany, pecah! Semua orang tertawa dan bertepuk tangan. Bahkan di lagu itu, dia melakukan medley dengan lagu Mungkinkah dari bandnya, Stinky. Jelas saja semua yang hadir menyanyikan lagu itu. Cukup menyenangkan. Pertunjukkan selesai. Gua dan mba pacar beserta sepupunya keluar untuk istirahat. Kali ini kami istirahat di dekat panggung utama dekat pertujukkan kami selanjutnya, Melly Goeslaw. Dan malam ini ia akan membawakan setlist Original Soundtrack dari AADC, goks!

Di kejauhan, ada panggung yang lebih kecil dari panggung utama. Layar LED menampilkan bahwa next performance adalah Fstvlst! Hmm menarik. Lagian juga dari awal emang gua mau nonton mereka. Sayangnya, jadwal mereka cuma selisih 10 menit dari Melly Goeslaw sehingga kami memutuskan untuk sekalian saja Melly Goeslaw. Namun, karena Melly belum mulai, selisih 10 menit itu gua rasa bisa dimanfaatkan. Yaaa 1-2 lagu bisa kali, karena memang sepengen itu gua ngeliat mereka perform. Akhirnya izin ke mba pacar seraya menitipkannya pada sepupunya. Gua lari-lari kecil sampe tiba di depan panggung. Lagu pertama yang mereka mainkan adalah Manifesto Postmodernisme. Lagu itu tentunya pernah gua dengerin, walaupu emang ga terlalu hafal jadi cuma ngangguk-ngangguk tipis aja. Itupun gua nonton dari kejauhan supaya gampang keluarnya. Selanjutnya, Fstvlst membawakan lagu Satu Terbela Selalu. Oke ini mulai gaberes, dengan perlahan gua mulai bergerak lebih dekat sambil menggoyangkan seluruh badan gua. Lagu ini emang enak bagi gua, asli! Dari tempat gua kali ini semakin jelas menyaksikan orang-orang yang sedang crowdsurf. Karena sudah berjanji, di dalam hati gua berkata; oke abis ini keluar karena mau nonton Melly Goeslaw. Tapi situasi berkata lain. Fstvlst malah langsung ngebawain lagu favorit gua; Gas! Anjinggggg, ini mah gabisa gua keluar. Yang ada, gua malah tambah maju dan sudah masuk ke dalam kerumunan. Gua benar-benar masuk ke pit dan mulai loncat-loncatan, nyanyi, dorong-dorong dan melakukan apapun selagi masih dalam koridor. "Gila, ini pecah banget sih". Kata gua dalem hati. Lagu ini emang ngasih energi positif buat gua, dan wajar kalo ini gua jadiin lagi favorit dari Fstvlst. Gas selesai. Gua harus keluar sekarang kayaknya. Sialnya, mas Farid Stevy justru menginstruksikan para penonton perempuan untuk melakukan crowdsurf di lagu berikutnya. Gua penasaran sambil perlahan berjalan keluar, mata gua masih fokus melihat mas Farid. Lagu berikutnya adalah Tanah Indah! Bangsat, gabisa gua ninggalin sekarang. Akhirnya gua malah kembali masuk ke kerumununan dan benar aja, dari penglihatan gua sekitar 3-4 perempuan melakukan crowdsurf, gokil! Di tengah lagu tiba-tiba ada telepon dan rupanya ini dari mba pacar. Oke ini bahaya, abis lagu ini selesai, gua harus langsung lari keluar kerumunan dan gadengerin lagi apa lagu selanjutnya. Karena yang ada gua malah tambah susah keluar nanti kalo lagunya makin enak haha. Walaupun cuma 4 lagu dari Fstvlst tapi dengan yakin gua katakan kalau merekalah performer terbaik di Pestapora! Edan! Gua pasti bakal nonton mereka lagi, tentunya dari awal sampe akhir. Nyampe di mba pacar muka dia keliatan bete, maklum gua emang salah. Jadilah nonton Melly dengan perasaan kurang enak. Namun semuanya jadi cair lagi pas Teh Melly bawain Tentang Seseorang. Mba pacar akhirnya mau mengeluarkan suara dari mulutnya yang manis itu. Menarik pertunjukkan Melly ini gua akuin. Namun sayangnya, arwah gua kayaknya ketinggalan di kerumunan Fstvlst jadinya ga sepenuh hati gua menikmatinya. Selesai dan kami bergerak ke panggung lain. Padahal setelah ini, di panggung yang sama, Tulus akan tampil. Namun gua lebih memilih menyaksikan Hindia di panggung lainnya. Mba pacar keliatan capek. Jadi lah gua menonton Hindia juga setengah-setengah. Ya beginilah kalau nonton bersama orang lain, ada hal-hal yang harus dikompromikan. Ada hal yang harus diingat bahwa ini semua ga cuma tentang diri sendiri. Namun gua cukup puas akhirnya bisa menyaksikannya lagi setelah terakhir kali di Synchronize 2019! Sebelum dirilis album Menari Dengan Bayangan artinya. Jadinya, setlist yang dia bawakan berasa fresh buat gua.

Hampir tiba di penghujung acara. Sebelum kami kembali ke panggung utama, Tipe-X dikejauhan sedang memainkan lagu pamungkasnya, Boyband! Jujur gua pengen banget nonton mereka. Tapi mba pacar belum pulih sepenuhnya, jadinya gua mengurungkan niat gua itu, kembali lagi, kompromi brow.

Tiba di panggung utama, kami sangat siap untuk menyaksikan band tersukses di tanah air ini, Noah! Siapa sih yang ga kenal dengan mereka?! Kali ini kami benar-benar memilih spot terbaik.

Ariel naik ke panggung. Hidup Untukmu, Mati Tanpamu membuka aksi mereka. Gila! Dari sound, visual, lighting, emang juara ini band! Gua gabisa berpanjang lebar. Emang pantes dia jadi penutup dari festival 3 hari yang penuh keceriaan ini. Pestapora ditutup olehnya dengan lagu Topeng! Sangat sangat dahsyat memang! Apalagi, semua rangkaian itu ditutup dengan pesta kembang api. Lengkap sudah, semua dibungkus dengan sangat sempurna. Pestapora resmi selesai!

Setelah hampir 3 tahun lamanya, gua kembali merasakan keseruan dalam hari-hari gua lewat festival 3 hari ini! Emang bener kata orang, nonton festival musik tuh 30% nonton musiknya 70% seru-seruannya. Dulu waktu Synchronize gua dateng sendirian. Enak sih mobilitas jadi gampang, cuma kan gabut juga sendirian kayak orang linglung. Kali ini jauh lebih seru karena sama mba pacar, mwahhh.

Gua percaya, di usia gua saat ini cuma ada beberapa tempat yang bikin gua merasa aman, bikin gua merasa jadi diri sendiri. Gua meyakini, ada 3 tempat yang bikin gua kembali jadi manusia. Pertama rumah, kedua tempat konser, dan yang terakhir tribun stadion. Sisanya gua rasa cuma cukup jalanin aja sebaik-baiknya sampe ketemu cuti atau liburan berikutnya. Miris? Ya memang. Hidup cuma dari cuti ke cuti doang, tapi kan apa yang gua kerjain ini yang bisa bikin gua nikmatin apa yang akan gua lakukan di cuti nanti. Jadi yaudah jalanin aja.

Sejujurnya sabtu ini gua masih ada konser lagi, gong nya bahkan. Tapi, setelah apa yang telah terjadi di pestapora, rasanya sulit untuk menggantikannya. Malahan, hasrat untuk menonton The Script ini terbilang menurun. Jadi gua ga berekspektasi apa-apa. Festival 3 hari yang udah gua jalanin ini lebih dari cukup.

Setelahnya, harus mempersiapkan fisik dan paling utamanya mental untuk kembali ke tanah perantauan yang tidak sebegitu menyenangkan itu dan kembali lagi jadi robot di tiap weekdays, ngerjain suatu hal yang mungkin ga di suka-sukain amat.

Cuma ya inget aja penggalan lirik lagu Fstvlst yang paling disuka;

“Bagaimanapun juga merawat cita-cita tak akan semudah berkata-kata.

Rencana berikutnya rajut lagi cerita, merapal doa, gas sekencangnya!”