Kamis, 31 Desember 2020

Air Mata untuk 2020

        Selamat untuk kita semua! Akhirnya tahun yang sulit ini bisa terlampaui juga. Harapan baru-pun muncul di hari terakhir ini, harapan yang sepertinya tidak kita gantungkan setinggi tahun-tahun sebelumnya. Setelah ekspektasi kita dipatahkan berkali-kali di tahun ini, sepertinya kita hanya mengharapkan hal-hal sederhana saja seperti tubuh yang sehat, keluarga yang selamat dan kebahagiaan kecil yang bisa kita rasakan di hari-hari kita nantinya. Dan ya, sudah lama sekali rasanya tidak menulis, dan di ujung tahun 2020 saya hanya akan menoleh kebelakang, atau tepatnya berterima kasih kepada sesuatu yang telah menyelamatkan saya di tahun ini.

      Menyambung tulisan saya yang berjudul "Corona: Pengangguran dan Kebosanan" saya terus mencari-cari sesuatu yang dapat mengisi kekosongan hari-hari saya. Ditambah anjuran tidak keluar rumah dan kabar penempatan yang tidak jelas, membuat saya semakin berusaha untuk mencarinya. 

        Saya cukup percaya diri mengatakan bahwa di tahun 2020 ini saya tidak pernah menitihkan air mata. Saya tumbuh menjadi kuat setelah hal-hal pahit yang datang pada saya di tahun 2019 lalu, bahkan 2 kali dihadapkan pada berita kehilangan-pun, saya biasa saja. Hingga sampailah saya di tanggal 11 Juli 2020, hari yang menjadi pertemuan pertama saya dengannya.

        Terus terang, sejak awal saya tidak memahami orang-orang yang bisa nangis sampai tersedak-sedak hanya karena menonton film, series, ataupun sebagainya. Namun semua berbalik saat saya diperkenalkan dengan anime legendaris, Naruto. Ya ya ya, memang saya sangat ketinggalan. Namun tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dari hal-hal di sekitar kita, bukan? Sedikit info, ketika saya melihat abang saya menangis saat layar hp nya menampilkan adegan Jiraiya mati beberapa tahun lalu, saya menertawainya. Berpikir bahwa apa yang ia lakukan cukup berlebihan. Tapi sekarang, kata-kata itu saya telan sendiri.

          Episode awal mungkin cukup membingungkan, cerita yang belum padu dengan alurnya membuat saya berpikir "apasih ini, gajelas".  Namun sesampainya saya pada adegan saat Iruka-Sensei mencoba menghentikan Naruto yang mencuri gulungan rahasia. Saat itu, Ia mengatakan sesuatu yang tidak dilihat oleh penduduk desa. Naruto yang mereka jauhi karena perbuatannya yang meresahkan, Naruto yang dikucilkan karena ada siluman rubah di tubuhnya, Naruto yang selalu diremehkan tentang mimpinya menjadi Hokage. Namun Iruka mengatakan sebaliknya, ia berkata bahwasannya Naruto-pun anak-anak biasa, ia bukanlah jelmaan rubah yang mesti ditakuti, ia melakukan itu semua hanya karena ingin diakui oleh semua orang. Seketika itu saya berubah pikiran, "waw, sedih juga ya. Apakah ini menjadi awal kesedihan-kesedihan yang lain?". Jelas saja, setelahnya, scene-scene yang menguras air mata berdatangan. Seperti kisah Haku yang tulus pada Zabuza, lalu duel antara Sakura - Ino di ujian chunin; apa jadinya saat kita dihadapkan dengan pertarungan melawan sahabat sendiri? Ingatan tentang masa lalu bersama-pun muncul di kepala. Menonton scene tersebut sudah pasti kepala saya bertamasya menanyakan kabar kawan-kawan saya yang entah sekarang sedang apa, atau sesederhana apakah ia masih memikirkan saya? entahlah. Dan yang paling dahsyat, apalagi kalau bukan pertempuran di Lembah Akhir. Pertempuran untuk menyadarkan Sasuke agar tidak memilih jalan yang salah, pergi ke Orochimaru. Sebuah pertempuran yang cukup dahsyat saat itu, walau pada akhirnya hasilnya nihil, Sasuke tetap pergi. Selesai, 220 episode saya selesaikan tidak sampai 2 bulan.

          "Itu baru awal, di Shippuden lebih sedih lagi" abang saya berkata. Dan ya, saya mengamini kata-kata itu sekaligus menantikannnya. Episode demi episode terlampaui, seiring dengan perburuan Akatsuki mencari para Jinchuriki. Hingga sampailah saya di mana Sarutobi Asuma mati di tangan Kakuzu, saya netes lagi-lagi, walau hanya sedikit. Tidak sampai di situ, beberapa episode setelahnya kali ini saya menyaksikan apa yang dilihat oleh abang saya: adegan Jiraiya mati. Anehnya, tidak ada air mata di situ. Saya pun bertanya-tanya "biasa aja dah, mana sedihnya nih?", ternyata itu baru awal, barulah ketika diperlihatkan bagaimana Naruto menyikapi berita tentang kematian gurunya, saya banjir! Ditambah lagi adegan saat Guru Iruka datang untuk menghiburnya, yap, berantakan bos!

         Kematian Sang Guru tercinta lantas tak membuat Naruto diam, inilah pertarungan yang sudah saya nantikan. Saat ia berhadapan dengan Pain. Pada titik darah penghabisan, Naruto hampir saja membuka segel Kyuubi sepenuhnya dalam dirinya. Tiba-tiba, Minato, ayahnya, atau yang biasa dikenal dengan Yondaime Hokage menahannya. Itulah pertemuan Naruto dengan ayahnya: pecah bos! ancur! Hingga akhirnya Naruto bisa mengalahkan Pain, pingsan, dibopong oleh Kakashi, dan ditutup dengan dieluhkan satu desa adalah momen paling mengharukan buat saya. Mereka yang dulu menanggap Naruto adalah sampah sekarang memuji habis-habisan. Bung! Pahlawan baru telah hadir!

        Selain adegan-adegan yang mengandung bawang, tak jarang juga saya berteriak akibat melihat adegan savage. Seperti saat Naruto akhirnya bisa berteman dengan Kyuubi, atau Minato yang datang ke medan pertempuran Perang Dunia Ninja ke-4 setelah menerima Edo Tensei, atau juga Sasuke yang tiba-tiba bergabung dalam pertempuran, disitu tanpa ragu saya berteriak"anjiiiiiingggg!" sampai-sampai pada suatu malam tetangga kost saya ada yang mengirim WhatsApp, memastikan bahwa suara itu bukan dari makhluk astral di tengah malam.

        Adegan savage di atas juga berbanding lurus dengan adegan-adegan yang menyayat hati sampai air mata saya tidak tertahan. Seperti pertemuan Naruto dengan Sang Ibu, Kushina, saat ingin mengambil chakra Kyuubi, Ah! Parah sih itu, apalagi momen saat Kushina mengulang pesan terakhir yang ia berikan pada Naruto di detik-detik akhir kematiannya dan kematian Minato saat ia menceritakan kembali Tragedi Kyuubi yang menyerang Desa Konoha, selesai sudah! Banjir bos. Tapi momen paling banjir di 2020 jatuh kepada: Ketika Perang Dunia Ninja ke-4 bisa diselesaikan dan Ninja-Ninja yang di Edo Tensei harus kembali ke alamnya, Minato menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke Naruto! Lalu dibalas Naruto dengan menitip salam kepada Sang Ibu di atas sana dengan menjawab pesan-pesan terakhir yang diberikannya saat menceritakan Tragedi Kyuubi. Deres bosssssssssssss!

       Fyuhhhh, sepertinya cukup sudah flashback saya. Intinya, ditulisan ini, tulisan terakhir di 2020, saya hanya ingin berterima kasih kepada Naruto yang sudah menyelamatkan saya. Entah, sejak kemarau di 2019 lalu saya menjadi pribadi yang tak pernah merasakan euforia sedikitpun. Senang se-senang-senangnya, sedih se-sedih-sedihnya tak pernah bisa saya rasakan lagi, semua terasa datar, biasa-biasa saja.

        31 Desember 2020, 15:10, akhirnya saya selesai menamatkan anime ini. 220+500 episode selesai terlampaui. Bahkan di episode terakhir-pun saya kembali dibuat menangis. Apalagi kalau bukan adegan saat Iruka-Sensei dimintai Naruto secara langsung untuk bertindak sebagai wali dalam pernikahannya, huh! Setelah semua ini, saya hanya ingin bilang: terima kasih Naruto! Telah menjadi teman saya selama ini, mengisi kesendirian saya jauh di kota sana, menyuntikan motivasi secara tidak langsung kepada saya, dan yang paling penting menyadarkan saya bahwa saya masih jadi manusia. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Ohya, selamat menikah juga! Semoga sakinah, mawaddah, warohmah.

         Arigatou Gozaimasu, Naruto!

Kamis, 15 Oktober 2020

Sia-Sia


“Penghabisan kali itu kau datang

Membawaku kembang berkarang

Mawar merah dan melati putih

Darah dan Suci

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan; untukmu.

 

Lalu kita sama termangu

Saling bertanya: apakah ini?

Cinta? Kita berdua tak mengerti

 

Sehari kita bersama. Tak Hampir-menghampiri

 

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi”.

                Puisi di atas adalah puisi yang diciptakan oleh Chairil Anwar pada (kalau tidak salah) Februari 1943 dan sukses menjadikannya sebagai salah satu puisi favorit saya, ya walaupun saya sebetulnya tidak tahu dalam-dalam amat sih soal puisi, tapi bait terakhir selalu terngiang-ngiang saat saya merasa sepi atau sia-sia sejak pertama kali saya membacanya ketika duduk di bangku SMP silam.

Beberapa malam yang lalu, teman saya, eh sohib saya, eh maksudnya calon pasangan, eh apasih kita ini? Ah pokoknya ada yang bertanya kepada saya gitu deh perihal kesia-siaan. Bagi saya pertanyaan itu amat menarik, bahkan saya jadikan sebagai “pr” karena belum bisa terjawab. Dan bila kamu membaca tulisan ini dan berharap saya akan menjawabnya di sini, hmm sepertinya tidak juga. Menurut KBBI, sia-sia berarti terbuang-buang saja; tidak ada gunanya; percuma; omong kosong; nonsens; gagal; tidak berhasil; tidak mendapat apa-apa. Lalu definisi tersebut saya bawa kepada hal atau aktifitas yang lebih konkret. Misal; kita sudah belajar semalam suntuk bahkan bisa dibilang mati-matian lalu keesokan paginya ternyata kita sadar bahwa materi yang diujikan tidak sesuai dengan yang sudah kita pelajari tadi malam, alias, salah belajar. Apakah itu bisa disebut ke-sia-siaan? Atau saat kita tengah bergulat dengan suatu penyakit. Kita seringkali melihat orang-orang dalam posisi tersebut harus merogoh kocek dalam-dalam, terbaring lemas tak berdaya, cuci darah tiap minggu, lalu pada akhirnya mati juga. Itukah yang disebut ke-sia-siaan? Atau juga kasus terakhir yang cukup singkat: mencintai tanpa dicintai balik. Sia-siakah itu? Saat kita mencintai sesorang sepenuhnya sedang dia hanya mencintai kita seperlunya? Entahlah, saya hanya bertanya pada diri saya sendiri. Jadi apakah ke-sia-siaan itu? Eh, tapi kata orang, semua ada hikmahnya yang artinya tak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Masih bisakah kita mempercayai itu?

“Kadang kepala yang rumit ini seringkali luput untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih santai”. Itu adalah quote yang saya tinggalkan di buku tahunan sekolah SMP saya, kalimat tersebut tercetus dari seniman asal kota kembang dengan nama panggung Amenkcoy dan sejak saat itu saya percaya bahwa semua tergantung sudut pandang. Yap, sudut pandang. Termasuk dalam hal kesia-siaan.

Bukankah kita akan merasa sia-sia saat membaca sebuah kisah atau cerita fiksi yang artinya cerita bohong? Cerita yang di-ada-adakan? Tapi di sisi lain kita bisa menyangkalnya, bahwa dengan adanya cerita fiksi kita dapat mengerti bahwa dunia imajinasi memang perlu dihadirkan untuk menjadi sarana pertukaran pikiran, nasehat, bahkan renungan yang sejatinya dapat kita petik dan kita praktikan di kehidupan nyata. “Untuk apa pacaran lama-lama ujung-ujungnya putus juga”, bagaimana dengan situasi seperti ini? Hm begini, saat kita menjalani hubungan dengan seseorang bukankah banyak pelajaran yang dapat kita ambil? Perihal tumbuh bersama adalah salah satu pelajaran yang amat berharga saat menjalani hubungan dengan sesorang. Menyadari batas diri sendiri, merasakan hal-hal kecil menyenangkan, dan juga merasakan hal-hal yang seringkali menyakitkan yang mungkin selama ini luput dari diri kita. Semua akan terasa saat kita menjalani hubungan. Bahkan jika memang dia bukan orang yang terakhir, kita tidak dapat mengelak bahwa diri kita yang baru akan terbentuk setelah melewati hubungan dengan dia. Belajar dari kesalahan masa lalu rupanya adalah kunci keberhasilan untuk orang di masa depan.

Kalau hidup?

Hah maksudnya?

Iya, hidup. Buat apa kita hidup kalau nantinya akan mati juga?

Hehehehe saya tidak cukup pandai untuk mendeskripsikan yang satu ini ke dalam bentuk tulisan, singkatnya mungkin untuk berbuat baik kepada sesama dan diri sendiri serta mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Lalu untuk yang tidak percaya kehidupan setelah kematian? Kembali lagi ke kalimat pertama saya; saya tidak pandai menuangkannya ke dalam tulisan ini.

Sebentar, sebelum berakhir, tiba-tiba saya teringat pada dua puisi Chairil Anwar dimana kedua puisi tersebut dijadikan “jawaban” oleh Ananda Badudu saat ia melakukan interview perihal album kedua Banda Neira dan di sini akan saya ungkapkan melalui versi saya, begini:

Semua mungkin tahu puisi paling fenomenal dari Chairil Anwar yang berjudul “Aku”. Puisi yang “nge-hits” pada masanya karena film Ada Apa Dengan Cinta,

 

“Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa

Kubawa berlari

Berlari”

 

Seringkali kita memang tidak mengenal batas di masa (muda) ini. Membiarkan diri kita melampaui hal-hal yang tidak dipercayai manusia manapun, mencari dan terus mencari, menghindari kesia-siaan. Tapi, tahukah kamu, Chairil Anwar Si Binatang Jalang ini menutup semua rangkaian puisinya dengan apa? Dia menutupnya dengan puisi berjudul Derai-Derai Cemara. Puisi yang meruntuhkan segala ke“maskulinitas” yang ada di dalam puisi “Aku”. Ia menutup dengan satu bait yang amat maut bagi saya,

“Hidup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah”

 

Ya, untuk urusan hidup, sepertinya masing-masing kita hanya sedang menunda kekalahan. Sebelum pada akhirnya mesti menyerah.

Rabu, 16 September 2020

Sebab Katanya; Jakarta itu Kasih Sayang

KBBI memliki arti yang sangat “cetek” untuk sebuah rumah menurut saya: 1 bangunan untuk tempat tinggal; 2 bangunan pada umumnya (seperti gedung);- . Sebab bagi saya, rumah memiliki arti yang jauh lebih dari itu. Orang bijak pernah berkata,“Rumah adalah tempat yang paling ingin kau tinggalkan saat dewasa, namun menjadi tempat yang paling ingin kau tempati di masa tua”. Dan saya setuju untuk itu.

Mungkin saya sedikit terlambat untuk pergi dibandingkan teman-teman saya yang sudah memulainya 2-3 tahun yang lalu. Namun kali ini, perjalanan saya langsung jauh; 2.041 km! Itulah yang dikatakan oleh Google Maps. Sebagai “Agata”; Anak Gaul Jakarta, katanya, tinggal selama 2 dekade di Ibukota lebih dari cukup untuk memberikan saya banyak pelajaran. Mulai dari sakit se-sakit-sakitnya, juga merasa menjadi orang paling bahagia di kota, pernah saya alami. Bicara tentang "pergi", sangat belum terlambat saya kira. Walau ini bisa dibilang hanya “konsekuensi dari sebuah pilihan” dimana mau tidak mau harus berjalan lebih jauh mulai saat ini. Lagipula, pelaut hebat tidak hadir dari ombak yang tenang bukan? Untuk itu, mari kita jalan-jalan sebentar di Jakarta.

Ijinkan hamba menutur sebuah cerita
Yang terpenggal di selatan Jakarta
Bukan gegap gempita, serta baik buruk sarana
Tiada angan hampa penuh peluh ataupun nestapa
. – WSATCC (Kisah dari Selatan Jakarta)

“Anak Selatan”, seringkali disematkan kepada mereka-mereka yang gaul, ngomong campur-aduk antara Bahasa Indonesia juga Bahasa Inggris, pergi ke gigs tiap malam minggu, mabuk sampai pagi dibilangan Senoparty, atau sekedar makan-makan lucu di wilayah Kemang, atau mungkin ada lagi yang belum saya ketahui. Namun di samping itu semua, Selatan Jakarta mempunya sisi lain yang unik bagi saya. Di antaranya apalagi kalau bukan tawuran Manggarai yang seringkali pecah dengan sebab yang kadang tak bisa dijelaskan oleh siapapun, Petukangan; sebuah daerah yang bagi saya sangat bertolak belakang dengan “Selatan” yang dikenal oleh banyak orang, dan yang pasti Senayan. Apalagi yang terlintas jika mendengar nama senayan kalau bukan Gelora Bung Karno. Apa? Anda justru memikirkan gedung Parlemen itu? Ah, ayolah!

Gelora Bung Karno ibarat rumah kedua bagi kami; pecinta sepakbola kota ini. Matchday di tiap pekan adalah pelepas penat bagi kami-kami para pelajar maupun pekerja yang seringkali mendapat tekanan di tengah pekan. Tak heran memang jika sepakbola diidentikan dengan olahraga kelas bawah. Seringkali saya merasa pulang, atau setidaknya merasa makin memiliki kota ini. Melihat orang-orang yang menabuh drum di atas metro mini sambil menyanyikan chants pembangkit semangat masih jadi momen terbaik dalam berkendara di Ibukota. Tak heran, jika Gelora Bung Karno jelas menjadi tempat yang akan saya rindukan.

Bergerak ke arah Pusat. Saya mengamini bahwa tiap-tiap kita memiliki hubungan emosional dengan tanah kelahirannya, begitu pula dengan apa yang saya rasakan. Lahir di rumah sakit YPK Jakarta Pusat, berjalan-jalan di wilayah ini membuat saya tidak merasa asing sama sekali. Saya bahkan terkadang merasa bahwa setiap sudut wilayah ini adalah cerita yang tak pernah usai, maupun usang.

Berat nafasku terikat
Salemba menyimpan jiwa
Beku rintik hujan
Mengurung kenangan

,

Tajam tatapan matamu
Membunuh jiwa dan raga
Maafkan aku, Jakarta
Tentang kenangan lama akhir pekan berdua
. – The Sastro (Kaktus)

Lagu Kaktus dari The Sastro ini belum ada lawannya untuk mewakili kisah saya di wilayah Pusat Jakarta. Salemba, sebuah tempat dimana saya memulai kisah dengan seorang gadis. Saat sedang di tengah-tengah kompetisi futsal antar SMA di wilayah tersebut. Saya merasakan kedekatan kami yang makin hari makin intens hingga pada akhirnya resmi menjalani, dan tempat-tempat di Jakarta Pusat lah dimana kami menjadikannya sebagai latar tempat cerita kami, sisanya? Tinggal sejarah. Tepat seperti apa yang digambarkan lagu di atas; Saya minta maaf untuk Jakarta atas akhir pekan yang sudah lama tak saya kunjungi, sebab kini ia telah menjelma menjadi kenangan lama.

Ya, begitulah cerita singkat saya atas Jakarta. Saya benar-benar akan merindukan tiap derapnya. Umpatan orang-orang di Jalanan, berita-berita ngawur televisi dari yang (katanya) “elit” Ibukota, orang tua lebih dari setengah abad dengan langkah terseok di dalam angkutan umum saat malam hari, tawuran antar pelajar ataupun warga, muda-mudi yang tertangkap basah ciuman di taman kota karena tak lagi bisa membendung hasrat yang sudah menggelora, teriakan suporter Ibukota, intro-intro musik yang dimainkan band kesayangan di akhir pekan, bau minuman keras yang keluar dari mulut orang-orang yang terlambat pulang, dan Stasiun Senen; tempat dimana banyak pertemuan dan perpisahan terjadi, tempat teromantis di Jakarta bagi saya.

Entahlah, masih banyak lagi yang ingin ceritakan namun sangat sulit untuk mendeskripsikannya. Terakhir, izinkan saya untuk menyangkal Adhitia Sofyan atas lagu Forget Jakarta-nya;

Bung! Jakarta tidak pernah terlupakan, apalagi dilupakan. Ia akan tetap tumbuh di hati orang-orang yang pernah singgah di kota ini. Jakarta adalah bagian dari cerita hidup mereka. Jakarta adalah Ibu, tempat dimana kepulangan setelah jauh berpetualang.

Sebab katanya; nyatanya; Jakarta itu Kasih Sayang.

  

Selasa, 08 September 2020

Thamrin-Sudirman Sekali Lagi

Aneh. Ya, satu kata yang sepertinya cukup untuk menggambarkan apa yang saya rasa sekarang. Tersisa hanya beberapa hari sebelum melakukan penerbangan dan menetap untuk waktu yang cukup lama di tempat yang baru, hari-hari saya hanya diisi dengan pindah dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain. Dan tak ada yang lebih aneh selain bertemu untuk berpamitan.

Malam ini motor saya melaju ke sebuah tempat di pusat Ibukota, Thamrin 10 tepatnya. Hal yang membuat saya cukup kaget adalah malam ini suasana di tempat itu sangat lengang, hanya beberapa pengunjung yang bisa saya lihat malam ini. “Kalo malem kerja begini mah emang sepi mas, malem minggu noh biasanya rame, ada musik juga kadang-kadang” ujar seorang satpam yang sebelumnya saya tanyakan mengenai tempat parkir. Dan setelah itu bertemulah saya dengan wajah-wajah yang sudah cukup lama tak pernah saya lihat. Menyebalkannya justru pertemuan ini untuk “berpamitan” sebelum pergi.

Selesai pada pertemuan itu saya kembali membuka catatan dan mencoret satu dari daftar pertemuan yang sudah saya susun sebelumnya. Tersisa beberapa wajah lagi yang akan saya temui, berbincang, berterima kasih, mengucap maaf, juga meminta doa. Jam menunjukkan pukul 22.00, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan kali ini memilih untuk melintasi jalan Thamrin dan Sudirman sekali lagi.

Bagi saya, kalau mau tau apa itu Jakarta, coba saja untuk melintasi jalan ini di malam hari. Satu pesan saya: Jangan naik mobil pribadi! Gunakan motor, atau angkutan umum, atau jika ingin merasakan syahdunya gesekan antara sepatu bagusmu dengan trotoar yang punya banyak cerita ini, silahkan jalan kaki. Dan kali ini, seperti biasa saya menggunakan motor untuk melintasinya. Membuka sedikit kancing jaket saya, membiarkan angin malam Jakarta yang katanya “jahat” masuk seolah percaya kalau “teman tak akan menyakiti”.

Menunggu di lampu merah Sarinah, melihat ojek-ojek online yang seperti tidak ada capeknya mengantar. Lampu berubah hijau, saya menarik gas saya perlahan, tak usah buru-buru karena sedang tak ada yang dikejar. Melihat halte transjakarta di dekat HI dengan lampunya yang sangat terang berkilauan, cocok untuk spot foto. Sepersekian detik saya menajamkan mata saya sedikit lebih fokus, terlihat seorang bapak-bapak dengan rambutnya sudah memutih sedang menunggu bus berikutnya. Di kota yang hectic ini, di jam segini, kemana ia hendak pergi? Apa cucunya sedang ada halangan ya sehingga tak bisa menjemput?

Selanjutnya, mata saya tertuju pada patung selamat datang dengan air mancurnya yang menawan. “Eh gua suka loh liat city-lights Jakarta. Lo iya ga?” Hah? Suara siapa itu? Saya melihat ke jok belakang, kali ini kepala saya benar-benar memutar hampir 180o, kosong. Ah! Saya tau, itu suara dari mulut seseorang yang malam minggu kemarin saya bawa untuk mengitari jalanan ini juga. Sayang dia telah kembali ke tanahnya, tanah Sumatera, namun suaranya masih cukup jelas.

Lanjut menuju Sudirman, melihat kakak-kakak dengan muka lelah, lalu menerka apa kesalahannya sampai mungkin ia dicaci oleh bosnya? Atau kabar buruk apa yang barusan dia dapat? Atau juga mengira berapa banyak tanggungan yang sedang ia pikul? Ah kak, semoga dugaan saya salah semua. Tiba-tiba klakson dari arah belakang seolah menghantam saya. Saya balas dengan senyum tipis, “Tenang, tak perlu marah, Bung. Kapan lagi diklaksonin? Di sana kan jalanan sepi” kali ini saya berbicara dengan diri sendiri. Lantas setelahnya, mengambil lajur sedikit ke kiri. Eitss, jangan kiri banget tapi, ada cukup banyak pesepeda yang masih bersemangat mengayuh pedalnya, walau kondisi jalanan bisa dibilang cukup lengang untuk sebuah Kota Metropolitan malam ini.

Sebelum memutar balik di Ratu Plaza, saya sempat memerhatikan para supir taxi yang sedang turun dari taxinya, mematikan mesin, dan memilih untuk berbincang bersama rekan-rekan. Di depan, terpampang jelas layar-layar LED raksasa dengan berbagai iklan seolah-olah menyambut siapa saja yang melihatnya.

Dan ya, itu GBK! Sudah lama sekali saya tidak duduk di kursi tribunnya. Ah, sulit menjelasakan hubungan emosional yang terbangun dengan tempat ini. “Tempat yang akan gua rindukan di Jakarta nih”. Kali ini kata-kata saya kepada seseorang di belakang saya malam minggu lalu. Setelahnya, gelap. Hanya remang-remang malam yang menuntun saya sampai tiba di kediaman saya. Membuka pintu, dan disambut oleh dua buah koper yang bahkan masih diplastikin seolah-olah berkata, “kapan siapnya nih bos?”. Saya hanya menggangguk, lalu berjalan ke arah kamar.

Thamrin – Sudirman sekali lagi, untuk semua cerita yang pernah tersimpan, mengembang, dan biarkan ia melayang.

Senin, 13 Juli 2020

Menjalani Toxic Relationship


Perkenalan saya dengannya terjadi sekitar tahun 2008. Setelah mendengar pendapat orang, berpindah-pindah sekaligus mencoba untuk mencari yang tepat, mungkin di saat itulah akhirnya saya merasakan apa itu jatuh cinta. Umur 8 tahun bukanlah umur yang matang untuk merasakan hal itu. Melihat dia untuk pertama kalinya terus terang memang membuat saya terkesima. Namun tidak seperti "jatuh cinta" orang kebanyakan, apa yang saya rasa justru tak bertahan lama, hingga akhirnya hubungan saya dengannya berlalu begitu saja.

Empat tahun berpisah, entah bagaimana alam semesta bekerja, kami dipertemukan kembali. Empat tahun bukan waktu yang cepat, pun bukan waktu yang lama. Namun saya rasa empat tahun adalah waktu yang cukup untuk masing-masing kami tumbuh. Saya masih ingat bagaimana malam itu dia benar-benar berhasil membuat saya cengar-cengir tak karuan, hingga menjelang tidur pun, saya bertekad untuk terus bersamanya dan terus menjaganya apapun yang terjadi.

Hari demi hari kami lewati, akhir pekan menjadi waktu yang sangat saya nanti. Walau terkadang, pertemuan dengannya tak berujung menyenangkan. Tak jarang sehabis bertemu dengannya mood saya turun drastis, apa yang dia lakukan tidak seperti yang saya bayangkan saat dalam perjalanan untuk menyambutnya. Satu hal yang saya pelajari bahwa benar, akhirnya yang membunuh kita adalah ekspektasi kita sendiri. Satu tahun bersamanya benar-benar berjalan bak rollercoaster, terlalu banyak cobaan ditahun pertama kami bersama. Merayakan apa yang dikatakan banyak orang sebagai "Anniversary" rasanya hampa, biasa-biasa saja. Selang setahun kemudian barulah semua berubah menjadi lebih baik. Kami perlahan bisa mengerti satu sama lain, mulai menurunkan ego masing-masing, hingga akhirnya di malam itu, malam yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sabtu, 17 Mei 2014. Dia benar-benar membuktikan siapa dia sebenarnya, apa yang dia lakukan tak hanya membuat saya haru namun juga berhasil membuat banyak orang diam dan mulai mengakui keberadannya kembali. Malam itu saya rasa, saya adalah orang yang paling bahagia.

Setahun kemudian, sejak kejadian di malam itu, dia kembali melakukan hal yang sama. Merayakan hubungan kami yang ketiga dengan penuh gelak tawa dan canda. Tidak seperti tahun lalu yang benar-benar di titik tertinggi sebuah perayaan, tahun ini saya namakan menjadi tahun "seattle" dimana kebahagiaan adalah hal yang sudah sering kami dapatkan dan sudah seharusnya seperti itu.

Memasuki tahun keempat, hubungan kami seperti laut yang sedang surut, banyak hampanya. Memang, sesekali ada momen yang membuat hubungan ini terasa membaik namun hal itu tak berlangsung lama. Waktu terus berjalan hingga kami berhasil membawa hubungan sampai usia kelima. Kami merayakan malam itu dengan makan malam sederhana sambil bercerita tentang 5 tahun perjalanan kami bersama. Terima kasih dan maaf menjadi kata yang sangat sering keluar dari mulut kami. Setelah itu kami mencoba lebih baik lagi dan mempertahankan hubungan ini sekuat diri.

Menginjak tahun keenam semua berubah drastis, terjun bebas! Bahkan kami sudah jarang berkomunikasi, hanya saja sesekali mencari tahu apakah baik-baik saja atau sedang ada masalah. Cukup, hanya sebatas itu. Hingga memasuki tahun ketujuh hubungan tak kunjung membaik, sesekali berjumpa namun yang didapat justru kekecewaan. Hubungan ini seperti jalan ditempat. Bahkan, yang saya rasakan justru banyak dukanya ketimbang bahagianya.

Tibalah saya sekarang menginjak usia 8 tahun, menjalani hubungan yang sudah cukup lama atau bahkan kadaluarsa (?), saya mulai menyadari bahwa hubungan ini sudah mulai tidak sehat. Terlalu banyak kesakitan yang saya rasa, dan itu benar-benar menganggu saya. Mencoba intens dengan bertemu tiap malam minggu namun yang didapat justru kekecewaan. Mencoba baik padanya, yang dia tampilkan justru sikap yang seringkali membuat saya geram, mencoba tidak peduli, namun saya tetap ingin tahu bagaimana hari-harinya. Bahkan dipuncak amarah dan kecewa saya, saya tak tau harus berbuat apa. Tiap kali saya ingin lepas darinya rasanya sulit sekali. Dan ya, saya rasa saya sudah terjebak dalam toxic relationship.

Entah bagaimana ini berakhir saya pun tidak tahu. Semoga saya bisa menemukan dia kembali, dia yang saya kenal saat pertama kali menampilkan senyum anggunnya. Toh; "Bila kita menghitung untung-rugi, cinta dan dukungan kita tak kan lagi murni", bukan?

You can change your wife. You can change your politics. You can change your religion. But never, never can change your favorite football team” -Eric Cantona.

Karena cinta memang kadang tak bisa diterima akal sehat, bahkan seringkali mengalahkan logika. Selamat malam Arsenal! Mari, kita lihat seberapa lama kita bisa bertahan.

Minggu, 05 April 2020

Corona: Pengangguran dan Kebosanan


Corona, sebuah virus yang mengubah segalanya. Masih cukup jelas diingatan kita bagaimana pada awalnya virus ini cenderung diremehkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tubuh yang kebal karena sering makan makanan yang tidak sehat, bisa dilawan cukup dengan tolak angin, adalah salah dua kalimat yang sering diucapkan awalnya. Hingga tiba di hari dimana ditemukannya kasus virus ini pertama kali di Indonesia, tepatnya di Depok, barulah semua orang mulai panik. Dan, ya, di sini lah kita sekarang. Melakukan karantina entah sudah di hari keberapa, hanya bisa menatap kosong dinding-dinding rumah, melihat acara televisi dengan tema berulang, sampai cuitan di dunia maya-pun semuanya berisi hal yang sama. Siapa yang menyangka bahwa kita adalah saksi terjadinya karantina umat manusia terbesar yang pernah ada dalam sejarah?

Jika berbicara mengenai virus ini terlalu jauh, semuanya juga pasti sudah muak, begitupun saya. Seperti hal nya sebuah tulisan, paragraf pertama memang biasanya hanya berisi pengantar, ataupun basa-basi tai kucing sebelum masuk ke inti permasalahan. Jadi, intinya, pada tulisan ini, sekiranya ada dua hal yang ingin saya sampaikan dan cukup mengusik saya. Dan dua hal itu memang disebabkan oleh corona sialan ini. Pertama, saya tak habis hati melihat orang-orang yang mulai kehabisan biaya (baca: uang) dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Beberapa hari yang lalu melalui laman twitter, salah satu akun melakukan cuitan yang kira-kira berisi; “Yang lebih mengerikan dari banyaknya jumlah orang yang meninggal akibat virus ini adalah, lebih banyaknya orang yang mengalami pemutusan kerja sepihak. Dan salah satunya adalah saya”. Saya diam sejenak, menghela napas.

Dia bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal demikian. Seringkali saya temukan juga cuitan senada seperti itu. Pemutusan kerja sepihak memang sesuatu yang tak bisa dihindari saat situasi seperti ini. Bagaimana tidak, saat tidak ada pemasukan kas pada sebuah entitas produksi, bagaimana cara dia melakukan pengeluaran untuk membayar gaji para pekerjanya? Jalan pintas yang dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah mengorbankan orang-orang yang berada di level paling bawah dalam sebuah hierarki, yaitu para pekerja kasar. Banyak yang memprediksi hal ini masih akan terus berlangsung. Sampai-sampai banyak sekali himbauan agar tetap berhemat demi menjaga kelangsungan hidup. Beberapa orang mulai kembali bergerak mengeluarkan ijazah, membuat CV, demi melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Persetan dengan social distancing, ga keluar ga makan bos. Dan mereka-mereka yang dikalahkan oleh kota kejam kesayangan ini? Mereka lebih memilih pulang. Tai kucing larangan mudik, yang penting bisa ketemu keluarga, menenangkan diri, dan mulai lagi usaha baru di tanah yang berbeda. Perut tak kenal kawan, apalagi lawan. Yang bisa menjamin kita hidup adalah diri kita sendiri. Dan untuk itu, mari kita doakan para kelas pekerja yang tiap pagi masih harus memacu kecepatannya. Entah untuk keluarga yang menanti, ataupun diri sendiri. Dan untuk mereka yang terkena imbas dari apa yang terjadi ini, semoga semua cepat mereda.

Kedua, kebosanan. Yap, kebosanan adalah kata yang amat menjengkelkan dan tidak bisa kita pungkiri bahwa ia kini telah menjadi kawan akrab. Hal-hal yang biasa dilakukan untuk melepas penat-pun menjadi hilang maknanya saat berubah menjadi kebiasaan. Bermain game, nonton film di website illegal, atau bahkan netflix and chill¸ menjadi sesuatu yang cukup memuakkan sekarang. Saya atau mungkin juga ada beberapa orang yang sepertinya sudah sampai di titik “males ngapa-ngapain tapi kesal karena kebosanan”. Rasanya, hari-hari hanya diisi oleh hal yang sifatnya kebutuhan saja seperti makan, minum, buang air, dan sisanya; “ah pikirin besok aja”.
Jarak memang dibutuhkan, saya setuju akan itu. Bumi Manusia karya Pram itu jika tidak ada spasi di tiap katanya juga tidak akan jadi Best-Seller sepanjang masa Indonesia kan? Lagu terbaik sekalipun jika tidak ada jeda dalam tiap nadanya juga tak akan terasa indah. Dan juga mungkin hubunganmu. Bila tidak ada jarak maka kau tak akan pernah mengenal rindu, bukan? Ah, tapi persetan semua itu. Sampai kapan semua ini? Terlalu lama juga tidak baik, Bung.
Mengandai-andai apa yang akan dilakukan pertama kali saat semua ini selesai, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sorakan orang-orang terhadap intro lagu yang mulai dinyanyikan saat ia kembali bisa menyaksikan band kesukannya, bau khas daging saat kembali bisa merasakan makan “All You Can Eat” bersama teman-teman, pelukan atas terbayarnya rindu yang selama ini membelenggu, atau bahkan teriakan khas supporter Ibukota saat announcer berkata; “Ladies and Gentlemen, Welcome to Gelora Bung Karno Main Stadium”. Ya, kita memang merindukan hal-hal itu. Semoga ini semua cepat berakhir.
Bicara kebosanan mungkin tidak akan ada habisnya dan tidak ada cara yang pasti untuk mengakhirinya. Lagipula, memang sebahagia apa sih kita sebelum semua ini dimulai? Bukankah ujung-ujungnya juga bosan lalu meninggalkan?

Kamis, 05 Maret 2020

Untuk Rifqi

Selamat Malam! Sepertinya kini saya punya kebiasaan baru, yaitu menulis tiap kali selesai melewati sebuah diklat. Sejujurnya saya ingin kembali menulis yang cukup melow, tapi entah kenapa hati berkata untuk; tak perlulah melow-melow, yang senang senang saja. Jadi mungkin, saya hanya ingin berbagi sedikit saja.

Menjelang penutupan Pelatihan Dasar (Latsar) ini, Abang “Senat”ku tercinta, sebut saja namanya Arthur, berinisiatif agar tiap-tiap orang membuat kesan atau pesan kepada 34 orang lainnya (1 kelas terdiri dari 35 orang) yang artinya tiap orang harus menulis 34 kali, juga akan menerima 34 surat untuknya. Tentunya tanpa perlu diberi nama penulisnya. Namun, saya hanya mendapat 31 surat dalam amplop, 1 surat diberi langsung dan 1 surat spesial dari senat idola yang ditotal semua berjumlah 33.

Terus terang ini adalah pengalaman pertama saya. Saya bukan tipe orang yang suka memberi hadiah berserta ucapan kepada seseorang saat, misalnya, menjelang ujian, menyemangati rekan yang sakit, dan sebagainya. Pun, sebaliknya, saya tidak pernah mengharapkan hal itu ketika sedang mengalami situasi di atas. Suatu waktu saya pernah melakukannya, sekali seumur hidup. Itu artinya orang itu memang sangat berarti. Ah kok jadi kesitu, oke lanjut, jadi saat kemarin malam menerima amplop berisi ucapan tersebut, saya bisa mengatakan bahwa saya lah satu-satunya orang yang tidak langsung membacanya saat itu juga. Saat tulisan ini dibuat, saya baru selesai membacanya. Sebab saya ingin merasakan hadirnya emosi itu kembali. Dan, ya, saya mendapatkannya. Untuk itu, izinkan saya menulisnya disini sekaligus memberi reaksi. So, here we go! (disclaimer: ada beberapa kata yang tidak bisa saya baca secara jelas, jadi hanya mengira-ngira saja).

       1.       “Hai motif... udah tau la ya ini siapa... selamat ngantor lagi, semangat OJT + Aktualisasi. Sukses terus...” (Terima kasih, semangat juga fren)

       2.       “Yaelah Ki bingung gua mau nulis apa, samlikum” (Ye biji nangka kaga jelas, kumsalam bang)

       3.       “Kepada: Rifqi, Semangat aktualisasi bro” (Semangat juga buat lau ye)

       4.       “Paling somplak pokoknya kocak, selalu cukur botak, cadel “S” hahaha... Sukses terus Qi...” (Sukses juga buat kamu dimanapun berada!)

       5.       “Qiii lu baik banget sumpe. Sori ni dikit-dikit gua suru-suru wkwkwk. Semangat, lulus bareng!” (Kalem aja fren, amiin dah lulus bareng kite ye!)

       6.       “Semoga yang diinginkan terkabul, sukses selalu, maaf & terima kasih. See u when I see u”. (Sama-sama fren, sukses juga ye)

       7.       “Kesan: Anak Jekardah. Pesan: *pake bahasa korea, ada translatenya: ‘I don’t know’”. (Lah lu aja kaga tau apalagi gua)

       8.       “Tetap tenang dan kuasai” (Hah? Lu ngapa si? Oke dah)

       9.       “Woi, sepertinya aku melihat benih-benih cinta antara kamu dengan salah satu temen kelas. Rifqi absurd banget orangnya, kadang jelas kadang nggak huhu. Semangat bro” (Hehehe biasa anak muda namanya, semangat juga fren!)

      10.   “Sebat dulu ngab biar santuy. Semangat aktualisasinya. Semoga lancar!” (Et kaga baek bang buat kesehatan. Lancar juga ye bang!)

      11.   “Semangat Aktualisasi” (Yaela boy, males banget mikir lu. Panjangin lagi kek elah)

      12.   “Semangat dan sukses selalu ke depannya. Semoga terwujud semua cita dan cintamu” (Amiiin ya Allah, makasih fren. Sukses juga buat kamu yes!)

      13.   “Rifqi, Kurangin gilanya kii, Semangat OJT dan Aktualisasi!” (Mehehe, semangat juga fren!)

      14.   “To: Rifqi Muhammad, Kelas E. Semoga ditempatkan di tempat yang sesuai harapan. Semoga sehat dan sukses terus” (Amiiiiinnn, makasih frenn. Sukses juga buat kamuh)

      15.   “Rifqi, orangnya asik boy” (Yaela coy, iye dah, yaude makasih)

      16.   “Rifqi yang paling anti Cikgu Besar wqwq : )(Duh gimana ya haha)

      17.   “Rifqi, Adiknya tolong dijaga baik-baik ya bang, awas hilang. Ayo semangat satu.... Jangan lupa korve, sukses terus” (Siap, laksanakan. Sukses juga ya Anda!)

      18.   “Hai Rifqi, Nak Jakarta yang asik bet dah. Terima kasih sudah hadir di kelas E dan membawa kelucuan-kelucuanmu dan goyanganmu. Klop banget dah ma Yudi. Jodoh lu. Semangat & Sukses selalu ya! ^^” (Apapun kondisinya kita mesti joget fren! Semangat dan sukses juga!)

      19.   “Hai Rifqi! Gatau mau nulis apaan, jujur bosen lu lagi lu lagi. Besok bakal lebih bosen lagi ketemu tiap hari. Yauda deh sukses aja ya! Ayo semangat siswa!” (Baek-baek kangen lu ama gua. Semangat juga kamu siswi!)

      20.   “To: Rifqi. Bro! Mau ngomong apa ya. Tetap semangat ya, sehat-sehat selalu, ingusnya dikondisikan tolong :v Tetep & selalu kocak ye... Mon maap ni, kalo banyak salah/sikap ku kepadamu! Maafin ye kan. Jangan bosen ketemu aku dikantor, wkwkwk. Semangat qi! See u...” (Amiiiinnn, dimaafin fren. Maafin juga kalo ada salah ye, semangat juga!)

      21.   “To: Ripki Iki. *ada gambar makanan*. Terima kasih dah jadi penghabis makanku di masa krisis makan cepat. Sukses bro, moga cepet sembuh dari diare!” (Sama-sama fren. Selayaknya manusia memang harus saling membantu. Amiiiiinnn!!)

      22.   “Terkadang, sesorang datang dalam hidupmu sebagai berkah dan yang lain sebagai pembelajaran” (Syit! Lu mantep banget. Fyi, pertama kali gua baca kalimat ini gua teriak “anjiiiiiiiinggggg”. Kena banget fren, thanks!)

      23.   “Kamu terlalu picky dan memilih-milih teman. Bahkan masalah tempat duduk doang. But, receh dimanapun adalah hal terbaik dari kamu. Semangat dan keep funny!” (Ya gimana bang, kata pak ustadz bertemanlah dengan orang-orang baik. Semangat juga bang!)

      24.    “Keseringan ngelawak lu njirr. Ciri khas lo yang paling gua ingat kalo bilang “s” jadi “ts”. Semangat aktualisasinya Bro” (Ya gimana ya, lidah impor fren. Semangat juga lu ya!”

      25.   “To: Rifqi. Rifqi goblok, recehhh parss aslee. Kurang-kurangin lah boi tolong inimah. Btw sukses terus kedepannya, Moga penempatannya joss gandos” (Agar semua senang fren. Amiiinn, sukses juga kawan!)

      26.   “Ki, yang aku nangis kemaren jangan ada yang tau ya hehe. Makasih ki, udah mau dengerin keluh kesahku selama ngerjain RPA. Tetap jadi rifqi yang kukenal sekarang ya ki.. Semangat rifqi. See you when i see you” (Gapapa fren, kalo emang perlu menangis, menangislah. Semangat juga! Harus lebih kuat ya, sukses pokoknya)

      27.   “Buat bang Rifqi: Kocak banget si lu, ampe mual gua ketawa mulu. Gua doain abis lulus latsar bisa jadi komedian tukang lawak bang. Sukses selalu brotherhood!! (Tau nih gua siapa. Emang kaga ada akhlak lu ye. Susah susah lulus, capek diklat ini itu, malah doain jadi yang laen lu. Sue bener)

      28.   “Halo Bang Ipqi! Kumismu mengalihkan dunia qu lah pokoknya XD. Monmaap kalo recehku sering bikin ilfeel ahaha Tq selalu bikin ketawa :p. Sukses terus kedepannya ditunggu kabar penempatannya!” (Kalem fren kaga ada yang bikin gua ilfeel sama sekali. Mending ketawa daripada menangis ye kan? Sukses buat lu, jangan korupsi!)

      29.   “Terima kasih udah mau jadi temen kelas w. Wkwk. Walaupun ga minta sih. Terima kasih udah rela denger teriakan, bacotan, dan kegajelasan gue selama latsar. Maapin kesalahan gue yak! Mon maap. Lu harus terus menyayangi Tectano ya. Wkwkwk” (Sama sama kawan, minta maaf juga kalo ada salah ya. Cintaku pada Tectano takkan luntur, tenang saja )

      30.   “Dear Rifqi. Rifqi, aku mau berterima kasih banget karena kamu Latsarku ga terasa hambar. Terima kasih udah mau temenan sama aku. Pokoknya Rifqi yang terbaik! Cepet sembuh mencret-mencretnya! Wkwk. Tetep jadi Rifqi yang selalu buat orang lain bahagia ya! Jangan lupain aku : ( kalo nikah nanti undang-undang aku ya! See you again, Rifqi!!! Big smile from here : ))) “ (Umm.. terima kasih juga sudah mau dihibur, sudah mau temenan, sudah mendoakan. Tenang saja, kamu gabakal aku lupa, I know who you are. Kalo kamu baca blog ini, harus kuat ya! Jangan gampang nangis, jangan mudah menyerah, semangat kuliah lagi! Doain bisa nyusul secepatnya!)

      31.   “Shout out buat temen kelas terluv! Rifqi yang tiap hari sukanya dengerin musik indie plus joged-joged. Bakalan kangen dah gw ama lu yang kocak dan gatau malu : ( Makasih udah bantuin gue ngabisin makan, ngingetin buat gatidur dikelas. Makasi juga buat candanan gajelasnya yang menghiburq untuk kuad menjalani latsar ini. Semangat terus qi! Kamu baik. Sayang deh pokoknya *emot hati 3 kali*” (Ini juga tau siapa, well, terima kasih juga sudah menjadi bagian dari perjalanan gua ini. Maaf kalo suka aneh kelakuannya. Kuat-kuat menjalani hidup ini, harus senang terus dan jangan lupa senyum! Semangat, sebentar lagi sampai)

      32.   “Untuk Rifqi. Bocah Barat. Kalo kenalan kaga nyebut Jakbar, Asu. Adek gue yang selow juga. Tingkatkan terus ke selowan anda. Lancar lancar aktualisasinya, jagain Tectano. Dan semoga penempatan lu NTB, atau ga Batam aja sokin. Seneng bertemu lu intinya. Tetep asoy bergoyang” (Ini dia, satu-satunya orang yang ngasih langsung. Bang Ajis, thank you udah ngayomin kita-kita sebagai adeklu. Gua gatau lu bakal baca blog ini apa engga, yang pasti gua mau bilang makasih aja, udah jadi room mate yang selow, temen goyang, temen ngecengin orang. Intinya lu ngerubah perspektif gua tentang anak BC yang tengil-tengil. Sukses kedepannya!)

      33.   “Rifqi. Terima kasih telah melewati Latsar ini dengan baik! Kurang-kurangin jahatnya ke Tekta. Semoga di kantor menjadi kurvey tetap. Tetap sabar, semangat, ikhlas”. (Bang Arthur, terima kasih udah ngelindungin kami semua. Gabisa ngomong banyak. Jujur, kemaren malem mau nyamperin lu bilang makasih tapi takut ikut nangis juga. Sekali lagi, maafin ya kalo suka bikin barisan ribut gara-gara yang laen ketawa ngeliat kelakuan gua. Sehat selalu dan sukses bang!”

      Kepada Rifqi Muhammad:
      Terima kasih sudah melangkah sampai sejauh ini. Gua tau apa yang abis lu alamin. Kemarau tak berkesudahan sejak akhir Juli itu, kabar tak sedap di awal Desember, tapi lu nunjukkin kalo itu gaada apa-apanya sama sekali. Gua tau lu belom nikmatin hidup di 2020. Terhitung per tanggal 1 Januari sampai 3 Maret ini, lu Cuma punya waktu 10 hari di rumah. Sisanya pergi dari satu diklat ke diklat lain. Terima kasih udah kuat, udah lewatin ini dengan baik. Sedikit lagi sampe ki. Jangan kendor. Setelah ini akhirnya nafas juga. Boleh lah nonton youtube lagi, nyetadion lagi, nge-gigs lagi apapun itu yang bikin lu bahagia. Terima kasih udah banyak ngehibur orang. Tapi inget satu hal. “Sebelum kau menjaga, melindungi, segala yang berarti. Yang sebaiknya kau jaga adalah: Dirimu sendiri”.
  
      Ya, pesan terakhir adalah dari saya untuk saya. 

Minggu, 02 Februari 2020

Temu dan Hilang


Semua sepakat bahwa tidak ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan. Dan kalau saya boleh menghakimi sekali lagi, semua juga pasti sepakat, yang paling menyedihkan dalam sebuah perpisahan bukanlah saat perpisahan itu diucapkan. Melainkan, saat Kamu terbangun dari tidur malammu dan menyadari bahwa pagi ini semua tidak sama lagi. Ada sesuatu yang hilang dari kebiasaanmu melewati hari-hari. Kini, kamu berjalan sendiri.

“Folk Music Festival”, sebuah acara musik tahunan (kini sudah tidak ada lagi) dalam satu waktu pernah membuat sebuah “slogan” yang sampai detik ini sangat saya percayai; “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”. Mungkin butuh beberapa waktu untuk mengerti apa maksud kalimat tersebut, begitu juga saat pertama kali saya membacanya. Ya, kita tahu, hidup memang berjalan seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita tertawa terbahak-bahak, besok, kita menangis tersedak-sedak. Kadang kita menemukan, tak jarang juga kita kehilangan. Perihal menemukan dan kehilangan, hidup kadang selucu itu. Tuhan, kadang sebercanda itu.

Pernah tidak kita menjadi dekat dengan orang yang sebelumnya sangat kita hindari? Hingga saat sudah sampai di titik menjadi dekat itu, kalimat pertama yang muncul adalah; “Sumpah, pertama kali gua liat lu, lu orangnya ga banget, asli. Kesel gua kalo ngeliat lu, tapi sekarang bersyukur banget bisa sedeket ini sama lu”. Ataupun sebaliknya, mereka yang biasa menyapa kita pagi dan malam, menyemangati saat merasa di titik yang rendah, ataupun melakukan hal-hal lainnya bersama, tiba-tiba saat perpisahan itu datang, semua tidak pernah sama lagi.

Rute pagi yang dahulu ceria
Menu favorite kini hambar rasanya
Foto yang tak berani dilirik mata
Kontak sekarang jadi sebatas nama” -Hindia (Untuk Apa/ Untuk Apa?)

Menemukan dan kehilangan adalah hal yang pasti. Untuk itu, manfaatkanlah waktu bersama orang-orang terdekat. Kita tidak tahu apakah pertemuan kita itu adalah pertemuan terakhir. Setelah kehilangan orang yang amat saya sayang beberapa bulan yang lalu, yang memaksa saya untuk menghadapi ini semua seorang diri, perlahan saya bisa beradaptasi. Melewati satu-persatu dengan baik, sampai pada akhirnya berkata pada diri sendiri; “thank you ki, udah berjuang sampe di titik ini. Maju terus ya!”.

Lalu tiba-tiba, entah bagaimana alam semesta bekerja, perlahan saya dipertemukan dengan orang-orang yang menyenangkan. Orang-orang yang membuat saya merasa, bahwa saya tidak sendiri. 2 minggu melelahkan bersama 524 orang kala itu, menghadapi lelahnya hari bersama, membuat saya yakin bahwa; “Yuk boy, kita lewatin sama-sama ya”. Ada tawa, amarah, lelah, juga kesedihan, semua berhasil saya lewati. Ditambah 2 minggu lagi mengikuti sebuah pendidikan dan pelatihan, saya dipertemukan dengan 6 orang yang sebelumnya tak pernah saya kenal. Hingga tiba di malam ke 5 kita mengenal satu sama lain, saya bersyukur bahwa malam itu kita bisa mencurahkan kegelisahan masing-masing. Ada air mata disitu. Saya pertegas; kita, 7 orang yang sebelumnya tak saling kenal, berbincang hingga pagi tentang masalah yang kita alami. Cinta, cita-cita, sampai keluarga. Selepas perbincangan itu kawan, kau tahu, saat selimut telah saya tarik, sesaat sebelum saya memejamkan mata, mata saya sedikit berkaca-kaca, lalu menutup hari itu dengan berbincang dengan yang Maha. “Terima kasih Tuhan, untuk pertemuan dengan orang-orang ini. Saya ga tau apa yang akan terjadi besok, yang terpenting, saya senang Engkau mengizinkan saya untuk kenal dengan mereka.

Terakhir, buat kalian, Da, Pang, Ken, Trid, Nes, Meng, kalo suatu saat nanti (untuk yang kesekian kalinya) saya kehilangan orang yang saya sayang karena kesibukan untuk kehidupan. Entah itu karena cita-cita ataupun cinta. Percayalah, saya di sini selalu mendoakan kalian. Namun kalian pasti juga paham, bahwa merayakan kesenangan, ataupun menertawai kesedihan akan terasa menyenangkan bila kita bersama.

Terima kasih, tenang saja, kita pasti akan berjumpa kembali.