Sembilan belas tahun hidup, saya terbilang sangat
jarang berobat ke dokter. Apalagi semenjak dirawat inap cukup lama (sekitar 2
minggu lebih) saat duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, praktis, saya tak
pernah lagi masuk rumah sakit. Entah mengapa, rumah sakit dan isinya adalah
sesuatu yang membuat saya tidak nyaman. Alih-alih sembuh dari suatu penyakit,
saya justru takut mendengar perkataan dokter ataupun perawat yang tiba-tiba
berkata bahwa ada satu penyakit yang hinggap di tubuh saya dan saya takuti. Itu
sebabnya kenapa saya tidak nyaman. Ya, memang sedikit berlebihan, mungkin ini
juga karena saya termakan siaran televisi yang kerap kali menampilkan sang
dokter memvonis seorang pasien dengan keputusan yang membuat sang pasien lebih
menderita. Bahkan tak jarang, dulu, kekasih lama saya memarahi saya lantaran
tak mau pergi ke dokter walaupun kondisi saya pernah dalam satu waktu sudah
kurang baik. “Tidurin aja lah, besok sembuh insya Allah”, kata saya untuk
meyakinkan dia.
Minggu, 24 November 2019, akhirnya saya kembali
masuk rumah sakit. Untungnya ini bukan rumah sakit yang saya takuti. Ini justru
rumah sakit yang telah lama saya tunggu kehadirannya, dan kata “kembali” di
awal paragraf ini tidak tepat sebenarnya. Sebab, ini pertama kalinya saya
menyaksikan rumah sakit band. Rumahsakit band bisa saya katakan adalah pionir
band indie asal jakarta yang juga memperkenalkan aliran
“britpop” di kancah musik Indonesia. Rumahsakit terbentuk pada tahun 1994 di
Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka mengeluarkan album pertama, self-titled, di
tahun 1998 dan dua tahun berselang, 2000, mereka mengeluarkan album kedua
berjudul “Nol Derajat”. Artinya, saat saya lahir ke dunia ini mereka telah
merilis dua album, salut!
Dikarenakan seringnya manggung, di tahun 2004 rumahsakit
memutuskan bubar. Namun enam tahun berselang, mereka akhirnya berhasil
melakukan comeback-nya. Saat tampil di Bulungan itu, rupanya
antusias para pendengar di luar ekpektasi mereka. Alhasil dua tahun berikutnya
atau tepatnya di tahun 2012, mereka merilis album ketiga mereka yang berjudul
“1+2”. Dan rupanya, album ini merupakan album terakhir dari sang vokalis, Andri
LMS (lemes). Setelah album diluncurkan, Lemes memilih untuk keluar dari
rumahsakit karena memilih jalan hidup yang lain. Ditinggal sang vokalis tak
membuat rumahsakit hancur. Alih-alih meredup, tiga tahun berselang mereka
justru mengeluarkan album ke-4 mereka yang berjudul “timeless”. Dan di sinilah
saya mulai mengenal mereka. Ditambah zaman yang modern, cukup melalui
sebuah platform digital saja saya mudah menemui serta
mendengarkan lagu-lagu mereka. Setelah itu munculah keinginan saya untuk
melihat aksi panggung mereka secara langsung.
kesempatan
untuk melihat rumahsakit secara langsung sudah datang di bulan maret lalu. Namun
karena satu dan lain hal, saya berhalangan hadir dalam acara itu. Dan di hari
ini lah akhirnya saya benar-benar menjadi “pasien”. Dalam rangka merayakan
ulang tahunnya yang ke-25, rumahsakit membuat sebuah konser di M Blok Space,
Jakarta Selatan. Sebuah tempat yang kini sedang digandrungi anak muda Jakarta.
Tempatnya cukup menarik. Saya tiba cukup awal, dan itu memaksa saya untuk
melakukan aktifitas lain agar bisa membunuh waktu. Setelah puas berkeliling,
akhirnya saya memtusukan untuk duduk, beristirahat sejenak. Tak lama saya
duduk, tiba-tiba ada seorang wanita yang tampaknya tak asing bagi saya. Ia
tiba-tiba duduk di depan saya. Agar tidak salah orang, saya memandanginya cukup
lama. Setelah dirasa cukup, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita itu
ialah: Rara Sekar! Vokalis duo syahdu Banda Neira yang di tahun 2016 silam
memutuskan bubar. Saya benar-benar mengidolakannya. Gila! Dia di depan saya!
Perlu kalian ketahui bahwa saya bukanlah orang yang senang mengambil gambar
bersama orang-orang terkenal yang sudah atau pernah saya jumpai. Tapi dihadapan
saya ini ialah mba Rara Sekar. Jantung saya tiba-tiba berdegup kencang. Aih,
entah kapan terakhir saya deg-degan seperti ini. Setelah menimbang-nimbang,
akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta foto, dan hasilnya: ditolak!
“Hai mba Rara, boleh minta foto ga?” kata saya.
“Maaf mau kesitu dulu sebentar”, jawab dia dengan senyumnya yang khas. Saya pun
juga melempar senyuman, lantas duduk kembali disertai mba Rara yang melangkah
pergi dan meninggalkan saya yang sedikit kecewa. Rupanya mba Rara dengan
suaminya mengadakan kelas terbuka yang membicarakan suatu persoalan. Alih-alih
kecewa saya justru tersenyum saat ia tengah memaparkan materinya. “Gila, itu
tadi mba Rara ngomong sama gua, berinteraksi khusus sama gua. Ah ternyata
gaperlu fotolah. Dengan dia berbicara khusus disertai senyum saja itu sudah
lebih dari cukup”. Terima kasih mba sudah mau ngobrol dengan saya! Walaupun itu
hanya satu kalimat dan sebuah penolakan, saya mengerti, kamu tetap idola pokoknya.
Singkat cerita, pukul 19.00 WIB, gerbang
pertunjukan di buka. Saya yang telah menukarkan tiket langsung masuk ke venue guna
mencari posisi yang pas. Hingga pada akhirnya semua personel lengkap di atas
panggung dan mulai memainkan lagu pertama. Pop Kinetik! Pecah sudah kerumunan
massa menyanyi bersama. Saya pun larut dalam euforia. Tak disangka entah di
lagu ke berapa, saya menolehkan kepala saya ke sebelah kiri. Ternyata di
sebelah saya ada Om Jimz! Yes, Jimi Multhazam! Vokaais The Upstairs, Morfem,
Jimi Jazz, serta drummer Be Quiet. Gila ini, biasanya saya menyaksikan aksi
panggungnya sekarang malah bisa sing along sama-sama. Hingga
pada lagu “Kuning”, akhirnya Om Jimi kembali ikut berkolaborasi bersama
rumahsakit setelah sebelumnya juga bernyanyi bersama dalam lagu “Petir, Kilat,
dan Halilintar”. Dan penampilan Om Jimi dengan “Kuning” nya benar-benar pecah.
Alih-alih menjadikan “Kuning” sebagai lagu terakhir, ternyata konser ditutup
dengan lagu “Hilang” ditambah seluruh kolaborator naik ke atas panggung dan
menyanyikan lagu tersebut bersama-sama. Di tengah lagu, lagi Om Jimi kembali
mencuri perhatian; dia melakukan stage diving. Sontak
kerumunan massa bergemuruh. Lengkap sudah konser malam ini.
Selesai lagu terakhir, rumahsakit mengabadikan konser malam ini dengan
berfoto bersama. Saya pun bergegas ke depan. Namun tujuan saya bukan untuk itu,
melainkan meminta stiker kepada crew yang membagikannya ke
penonton. Sayangnya saat tiba di depan stiker telah habis. Massa mulai
meninggalkan venue satu persatu. Sedangkan saya masih dibawah
panggung entah apa yang ditunggu. Tiba-tiba salah satu crew membawa
beberapa kertas yang tak lain dan tak bukan adalah: set list! Saya
pun segera dan memintanya, kali ini tidak sia-sia, saya berhasil
mendapatkannya. Terus terang, sejak keluar rumah pun saya tak mengincar ataupun
sekedar membayangkan bisa mendapatkan benda ini. Sebab saya tahu, pasti banyak
orang yang mengincar benda “sakral” ini. Namun, ya, rezeki tidak kemana.
Sebelum meninggalkan tempat, saya melakukan swafoto dengan salah satu personel
rumahsakit. Lengkap sudah konser malam ini. Lengkap sudah akhir pekan saya kali
ini.
Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-25
rumahsakit! Seperti yang kalian nyanyikan tadi; “jangan biarkan aku jangan,
hilang”. Dan Kalianlah satu-satunya rumahsakit yang dengan senang hati saya
menjadikan diri saya sebagai pasiennya, dan mungkin akan menjadi rumahsakit
yang kedepannya sering saya kunjungi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar