Sabtu, 14 September 2019

(mungkin) Perjalanan Terakhir

Outer berwarna hijau lengkap dengan senyum manis di bibirmu adalah setitik cahaya yang dengan mudah bisa saya temukan diantara kerumunan orang-orang yang larut dalam euforia merayakan hari (yang seharusnya) bahagia sore itu. Tuhan, seperti biasa, dia cantik sekali! Dia benar-benar menyihir saya dengan parasnya.

Sedikit cerita, akhir-akhir ini saya sedang rajin mendengarkan lagu dari "Hindia" yang berjudul "Membasuh". Lagu yang menceritakan tentang keikhlasan, dengan bunga matahari yang menjadi cover dari lagu tersebut. Dan rupanya dihari itu kamu juga memberi saya bunga yang sama. "Supaya masa depan kamu cerah", katamu. Saya mengamini, sekaligus berdoa supaya tidak ada hubungannya dengan lagu yang akhir-akhir ini saya dengar.

Setelahnya seperti biasa, dengan motor tua pabrikan tahun 1995, kita menyusuri jalanan di pinggiran ibukota sambil bercerita tentang hari-hari kita, atau bahkan lebih serius lagi mengenai peristiwa yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini. Sangat hangat. Seperti semangkuk seblak yang sesaat setelah kita sampai segera dipesan karena perut tak bisa lagi menahan. Entah pada perbincangan yang mana, kita sesekali diam. Menerawang jalanan dipusat kota tanpa masing-masing dari kita tahu apa yang sebenernya ada dalam kepala, hingga kita tiba pada suapan terakhir.

Disinilah semuanya dimulai, saat saya antar kamu dan tiba di rumahmu, sebuah tempat yang sangat nyaman dan hangat bagi saya, tiba-tiba kamu mengatakan bahwa tak akan ada lagi kita. Semua sudah selesai. Saya heran, jelas sangat heran. Namun tidak ada argumen kala itu, tidak ada perdebatan, tidak seperti biasanya. "Kamu tidak tahu saya, tidak pernah tau", singkatnya darimu. Saya hanya diam, lalu mengamini. Ya, mungkin benar. Sebab satu-satunya yang kini saya tau darimu adalah saya sangat mengecewakan untukmu. Pada akhirnya pun, saya harus ikhlas bahwa malam itu (mungkin) perjalanan terakhir saya denganmu. Ya, ikhlas. Hal yang belakangan ini sering saya resapi, hal tersulit dalam hidup. Saya harus rela bahwa kamu telah pergi. Oh tidak tidak, bukan pergi, bukan pergi kata yang tepat. Berkelana! Ya, berkelana. Berkelana lah kamu! Terbang sampai ke angkasa, menyelam sampai dasar laut antartika, atau jika perlu tersesatlah di hutan belantara. Disini, saya hanya perlu menunggu, entah sampai kapan.

Sesampainya di rumah, akhirnya kamu mau bicara dengan saya. Selayaknya perpisahan, ada pesan yang pasti diutarakan. Pesan yang terdiri dari ucapan terima kasih, serta kata maaf. Menariknya, di antara pesan perpisahan yang cukup panjang, yang kamu tulis untuk saya, mata saya justru menatap lebih tajam pada pesan kedua yang jauh lebih singkat. Hanya 3 kata: “Hati-hati diperjalanan ki”. Wow! Berkali-kali saya baca kalimat itu. Semoga saya memang benar-benar selamat di perjalanan tanpamu setelah ini, semoga saya tidak hilang arah. Sebab saat pertama kali kita berbincang cukup hangat di warung indomie, di bawah rintik-rintik hujan malam dibilangan wilayah barat Jakarta kala itu, saya seperti menemukan apa yang sangat ingin saya temukan selama ini. Sebab, kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Namun kini semua telah usai. Dan setelah semua ini, semoga suatu saat kita bisa kembali dengan tidak hanya raga, namun juga jiwa yang jauh lebih baik dari ini. Semoga pada satu titik nantinya, bersama, kita bisa melihat ke belakang lalu menertawakan hari ini. Hari yang penuh dengan keegoisan, hari-hari yang dihiasi dengan keras kepala, hari dimana kita masih terlalu muda untuk melakukan semuanya. Dan saat tiba dititik itu, semoga belum ada kata terlambat untuk kita. Hingga pada akhirnya masing-masing kita tiba pada sebuah percakapan,

"Huh, kemana saja sih kamu! Ternyata memang benar, kamu adalah sebaik-baiknya rumah. Maafkan saya yang waktu itu. Walah usang sekali rumah ini, sudah berapa lama saya pergi? Mari kita betulkan! Pelan-pelan saja, mulai dari atap yang bocor itu! Lalu keramik-keramik yang sudah pecah itu! Kita ganti saja dengan yang baru! Setelahnya, mungkin kita bisa membuat sebuah taman dilahan itu, untuk kita berbincang mengenai apa-apa saja yang sudah terlewati. Nanti ku buatkan teh manis untukmu. Seperti biasa, saat kamu berkunjung waktu itu"

Dan kuharap, kali ini teh nya betul-betul manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar