“Anjrit itu nomor 7, kenceng banget
tendangannya”. Kalimat itu secara spontan keluar dari mulut saya, sesaat
setelah pemain Qatar U-19 bernomor punggung 7 melepaskan sepakan keras ke gawang Timnas Indonesia U-19 yang dijaga oleh Muhammad Riyandi. Lepas dari
pertahanan Indonesia yang memang kacau tadi malam, namun harus saya akui,
pemain nomor 7 ini memang sangar bagaikan monster didepan gawang Timnas kita.
Skor 1-4 pun menutup babak pertama. Saya menghela nafas panjang sembari membuka
lini masa twitter saya yang penuh dengan kekecewaan atas buruknya pertahanan
Timnas malam ini. Saat babak pertama, saya terus berteriak lantang. Mulai dari
bernyanyi sampai berujung dengan amarah atas buruknya koordinasi di lini pertahanan
Timnas kita. Saat jeda babak pertama, saya dan kawan saya tak banyak bicara. Hanya memandangi
para pemain melakukan pemanasan.
Kick off babak kedua dimulai,
tribun sektor saya masih terdiam. Saya yang sejak menit 1 sampai babak pertama
usai berdiri, memutuskan untuk duduk saat babak kedua berlangsung. Belum lama
babak kedua dimulai, gol ke 5 hadir untuk Timnas Qatar U-19. Saya yang awalnya
marah, menjadi kecewa sekaligus sedih. Saya yang awalnya berteriak penuh emosi tiap
Timnas kita kebobolan, berubah menjadi tertunduk lesu dan menutup mata. Saya
tak tega melihat teman-teman U-19 ini dipecundangi di tanah sendiri. Kemudian,
tidak berselang lama dari gol ke 5, lewat sisi kiri pertahanan Timnas kita, (lagi-lagi)
pemain nomor 7 itu, menerima through pass
dari rekannya kemudian langsung melakukan sprint yang berujung dengan sepakan
keras yang membuat jala Muhammad Riyandi bergetar untuk yang ke 6 kalinya. Saya
sudah tak sanggup lagi melihat para pemain Qatar berselebrasi, sesaat setelah gol
tersebut, saya hanya melihat kebawah, ke arah ujung sepatu saya. “Balik aja yuk?”
sontak keluar dari mulut saya. Tanpa pikir panjang, kawan saya langsung
meng-iya-kan ajakan saya. Saya benar-benar tidak tega apabila gawang Muhammad
Riyandi kembali bergetar untuk ke 7, 8 ataupun entah itu keberapa kalinya.
Mungkin Anda bisa bilang “Halah, alasan!”.
Tapi percayalah, sebelum ini saya pernah dikecewakan oleh hal yang sama, yaitu
saat Leg-2 Semi-final AFC CUP antara Persija Jakarta melawan Home United.
Persija yang saat itu hanya membutuhkan kemenangan 1-0 untuk bisa lolos ke
Final Zona Asean justru malah gagal yang dimulai dari gol pertama yang terjadi
akibat kesalahan Kiper saat itu. Saat itu saya marah, sangat marah. Namun kali
ini, saya tidak merasakan amarah apapun. Justru yang saya rasakan hanyalah rasa
tidak tega.
Keluar dari Stadion Utama Gelora
Bung Karno (SUGBK) saya tidak langsung pulang. Saya memutuskan untuk duduk-duduk
sembari minum dulu di area luar Stadion. Apalagi malam itu saya pergi dengan kawan
lama saya saat SMP sehingga memutuskan untuk berbincang santai terlebih dahulu.
Tidak lama saya keluar, gol ke 2 untuk Timnas datang. Penonton di dalam
berteriak, kami masih saja berbincang. Tidak lama, teriakan itu terdengar
kembali. Gol ke 3 Timnas Indonesia membuat skor menjadi 3-6. Kami memandangi
satu sama lain lalu mata kami mengarahkan pandangan ke arah yang sama. Kami memandangi
Stadion berkapasitas 70.000-an itu, masih tidak ada percakapan. Setelah itu
kami beranjak menuju tempat dimana saya memarkirkan motor saya. Saat sedang
berjalan, tiba-tiba didalam Stadion tersebut, terdengar lagi teriakan keras.
Ya, skor berubah menjadi 4-6. “Masuk ga?” Saya langsung bertanya. Kawan saya bilang “Jangan”. Hal itu membuat saya kebingungan. “Kalo kita masuk, hasilnya
mungkin bakal beda. Kalo kita tadi gakeluar, mungkin hasilnya gabakal begini”
teman saya meneruskan. Saya langsung berpikir, mungkin benar. Saat ini sebaiknya
memang saya tidak perlu masuk ke stadion itu. Mungkin ini memang sudah takdir
saya untuk tidak menyaksikan pertandingan yang “gila” ini. Saat Anda membaca
kalimat barusan, saya yakin Anda menilai saya tidak jelas, atau bahkan tidak
masuk akal. Namun saya memang percaya itu. Bahkan ada suatu masa bahwa saya
percaya jika saya menonton klub kebanggan luar
negeri saya, pasti hasilnya akan kalah, namun jika saya tidak tonton justru
berbuah menjadi sebuah kemenangan. Oleh karena itu, saya hanya berharap ada
keajaiban saat saya tiba di parkiran motor nanti. Kami terus berjalan sampai
akhirnya sampai di parkiran. Hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa
telepon genggam saya. “5-6! Gila!” saya langsung membuka web streaming. Kami, seorang
supporter yang memiliki tiket, malah menyaksikan pertandingan lewat layanan
streaming disebuah parkiran. Eits, supporter? Duh, kami malu menyebut diri kami
ini sebagai seorang supporter. 10 menit waktu tersisa, Timnas Indonesia terus
memberikan serangan ke pertahanan Qatar. Peluang terakhir dimiliki oleh Luthfi
Kamal, pemain bernomor punggung 7 Indonesia, melalui tendangan bebasnya. Bola sudah
melengkung cantik namun masih bisa digagalkan oleh sang penjaga gawang. Skor tidak
berubah, 5-6 menutup pertandingan. 5 untuk Indonesia, 6 untuk Qatar. Saya
bangga dengan perjuangan Timnas U-19 ini. Saat para pemain Timnas di
eluh-eluhkan bak Pahlawan, kami justru malah malu. Merasa menjadi pecundang
karena meninggalkan saat sedang susah. Saat para supporter lain menganggap ini
adalah pertandingan terbaiknya, kami malah merasa bahwa ini adalah pertandingan
yang akan kami sesali seumur hidup. Tapi percayalah, kami tidak bermaksud
seperti itu.
Akhir kata, terima kasih Garuda!
Terus terbang tinggi ke langit angkasa, beri kabar baik pada Ibu Pertiwi agar ia
tak lagi bersusah hati. Maafkan kami yang telah mengingkari janji bahwa menang,
kalah, dan seri, akan tetap bernyanyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar